Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 52. DIGANGGU


Siapapun yang berani bermain dengan dunia lain, maka jangan salahkan dia jika mereka menyukai kehadiran kita. Begitulah dengan nasib Clara setelah ini. Hihihi ....


Aroma menyengat itu sangat menusuk hidung Clara dan juga Mbah Saijan, sang dukun. Niat hati ingin mengakhiri penderitaan sang adik, namun hal lain justru sedang bersiap untuk mengusik wanita cantik yang bernama Clara tersebut.


Makhluk yang dipanggil Mbah Saijan bukanlah 'Dia' yang selalu bersama Dita, melainkan makhluk lain. Mereka memang serupa, tetapi tidak sama dan berbeda misi. Jika yang bersama Dita adalah sudah digariskan bersama Dita, namun makhluk satu ini sangat suka menjahili orang-orang yang tersesat hatinya.


"Cantik sekali, sepertinya menjadikannya sebagai calon pengantinku tidak mengapa," gumam makhluk tersebut.


Dia tersenyum menyeringai, bersiap untuk menjebak manusia di hadapannya kali ini. Manusia yang memilih jalan sesat daripada berserah diri kepada Tuhannya. Terlebih lagi persembahan yang dibawakannya merupakan sesajen 'spesial' di kalangan jin.


Suara tawa yang terdengar menggelegar, tubuh yang tinggi dan aura magis yang sangat besar membuat semua makhluk di sekeliling tunduk dan patuh padanya. Termasuk Mbah Saijan dan Clara.


Tubuhnya menembus atap gubuk tersebut, karena untuk melahap sesajen tersebut, ia pun membungkuk. Wajahnya hampir menyentuh wajah Clara. Lidah yang menjulur penuh air liur menetes itu hendak men-ji-la-ti wajah cantik Clara. Hembusan nafasnya membuat tubuh meremang dan bergidik ngeri.


"Katakan apa yang kalian inginkan! Sampai kalian berani melakukan persembahan seperti ini!" gertak makhluk tersebut seolah marah.


Padahal kenyataannya ia sangat suka akan persembahan tersebut. Apalagi terhadap orang yang melakukan persembahan tersebut. Dalam hati Clara, ia takut jika makhluk itu marah karena ada syarat yang kurang.


"Apakah persembahannya ada yang kurang?" batin Clara.


"Ma-maafkan saya, Mbah. Jika ada yang kurang dari persembahan ini, maka ampunilah kami!" ucap Mbah Saijan dengan menunduk.


Meskipun ia tahu jika makhluk tersebut bukan yang ia maksudkan untuk hadir, Mbah Saijan tidak mau mengatakan hal itu pada Clara. Selama imbalan yang ia dapatkan sesuai dengan resiko di depannya.


Clara yang notabene tidak percaya akan hal mistik hanya merasakan ketakutan sebentar saja. Padahal makhluk tersebut sudah mengendus leher Clara dengan lidah menjulur dan penuh air liur. Mata merah menyala dan sosoknya tinggi menjulang.


"Cepat katakan apa maumu!"


"To-tolong lepaskan jerat jin yang membelenggu jiwa pemuda di hadapan hamba ini."


"Ha ha ha ... baiklah, asalkan wanita di belakangmu itu mau menjadi selirku!"


Mata Clara membelalak tajam, apa yang ia takutkan terjadi. Ia terbiasa mendengar cerita teman satu profesinya di Rumah Sakit yang sering menceritakan hal seperti ini. Hingga saat ini dialah yang mengalaminya sendiri.


"Ternyata ucapan mereka sungguh ada, aku kira mereka hanya membual dan membuat sensasi."


"Maukah kau menjadi pengantinku?" ucap makhluk tersebut.


Clara yang mendengar hal tersebut seolah tersihir lalu mengiyakan pertanyaan itu. Entah kenapa hal yang seharusnya tidak terjadi akhirnya terjadi. Sementara itu tubuh Sam masih tergeletak di atas dipan. Entah ia akan sembuh atau tidak, akan tetapi hal tersebut belum bisa dipastikan saat ini. Karena bagaimana pun ia bukanlah penunggu tubuh Dita.


.


.


"Bu, apa sikap Dita tadi sangat memalukan?"


"Apa maksud pertanyaanmu barusan Dita, kenapa rasanya terdengar sangat aneh."


Dita tidak mau melanjutkan pertanyaanya tadi, karena sudah pasti kedua orang tuanya saat ini sedang dalam keadaan marah kepadanya. Namun, ia tetap penasaran dengan tingkahnya tadi di mata orang banyak. Padahal ia mengalami hal yang lebih menakutkan dibanding cemooh dari ibu-ibu pengajian tadi.


Dita memalingkan muka dan mengalihkan perhatiannya dengan melihat pemandangan di luar mobil. Saat ini mereka masih memasuki hutan, baru setelah hampir empat puluh lima menit kemudian mereka baru akan sampai rumah.


Namun, belum sempat mobil melaju masuk lebih dalam, ada seseorang menghentikan mobil mereka. Nampaknya ia sedang kesusahan dan ingin meminta tumpangan bagi mereka.


"Serius, nggak apa-apa, Non?"


Dita mengangguk, lalu mobil mereka berhenti. Ayah Dita mengarahkan situasi di dalam mobil yang tiba-tiba saja sangat gelap.


"To-tolong!" seru lelaki tua tersebut sambil menggedor pintu.


"Bapak, jangan buka pintu!" larang Dita.


.


.


Sambil nunggu up, silakan mampir ke teman literasi Fany. Ditunggu like n komennya bestie😘