
Melihat Juna sudah siuman, Nyonya Sinta sangat berterima kasih pada Dita. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain bisa bersama Juna dan bisa melihat kesembuhannya.
"Terima kasih Dita, Ibu sangat bahagia atas kedatanganmu kali ini," ucap Nyonya Sinta tulus.
"Terima kasih juga karena telah membuat Juna siuman."
Nyonya Sinta memeluk tubuh Dita dengan penuh kasih sayang, tetapi rupanya hal itu memercik api kecemburuan di hati Sam. Entah kenapa Sam seolah tidak suka jika Dita bersama keluarga lain.
"Meskipun pertunangan kalian sudah dibatalkan tetap saja tidak membuatku bahagia."
Sejak awal Sam memang tidak suka melihat kedekatan Dita dengan Nyonya Sinta. Apalagi setelah Sam tahu jika sebelum ini, Dita pernah pernah dicalonkan sebagai calon menantu di keluarga tersebut. Beruntung saat ini rencana pertunangan mereka di batalkan.
"Kenapa mereka terlihat dekat sekali, apa tidak bisa ya, memilih calon menantu selain Dita, bagaimanapun caranya Dita hanya bisa menikah denganku," gumam Sam.
Rani yang melihat gelagat aneh dari Sam hanya bisa terdiam dan terus menjaga emosi. Sebenarnya ada sedikit ketakutan di sana. Ia bisa melihat jika Sam sedikit temperamen. Maklum sejujurnya Rani bukan orang yang pandai menahan kepo atau emosi jiwa.
Lamunan Rani hilang ketika pembantu di rumah itu datang. Ternyata Mbok Yem datang membawa ramuan yang diminta oleh Dita. Ramuan tersebut berisi satu gelas air kunyit yang akan diberikan pada Sam.
"Dita, itu minuman buat teman kamu," ujar Nyonya Sinta sambil menunjuk ke arah Mbok Yem.
"Terima kasih, Tante."
Setelah Mbok Yem mendekat, Dita mengambil segelas air kunyit tersebut lalu ia menghampiri Sam yang terlihat bengong sejak tadi.
"Nah, ini minumannya buat kamu Sam, minuman ini cocok buat penyembuhan luka bekas gigitan ular kemarin, masih anget ya, jangan protes!"
"Makasih banyak Dita, aku minum, ya."
Dita mengangguk, selama Sam meminum air yang diberikan padanya. Matanya seolah menangkap sosok yang sedari tadi mengikuti mereka. Bayangan hitam tersebut seolah-olah memperhatikan ke arah Dita berada, tetapi ia tidak pernah mendekati Dita.
Sam merasakan hawa panas menyerang tubuhnya. Pikirannya semakin dipenuhi dengan hadirnya Anindita.
Entah sejak kapan rasa obsesi di hati Sam untuk Dita semakin besar. Banyak yang datang dan mendekati keberadaan Sam, namun ia abaikan.
Hati Sam seolah sudah terpaut dengan Dita sejak dulu. Namun, di luar dugaannya setelah ia kembali ia mendapati jika Dita sudah menjadi janda kembang. Bahkan di hari pertama dia bertemu dengan Dita, ia sudah diberi tanda peringatan oleh alam. Hanya saja, sepertinya Sam mengabaikan hal tersebut.
Bekas gigitan ular tersebut mengingatkannya jika ia harus lebih waspada saat ini. Akan tetapi sepertinya Sam belum menyadarinya dan hanya berasumsi jika hal tersebut hanyalah kebetulan biasa.
"Gimana, sudah enakan?"
"Sedikit."
"Kalau teman kamu belum pulih, sebaiknya kamu istirahat dulu di sini, Dita. Kasihan biar ia istirahat di kamar tamu terlebih dahulu.
Dita terlalu takut jika ia lebih lama di sana, akan membuat hati Juna semakin tidak bisa melepasanya. Ini saja sudah terlalu lama mereka di sana. Lagi pula ibunya juga telah berpesan agar Dita tidak menginap.
"Terima kasih untuk kebaikan hatimu melepas Juna. Semoga kamu mendapatkan jodoh terbaik, Dita."
"Aamiin, terima kasih Tante. Begitu pula dengan sebaliknya, semoga Juna segera sembuh dan mendapatkan pengganti saya."
"Aamiin."
Juna memang tidak keluar dari kamar karena kondisinya. Hal itu menimbulkan asumsi jika ia benar-benar sakit keras. Cerita tentang rencana pertunangan Juna dan Dita yang baru saja dibatalkan oleh Dita membuat Sam tersenyum. Setidaknya masih memberikannya kesempatan.
"Memang sejak lahir, Dita adalah jodohku, jadi jika nanti kalian memang tidak berjodoh dengannya, maka Dita memang ditakdirkan untuk menikah denganku," ucap Sam di dalam hati.
Hari semakin menunjukkan waktu petang. Tidak mau terjebak untuk kedua kalinya di hutan yang sama membuat Dita ingin segera pamit. Setelah cukup berbincang, Dita dan kedua temannya pamit.
"Karena hari semakin sore, kami pamit terlebih dahulu, Tante."
"Loh, serius ini kalian tidak ingin menginap?"
Dita tersenyum kaku, begitu pula dengan Rani dan Sam. Sehingga mau tidak mau Nyonya Sinta mengijinkan saat Dita memaksa pulang. Akan tetapi sebelum Dita pergi, Nyonya Sinta memberinya sebuah kantung berwarna merah.
"Apa ini, Tante?"
"Masukkan benda ini ke saku kamu, simpan baik-baik, jangan sampai ada yang tahu."
"Kamu memegang kemudi, kan?"
Dita mengangguk.
"Karena ini sudah memasuki waktu senja, nggak baik sebenarnya melewati hutan tersebut, tetapi jika kamu memaksa maka bawalah benda ini dan taruh di tempat yang Tante suruh!"
Seketika otak Dita terkoneksi dengan baik.
"Apakah hal ini berkaitan dengan hal-hal yang terjadi semalam?"
"Dit, ayo!" teriak Rani dari dalam mobil.
"Sudahlah, dari sini Tante juga sudah mendoakan perjalanan kalian. Hati-hati, ya."
Dita mengangguk dan tidak lupa berterima kasih. Akhirnya, di waktu senja itu Dita kembali ke kota.