
Setelah mendapatkan banyak wejangan dari keluarganya, Fano sudah merasa lega. Setidaknya saat ini tidak ada lagi yang bisa menghalangi keinginannya, justru mereka mendoakan hal-hal yang terbaik untuk Fano.
Begitu pula dengan Dita. Perlahan-lahan tubuhnya sudah jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya. Suasana rumah yang semula mencekam kini perlahan sudah mulai terlihat nyaman.
Satu jam lalu, Tuan Handoko juga sudah berhasil kembali pulang ke rumah. Disambut dengan isakan tangis sang istri, Tuan Handoko tampak mengusap lembut kepala Nyonya Sekar.
Senyum Dita merekah ketika ia melihat kedamaian keluargannya sudah mulai kembali. Mbok Nem menepuk bahu Dita agar tersadar dari lamunannya.
"Den Ayu mau gorengan? Kalau iya Simbok buatkan."
Dita tersenyum ramah, "Boleh, Mbok, bawa saja ke gazebo di halaman belakang. Saya ingin bersantai di sana."
"Baik, Den Ayu."
Dengan segera Mbok Nem berbalik badan dan menuju dapur. Ia tampak sibuk meracik beberapa bahan yang akan digunakan untuk membuat gorengan pagi itu.
Suasana dapur yang rapi dan bersih kini terlihat berisik meskipun yang menggunakan tempat itu hanya Mbok Nem seorang. Meksipun begitu, semua pekerjaan rumah berhasil dihandle sempurna olehnya.
Dita pergi ke gazebo belakang rumah dengan membawa laptop miliknya. Ia ingin membuka aplikasi sosial media yang sudah lama ia tinggalkan. Meskipun isinya hanya sekedar menyapa teman-teman lama atau sahabat dunia maya tetapi hal itu membuat hati Dita menghangat.
"Ternyata mereka masih mengingatku?" gumam Dita.
"Akhirnya aku merasa terlahir kembali."
Secara tidak sengaja tangan Dita mengusap layar di depannya tersebut hingga muncul foto dirinya bersama Rani.
"Rani, aku tidak menyangka jika hidupmu akan berakhir tragis seperti ini."
"Banyak waktu dan kenangan yang telah kita habiskan bersama."
Namun, kejadian beberapa hari yang lalu, telah menorehkan luka di hati Dita. Persahabatan yang mereka jalin beberapa tahun kini hancur sudah karena jalan yang dipilih oleh Rani bertentangan.
"Aku tidak pernah menyangka jika kamu bisa salah jalan seperti ini Rani. Andaikan kamu bisa bersabar sedikit saja mungkin hal ini tidak akan terjadi padamu."
Sosok Rani tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Dita. Seburuk apapun kenangan yang ditorehkan olehnya tidak bisa menghapus persahabatan yang terjalin di dalam hatinya. Rani telah banyak membantunya, tetapi Dita justru belum pernah membalas budi untuknya.
"Dulu kamu berjanji akan menemaniku menghabiskan waktu dan menjalani takdirku. Akan tetapi justru kamulah yang pergi meninggalkanku terlebih dahulu. Sama seperti para mendiang suamiku yang telah meninggal."
Tidak berapa lama kemudian terdengar deru suara mobil yang berhenti di halaman rumah Dita. Nyonya Sekar dan Tuan Handoko menoleh ke arah jendela.
"Siapa yang datang?"
"Entahlah, tidak mungkin juga yang datang adalah rekan bisnismu 'kan, Pak?"
"Ya jelas tidak mungkin, Bu. Mana mungkin mereka datang ke sini."
Nyonya Sekar terkikik karena ucapannya sendiri.
"Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Mbok Nem."
"Memangnya apa yang dikatakan Mbok Nem?"
"Beliau mengatakan jika kita lebih baik pindah dari tempat ini. Setidaknya di sebuah kompleks yang ramai dengan penduduknya, tidak di tengah perkebunan teh seperti ini."
"Itu perkataan dari Mbok Nem atau keinginanmu sendiri?"
"Terserah Pak, kamu mau percaya atau tidak!"
"Yang jelas itu tadi hanya unek-unek yang disampaikan oleh salah satu pekerja yang bekerja di rumah kita. Mau percaya atau tidak itu adalah hakmu!"
Tuan Handoko merasa aneh dengan sikap istrinya yang mudah marah.
"Kok tumben-tumbenan sih dia jadi suka marah-marah? Memangnya selama aku pergi terjadi kejadian apa?"
Ingin sekali Tuan Handoko bertanya pada istrinya tetapi langkahnya tidak keburu untuk menyusulnya.
"Aish, melelahkan sekali melihat istri marah!'
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam, silakan masuk, Mbak."
"Terima kasih."
Terlihat Fano, Nyonya Kirana dan juga suaminya datang ke rumah Tuan Handoko. Dari gelagatnya Nyonya Sekar bisa mengetahui jika mereka datang untuk melamar Dita.
Tidak berselang lama, ternyata Tuan Handoko muncul di ruang tamu. Awalnya ia juga terkejut dengan kedatangan keluarga besar Fano. Namun, setelahnya ia bisa mengerti jika mereka datang dengan sebuah tujuan.
"Silakan duduk, wah tumben sekali bisa bersilaturahmi ke sini?"
"Iya, nih. Karena kami merasa tidak enak dengan kejadian tempo hari, maka dengan hati yang tulus kami datang kemari untuk meminta maaf kepada Keluarga Handoko dan juga Dita."
"Hei, kejadian itu sudah terlalu lama, jadi untuk apa diungkit kembali?"
Nyonya Kirana tersenyum lalu menoleh ke arah Fano.
"Oh, ya Tante, Om. Maaf apa Anindita ada?"
"Ada, dia sedang bersantai di halaman belakang."
"Kalau kamu mau ketemu, susul aja nggak kenapa-napa, kok."
Fano tersenyum lalu mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi mau menyusul Dita."
"Iya, silakan saja, Nak Fano."
Saat ini Dita sedang memandang hamparan perkebunan teh di hadapannya. Tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan selain melihat warna hijau yang membentang luas di area perkebunan.
Udara sejuk yang mengalir membuat ketenangan sendiri bagi Dita. Oleh karena itu Dita sangat menyukai hunian di puncak.
Lamunan Dita terhenti ketika mendengar derap langkah kaki seseorang yang berjalan ke arahnya. Sontak Dita menoleh ke belakang ketika namanya dipanggil oleh sosok yang sangat familiar.
"Anindita? Ternyata kamu di situ?"
Dita begitu terkejut dengan kedatangan Fano yang tiba-tiba, apalagi tanpa permisi ia sudah duduk di sampingnya. Tentu saja dengan begitu Fano bisa melihat apa yang sedang Dita kerjakan saat itu.
"Assalamu'alaikum," sapanya ramah.
"Wa'alaikumsalam, Mas Fano?"
Fano tersenyum ramah, "Maaf jika kedatanganku mengagetkanmu. Lagi pula aku hanya sedang jalan-jalan saja di sekitar sini makanya mampir.
"Oh, lalu apa Mas Fano datang sendiri?"
Fano menggeleng, "Tidak, aku datang sama Mama dan Papa. Saat ini mereka sedang berbincang-bincang di ruang tamu."
"Oh."
"Kok dari tadi jawabannya cuman "Oh" aja emangnya aku datang ke sini mengganggu, ya?"
"Terganggu sih, enggak. Cuma sedikit terkejut aja karena nggak biasanya kamu datang ke sini. Apalagi jarak rumah kita tidak terlalu dekat, dan juga membutuhkan banyak waktu untuk sampai di sini."
"Benar saja, oh ya mau minum apa, biar aku panggilkan Mbok Nem saja.'
"Nggak usah, aku nggak terlalu haus. Aku cuma pengen duduk di sini saja apakah nggak boleh?"
"Loh, kata siapa nggak boleh, justru yang nggak boleh adalah sikap berhutang, bukannya karena melihat dirimu yang merupakan orang kaya jadi tidak bisa bertindak semau kamu."
"Oke, oke, aku nurut! Yuk jalan! Lagi butuh teman, nih!"
"Oke kalau begitu, aku berganti baju dulu, oke."