
"Hari ini di kota ada pameran lukisan dari seorang pelukis terkenal, kamu mau lihat, nggak?"
Lusi tiba-tiba mengobrol dengan Nurul saat sedang packing barang.
"Nggak tau nih, nggak ada tumpangan soalnya."
"Justru itu, saat begini biar kita bisa keluar, kita jalan-jalan."
"Ehem, gimana ya?"
"Kalau kamu nggak mau, ya udah."
Saat karyawan tokonya berdebat, Dita sedang bersantai di rumah. Pertemuan dengan Fano beberapa hari lalu membuatnya enggan untuk datang ke toko. Ia takut jika bertemu dengannya lagi.
Melihat putrinya di rumah membuat Nyonya Sekar penasaran dan mencoba mendekatinya. Sebenarnya ada sesuatu yang membuatnya ingin berbicara dengan Dita mumpung dia berada di rumah. Jarang-jarang Dita mempunyai banyak waktu.
Nyonya Sekar tersenyum saat mendekati Dita. Saat sudah berada di dekat Dita, beliau mulai membelai lembut rambut putrinya di sana.
“Ada apa, sayang? Tumben belum ke toko?” ucap Nyonya Sekar dengan lembut.
Dita terkejut dan langsung menoleh pada ibunya.
“Agak males, Bu. Jadi aku biarkan saja Nurul sama Lusi yang packing barang-barang. Lagi pula tidak ada hal darurat, kok.”
“Oh," jawabnya singkat.
Nyonya Sekar mendudukkan dirinya di samping Dita. Dita yang awalnya tiduran kini mulai membetulkan posisi duduknya.
“Tumben aja sih, biasanya kamu yang paling rajin ke toko. Paling liburnya cuma hari Jumat, selain itu kamu lebih mementingkan toko daripada hidupmu.”
Dita melepaskan buku yang ia baca lalu menaruhnya perlahan di atas meja. Menatap aneh kepada ibunya yang seolah sedang mengajaknya sebuah pembicaraan penting.
“Memangnya ada apa dengan hidupku? Bukankah semuanya baik-baik saja.”
Nyonya Sekar menelan salivanya dengan susah payah. Ia sungguh merasa tidak tau bagaimana cara memulai pembicaraan itu. Ia tahu jika Dita agak sensitif ketika diajak berbicara dengan sebuah pernikahan.
“Kenapa diam, Bu? Apa ini tentang sebuah rencana pernikahan kembali?”
Meskipun tahu arah pembicaraan itu, tetapi Dita ingin lebih memastikannya kembali. Setidaknya mendengar langsung dari mulut ibunya.
Bibir Nyonya Sekar seketika bergetar, ingin ia mengucapkan sebuah kata, tetapi tertahan. Ia menginginkan kejujuran dari ibunya. Namun, sepertinya dugaannya memang benar, apalagi ia seperti grogi.
“Bu-bukan begitu maksudnya, tapi Ibu dan Bapak hanya ingin mengajakmu untuk mengunjungi keluarga partner bisnis ayahmu.”
Dita menatap aneh kepada ibunya.
“Lalu setelahnya pasti membahas perjodohan lalu pernikahan kembali, betul begitu, bukan?”
Nyonya Sekar seketika menoleh, pandangannya kaku.
Dada Dita bergemuruh hebat, ada rasa sesak yang membuatnya semakin sulit bernafas kali ini. Ia tidak habis pikir dengan keinginan orang tuanya yang selalu memaksa dirinya untuk berumah tangga. Dita tersenyum masam.
“Sudahlah, Bu. Aku tahu arah pembicaraan ini.”
Padahal sudah jelas ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya tidak bisa menikah, tetapi mereka seolah menutupi hal itu dan membuat seolah tidak ada apa-apa.
Nyonya Sekar masih terdiam, ia sama sekali tidak mengatakan apapun. Hingga mau tidak mau Dita harus berbicara kembali.
“Lalu kalau bukan sebuah perjodohan untuk apa kalian mengajakku?”
Nyonya Sekar menghela nafasnya perlahan. Mengatur nada bicaranya agar tidak kelihatan kalau ia sedang menutupi sesuatu.
“Kita ini adalah sebuah keluarga, tentu saja harus pergi secara bersama.”
Bibir Dita bergetar, rasanya ia ingin menangis saat itu. Akan tetapi ia tetap menahannya. Kebohongan yang diciptakan ibunya semakin membuat jarak antara ibu dan anak tersebut.
“Bersama tetapi tidak pernah memikirkan perasaanku, itukah yang namanya sebuah keluarga?”
Dita tersenyum getir. Sementara itu Nyonya Sekar menundukkan pandangannya. Ia tidak menyangka jika ucapannya barusan semakin membuat jarak di antara ibu dan anak itu semakin jauh.
Akan tetapi ia hanya mengusahakan hal yang terbaik saja. Entah lupa atau tidak tetapi Dita tidak bisa membuat kedua orang tuanya sadar.
“Jika kehidupanku terus begini, sebaiknya aku pergi saja,” gumamnya.
Dita melangkah pergi dari sana, meninggalkan Nyonya Sekar yang terdiam di tempatnya.
Dita lebih memilih mengunci dirinya di dalam kamar. Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal lalu menangis sesenggukan di sana.
Merasa ada yang tidak beres Dita mengintip sebentar, tetapi keadaan kamarnya seolah normal. Baru saja ia masuk kamar, tetapi seolah kamarnya terasa aneh. Cermin yang biasa ia gunakan untuk merias diri seolah menampakkan bayangan lain.
Bayangan itu sedang menatap tajam ke arahnya, tetapi saat ia melihat ke sana tidak ada siapapun.
“Sepertinya aku terlalu banyak pikiran?” gumamnya.
Padahal memang benar, sosok yang biasa membunuh suami Dita ada di dalam kamar Dita. Ia sedang mengawasi Dita dari dalam cermin. Namun, Dita tidak dapat melihatnya.
"Permaisuri hatiku, kamu sungguh sangat cantik, tunggu tiba waktunya maka kau akan menjadi milikku, ha ha ha ...." gumamnya dari dalam cermin.
.
.
BERSAMBUNG