Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 132. KETULUSAN HATI FANO


Merasa tidak terima Dita menikah dengan laki-laki lain selain dirinya, membuat Fano tidak gelap mata. Namun, sebagai bentuk kekesalannya ia akan menyerang perusahaan milik Keluarga Setiawan.


"Jika aku tidak bisa mendpatkan Dita saat ini, maka akan aku buat Dita datang sendiri kepadaku."


Baginya sangat mudah mencari celah dari perusahaan kecil itu. Kini ia mendapatkan sebuah informasi yang sangat menguntungkannya. Sebuah fakta yang diberikan asistennya membuat Fano mengulum senyum.


"Jadi benar, sesuai dengan dugaanku Tito sebenarnya sudah ma-ti?"


"Tunggu dulu, jadi Dita menikah dengan hantu?"


Fano tergelak sambil tersenyum miris. Entaj kenapa ada rasa tidak rela saat mengetahui hal itu. Akan tetapi Fano tidak akan membiarkan hal ini lama-lama.


Kini Fano berdiri dan memandang hamparan pemandangan kota dari tempatnya berdiri.


"Akan aku bawa fakta ini dan aku tunjukkan kepadamu, Dita. Lalu setelahnya kau bisa menjadi milikku," ucapnya penuh rasa percaya diri.


Memang benar, terkadang cinta itu bu-ta. Hanya saja jika kita bisa menekan ego untuk sesaat, kita bisa menemukan beberapa kemungkinan fakta-fakta baru yang mengejutkan dan mungkin saja hal itu bisamembantu kita dalam mendapatkan tujuan kita.


Setelah memastikan semua jadwal sesuai dan tercatat rapi di ponselnya, kini Fano siap pergi ke rumah Dita. Lagi-lagi ia tidak menyadari jika waktu telah memasuki senjakala. Sebuah waktu yang kadang bisa membawa kita berjalan ke dimensi lain karena keluar di waktu ter-la-rang.


Tanpa melihat arloji di tangannya, Fano melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan menuju rumah Dita. Ia baru menyadari jika laju mobilnya tidak seperti biasanya. Di jok belakang seolah ada seorang wanita yang ikut menumpang di dalam mobilnya.


Padahal ia ingat betul saat ia berangkat tadi sama sekali tidak ada seorangpun yang ikut dengannya. Terlebih sang asisten tadi minta ijin pulang cepat karena sakit perut.


"Kenapa seperti ada yang duduk di jok belakang?" gumam Fano sambil bergidik.


Tiba-tiba suasana mobilnya menjadi 'anyep', padahal ia menyalakan musik sebagai teman perjalanan. Rupanya hal itu tidak mengurangi rasa sepi yang melanda.


"Apakah ada makhluk lain yang ikut bersamaku, sial. Sepertinya aku melupakan sesuatu."


Bersamaan dengan itu, sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib.


"Sepertinya aku harus menepi terlebuh dahulu," gumamnya.


Beruntung tidak jauh dari tempatnya ia melihat sebuah masjid, ia pun menepikan mobilnya ke arah masjid. Lalu setelahnya ia segera mengambil air wudhu dan ikut berjamah sholat maghrib.


Selepas sholat, rasa beban di pundaknya tadi berangsur hilang. Seolah tidak ada yang membebaninya lagi. Sejak ia mulai merasakan ada makhluk lain di mobilnya, bahunya mulai terasa tidak nyaman.


Lamunan Fano terhenti ketika ada seorang Ustadz yang menyapanya, "Assalamu'alaikum ...."


Fano menoleh, "Wa'alaikumsalam."


"Sepertinya saudara bukan berasal dari daerah sini, ya?"


"Iya, Pak. Bagaimana Anda bisa tahu?"


Ustadz tersebut tersenyum ke arah Fano, lalu ia hanya memberikan beberapa pesan terhadapnya.


"Dalam menjalani kehidupan, kita tidak boleh serakah. Boleh kita mencintai dan mengharapkan seseorang, akan tetapi kita tidak bisa menerjang badai di hadapan kita tanpa sebuah persiapan."


"Akan ada banyak ujian yang menerpa setiap perjalanan hidup kita, tetapi yakinlah ada Allah yang akan membimbing jalan kita. Percayalah dan jangan pernah meninggalkan sholatmu."


"Ba-baik Pak Ustadz."


"Ingat, cinta kita hanya untuk Allah, jadi dasarilah rasa cintamu itu demi mengharap ridho Allah SWT."


Fano menundukkan pandangannya ke tanah. Ia menyelami setiap perkataan Pak Ustadz di hadapannya kali ini dengan sepenuh hati.


"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke kamu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya." - Imam Syafi'i


Sejenak kemudian, Sang Ustadz itu berpamitan kepada Fano lalu kembali masuk ke dalam masjid untuk mengaji. Fano yang masih berdiri di halaman masjid sedikit merasa tenang ketika mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an.


Tidak terasa waktu semakin bergulir, Fano pun mengurungkan niatnya agar tidak melanjutkan perjalanan ke rumah Dita.


"Aku percaya padamu, Dita. Allah akan menjaga cinta kita jika Allah mengijinkan kita untuk bersama."


Di dalam kediaman Tuan Handoko.


Di dalam kesunyian malam, Dita tidak lagi terlalu ketakutan. Ia bahkan sudah bisa menerima roh Tito saat ini. Meskipun begitu Tito juga mengatakan sesuatu hal, yaitu ia tidak akan bisa berlama-lama meminjam raga Tiyo karena itu bukan miliknya.


"Mas, kalau bilah tahu emangnya jasad Mas Tito dikebumikan di mana?"


Tito menggeleng, ia bahkan tidak tahu dimana jasadnya berada. Seingatnya ia tidak pernah dikembumikan.


"Loh, kok diem, Mas?"


"Aku tidak tahu dimana jasadku di kuburkan, Dita."


Dita menoleh ke arah Tito, "Kok bisa?"


"Kamu ingat, saat aku tiba-tiba diajak pergi ke luar negeri oleh ibuku?"


Dita mengangguk.


"Saat itu aku juga tidak tahu kenapa, tetapi saat itu nyawa Tiyo terancam. Ia bahkan telah melewati operasi transplantasi jantung di usia muda. Kini hidupnya bergantung dari jantungku yang terpasang di dalam tubuhnya."


"Apa?"


Dita terkejut dengan fakta baru yang ia dapatkan. "Lalu ...."


"Lalu aku tidak pernah melihat indahnya dunia lagi. Sejak saat itu rohku bergentayangan. Bahkan aku tinggal lama di perkebunan teh di sebelah sana hanya untuk menunggu kedatanganmu."


Dita tidak menyangka jika hidup suaminya begitu tragis.


"Lalu kenapa Ibu kamu tidak membiarkan kamu dikuburkan? Dan menutupi semua ini?"


"Karena sejak dulu aku hanyalah nyawa pengganti baginya. Ia sangat menyayangi Tiyo, sementara aku tidak pernah dianggap olehnya."


Tito berdiri dan memandang ke arah jendela.


"Aku bisa menikahimu karena aku memohon kepadanya. Dengan meminjam raga Tiyo aku bisa menikah denganmu."


"Namun, setelah ini maka raga Tiyo akan dibawa kembali ke Belanda oleh ibu."


"Begitukah?"


"Ya, dan disini hanyalah tinggal rohku saja, apakah kamu keberatan?"


Dita menggeleng.


"Aku tidak keberatan, justru aku bahagia meski tidak seutuhnya bisa memilikimu setidaknya kamu tidak akan pernah meninggalkan diriku lagi."


Tito tersenyum, "Aku juga akan menjagamu dari sorot tajam arwah para suamimu yang selalu mengintai dari balik pintu."


Deg


"Apakah mereka ada di sini?"


"Arwah mereka terkurung di sini, mereka tidak akan bisa lepas sebelum kutukan yang ada di dalam tubuh kamu musnah."


"Sebegitu kejamnya garis takdirku ini," ucap Dita dengan menunduk lesu.


"Jangan khawatir karena aku akan berusaha untuk menjagamu."


"Terima kasih, Mas."


Bersambung


......................


Jangan lupa mampir ke sini kak, sambil nunggu up nya, terima kasih banyak😘