
"Bagaimana pemuda? Apakah kau masih berniat untuk mendekati Ratuku, ha-ah!"
Danu sama sekali tidak gentar meskipun makhluk itu menggertaknya. Ia merasa lebih tinggi derajatnya saat ini daripada makhluk itu, jadi untuk apa ia takut.
"Ha ha ha, iblis sebangsamu hanya bisa menggertak, aku bahkan tidak merasa takut akan ucapanmu barusan. Lagi pula Dita adalah manusia sedangkan kau iblis!"
"Dasar manusia tidak berguna!"
Srash!
Makhluk tersebut mencakar wajah Danu. Seketika da-rah segar mengalir dari bekas cakaran tersebut. Akan tetapi beberapa menit kemudian lukanya mengering dan Danu hanya tersenyum menyeringai.
"Lihatlah, bahkan cakaranmu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagiku, memangnya apa yang harus aku takutkan!"
"Kurang a-jar! Beraninya kau menggertakku!"
Danu semakin memancing amarah makhluk itu hingga sesaat kemudian datanglah para rakyatnya. Manusia yang sedari tadi mondar-mandir kini telah menampakkan wujud aslinya.
Sama sekali tidak terlihat seperti manusia karena mereka telah berubah ke dalam wujud asli. Dengan wajah yang sangat menyeramkan dan tubuh penuh bulu, lidah menjulur penuh aur liur yang menetes membuat Danu seketika ingin muntah, namun ia tahan.
"Ada Allah yang bersamaku, bahkan makhluk seperti kalian tidak ada artinya bagiku saat ini."
"Allahu akbar!" teriak Danu.
Sesaat kemudian, tali yang melilit tubuh Danu lepas, hingga ia dengan mudah bisa menyerang makhluk-makhluk itu.
.
.
Sementara itu, meskipun Dita ketakutan, ia tetap mengendalikan dirinya. Seolah ia sudah mendapatkan angin segar saat melihat Kakek Berjubah Putih menunggu dirinya di depan sana. Kekhawatiran yang sempat menderanya dan membuat Dita kalang kabut sirna sudah.
Dina semakin melajukan mobilnya meninggalkan hutan itu, ia sudah tidak tahan ketika ia harus terjebak di dalam dunia lain.
Melihat Rani yang masih pingsan, Dita berniat membangunkannya.
"Ran, bangun kita sudah sampai," seru Dita saat melihat kedatangan Kakek itu.
Rani yang sudah terlelap tidak bisa membuka mata. Kini ia sangat dimanjakan oleh ilusi yang dibuat oleh kakek. Kakek berjubah putih itu memang sengaja membuat Dita mengikuti semua keinginannya dan membuat Rani tertidur dalam waktu yang cukup lama agar ia dapat dengan mudah menolong Dita.
"Biarkan dia di situ, Nak Dita!" seru kakek.
Seolah terhipnotis, Dita hanya bisa menjawab dengan singkat, "Baik Kek."
"Sekarang kamu cepat ikut dengan kakek!" ucapnya kemudian.
Dita mengangguk lalu bergegas keluar dari mobil dan mengikuti kemana Kakek Berjubah Putih itu berjalan. Semakin lama langkahnya semakin mendekati sebuah area pekarangan rumah.
Sampai tiba dimana kakek tersebut sampai pada sebuah bangunan tua, dengan kedua sisi pintu terdapat obor sebagai lampu penerang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, tetapi kakek tersebut tetap melangkah untuk masuk ke dalam bangunan itu.
Anehnya, tidak ada ketakutan sama sekali saat Dita memasukinya. Bahkan harum bunga kembang tujuh rupa yang menguar dari dalam rumah itu hanya membuat Dita menutup hidungnya namun tidak membuatnya gentar.
Bau dupa semakin menyengat ketika ia sampai di depan sebuah tungku perapian. Sementara itu di depan sana ada sebuah meja lengkap dengan kursinya yang berjumlah empat.
"Duduklah, Nak!" ucap kakek tersebut setelah ia menemukan sebuah kursi tua yang berada di depan tungku perapian.
Di hadapan Dita saat ini ada sebuah kuali berisi air putih yang berada di atas meja bundar. Kakek tersebut menyuruh Dita untuk meminum air itu.
"Minumlah jika kamu memang membutuhkan bantuanku!"
Saat Dita melihat isi dari kuali tersebut ia terperangah.
"Bagaimana bisa ada bayangan Danu di dalam kuali?"
"Lalu kenapa tubuhnya terikat di sana? Jangan-jangan suami-suamiku terdahulu juga diperlakukan sama seperti itu, padahal aku dan Danu tidak ada hubungan spesial sama sekali, kenapa dia?"
Apalagi ini adalah sebuah bangunan tua tanpa penghuni. Pikiran Dita semakin berkecamuk saat melihat hal tersebut. Sementara itu kakek itu masih memandangi Dita dari tempatnya berdiri.
"Apakah ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Kamu mengenal pemuda tersebut?" Kakek menunjuk ke arah kuali di depan Dita.
Dita kembali mengangguk.
"Dia kini sedang berada di dalam dunia lain. Rohnya dipaksa keluar dari jasadnya dan raganya kini sudah diisi dengan roh yang lain."
Dita menatap ke arah kakek itu dengan rasa tidak percaya. Bagaimana mungkin Danu terlibat dalam hal supranatural seperti ini.
"Pasti kamu ingin tau siapa yang melakukan ini semua?"
Dita mengangguk lalu menanyakan kegundahan hatinya, "Si-siapa, Kek?"
"Dia adalah putra raja jin, sejak kamu berada di dalam kandungan ibumu, ia sudah mengincarmu."
Kakek tersebut membalikkan tubuhnya membelakangi Dita. Lalu melanjutkan ceritanya.
"Kenapa harus aku, Kek?"
"Itulah salah satu keistimewaanmu, Nak. Aroma harum tubuhmu sangat disukai bangsa jin dan lelembut. Apalagi kamu terlahir dengan tanda spesial di dalam tubuhmu."
"Lalu?"
"Karena mereka tidak suka kamu dimiliki oleh lelaki lain, maka mereka mulai menyakiti para laki-laki yang berusaha dekat denganmu, termasuk lelaki yang kamu lihat di dalam kuali tersebut."
"Jadi inikah alasan kenapa Danu terikat di dalam dimensi lain, sehingga ia tidak pernah terlihat kembali ke dunia manusia. Lalu untuk apa aku datang ke sini?"
"Tentu saja untuk membantunya keluar dari sana."
"Tapi apakah aku bisa?"
"Tentu saja, karena laki-laki yang kamu lihat di dalam kuali itu adalah orang baik."
"Loh, darimana kakek tahu jika lelaki ini adalah orang baik."
"Tentu saja aku bisa mengetahuinya, kamu tidak perlu tahu."
Dita mengangguk setuju asalkan ia bisa membantu Danu keluar dari sana itu sudah lebih dari cukup.
"Baiklah Mas Danu, aku akan berusaha untuk membantumu keluar dari sana, meskipun nyawa menjadi taruhannya," ucap Dita dengan mantap.
Dita memandang ke arah kakek tersebut lalu mulai berbicara kembali.
"Lepas bajumu itu!"
"Ha-ah?"
Kakek tersebut melemparkan sebuah kain jarik sidomukti beserta baju kebaya lengkap.
"Pakai dan kita segera lakukan ritual ini!"
Meskipun Dita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, ia tetap mengikuti perintah kakek itu. Dita bergegas berganti baju ketika kakek berjubah putih tiba-tiba saja menghilang.
"Lah, kemana kakek itu pergi? Ah, biarkan saja, sebaiknya aku segera berganti baju."
Setelah beberapa saat, Dita sudah selesai berganti baju. Sedangkan kakek itu sedang mempersiapkan hal lain di ruangan sebelah. Malam itu juga ia akan melakukan ruwatan kepada tubuh Dita dan semoga saja hal ini akan berhasil.
Sementara itu, Danu masih berusaha menyerang dengan seluruh kekuatan yang ia punya. Dengan diiringi doa dan ilmu bela diri yang dimiliki Danu ia terus berjuang. Doa-doa dari Nenek Romlah menyertai usaha Danu di alam lain.
"Sebentar lagi, penolongmu akan datang, Nak. Bertahanlah!"
.
.
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini.