Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 177. BERTEMU SOSOK NYAI


Sekuat tenaga, leluhur Dita berhasil membawa cucunya keluar dari alam ghaib. Hanya saja ketika ia menyadari formasi dari mereka masih belum lengkap, dengan terpaksa ia harus kembali lagi ke alam ghaib.


"Kenapa aku bisa melupakan keselamatan Mbok Nem?"


Tangannya mengepal menahan gejolak di dalam hatinya. Merutuki kemampuan otaknya yang semakin menurun karena termakan usia.


"Maafkan aku ya, Cu. Mbah harus segera pergi saat ini!"


Beliau memandang tubuh cucunya sebelum pergi. Lalu sekilas sosok penghuni rumah itu menyambut kedatangannya kemudian.


Belum sempat ia pergi, tercium aroma harum bunga melati yang sangat wangi dan menusuk ke dalam hidung. Sejenak ia menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan jika dirinya tidak hanya sendirian di rumah itu.


Seorang wanita dengan pakaian adat Jawa lengkap dengan kain jarik dan kebaya tampak menyambut kedatangan Dita. Padahal pada dasarnya hanya tubuh Dita yang kembali karena arwahnya justru masih terkunci di dalam alam ghaib.


"Harusnya aku tahu ada yang salah akan hal ini," gumam penunggu rumah.


Namun, ia tetap menyambut kedatangan tamunya itu. Meski sudah sering datang, tetapi selama ini leluhur Dita sama sekali belum pernah bertatap muka dengan dirinya.


Sosok wanita itu tampak tersenyum ke arah leluhur Dita.


"Selamat datang, Nyai. Kenapa tidak masuk terlebih dahulu. Bukankah sebaiknya bertegur sapa untuk sesaat sebelum kamu pergi?"


"Terima kasih, Nyai. Maaf untuk ketidaksopanan saya barusan. Sudah beberapa kali ke sini tetapi justru tidak pernah minta ijin terlebih dahulu, maafkan saya."


"Tidak apa-apa. Silakan masuk, ada sesuatu hal yang harus saya sampaikan kepada Anda."


Kening leluhur Dita mengeryit, merasa jika ada sesuatu yang sangat penting maka beliau pun segera mengikutinya. Sosok tersebut mengajaknya untuk duduk bersama di sebuah gazebo.


Leluhur Dita sangat ingat dengan gazebo ini.


"Ternyata sepertinya ia memang selalu penjaga Dita. Hm, sangat menarik."


Sosok tersebut menoleh, "Mari kita menyatukan kekuatan kita untuk menyelamatkan cucu kita."


Tentu saja leluhur Dita mengangguk setuju. Ia tahu jika kekuatannya kali ini sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan sosok yang merajai dunia lain.


"Ini bukanlah sesuatu yang bisa kamu hadapi sendirian. Semua ini terjadi karena dendam."


"Maksudnya, Nyai?"


"Sosok ini dulunya sahabat Dita, dia juga pernah datang kemari saat masih menjadi manusia seutuhnya. Akan tetapi karena sesuatu hal maka ia berada di jalan yang salah."


"Lalu apa yang harus saya lakukan, Nyai?"


"Terserah, yang terpenting aku akan mengiringi langkahmu saat kembali masuk ke dalam alam ghaib. Ingat yang kamu bawa kembali hanyalah jasad, sementara arwahnya masih terpenjara di dalam sana. Berdzikirlah setiap waktu agar kamu selalu diberikan jalan yang terbaik."


"Ba-baik, Nyai. Maafkan tindakanku yang mendahului."


"Tidak mengapa, masih ada waktu saat ini. Cepatlah bergerak pergi. Waktumu hanya sampai sebelum fajar menyingsing. Paham, selepas waktu itu maka arwah Dita tidak akan bisa kembali lagi."


"Ba-baik, kalau begitu saya permisi."


"Berhati-hatilah, semoga apa yang menjadi tujuanmu segera terkabul. Aamiin."


Dalam sekejab leluhur Dita sudah sampai di alam ghaib tadi. Sebagai penuntun jalan, sosok penunggu rumah Dita datang dan menerangi jalan leluhur Dita.


"Masuklah, aku akan menunggu di sini! Ingat pergunakan waktu sebaik mungkin dan semaksimal mungkin!"


"Baik, Nyai. Saya permisi."