Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 173. MENEMUKAN DITA


Setelah sekian lama melakukan semua persiapan ritual yang sesuai dengan adat istiadat leluhur Mbok Nem. Ia segera meminta bantuan dari leluhur Dita karena merasa ini sudah diluar kemampuannya.


Mbok Nem terus merapalkan sebuah mantra untuk memanggil leluhur Dita. Mata yang terpejam, keheningan yang tercipta membuat suasana di sana semakin seram. Apalagi malam itu adalah malam Jumat Kliwon. Sebuah kebetulan atau tidak, di malam itu terlihat sekali jika tidak ada orang yang berani keluar di malam itu.


Setelah sekian lama, terdengar semilir angin yang berembus melalui celah jendela diikuti dengan kepulan asap berwarna putih mulai terlihat di depan Mbok Nem.


Dengan mata terpejam Mbok Nem tahu jika saat ini leluhur Dita sudah hadir di sana.


"Ada apa kau memanggilku, Mbok?" sapa leluhur Dita dengan sorot mata tajam tidak bersahabat.


Sepertinya ia tahu apa yang terjadi kali ini. Buktinya kedatangan tampak berbeda dari sebelumnya.


"Katakan, Mbok. Cepat! Jangan membuatku menunggu terlalu lama!" ucapnya kesal.


Sebelum Mbok Nem mulai berucap, kini ia menarik nafasnya dalam-dalam agar tidak terlihat jika ia sangat gugup.


"Hamba ingin meminta ijin untuk mencari keberadaan Den Ayu, Kanjeng Nyai."


"Cuma itu!" gertaknya.


"I-iya, Kanjeng Nyai."


"Baiklah, kalau soal hal itu jangan khawatir karena aku tidak pernah mengingkari janjiku!"


"Satu hal lagi, kau harus secepatnya mencari keberadaan cucuku, Dita."


"Perlu kamu ketahui, jika aku tidak bisa menembus ke dalam dunia tersebut, karena terhalang oleh sesuatu hal yang tidak bisa aku jabarkan kepadamu."


"Maka dari itu aku hanya bisa mengandalkan dirimu dan menitipkan sebuah barang yang akan kau berikan kepada Dita agar dirinya lebih kuat kita berada di alam sana."


"Apakah musuh kali ini terlalu kuat, Kanjeng Nyai?"


"Tidak perlu kamu tanyakan, kau pasti bisa mendapatkan jawabannya."


Mbok Nem tampak menunduk lalu sesaat kemudian ia seolah mendapatkan kekuatan dari leluhur Dita. Dalam sekejap mata Mbok Nem sudah berhasil memasuki alam ghaib.


Di hadapannya sangat gelap, terlihat sekali jika ada sosok wanita yang tergeletak di atas tanah. Tubuhnya berlumur dar-ah.


"Den Ayu ... beneran itu Den Ayu?"


Merasa jika ada seseorang yang memanggilnya, Dita mulai mengerjapkan kedua mata. Dengan bersusah payah, Dita mulai bangun dari tidurnya.


Pandangan matanya masih kabur saat melihat sebuah bayangan yang berdiri di dekatnya.


Mbok Nem yang berada di sisi Dita tidak bisa menggapainya sama sekali. Tangannya tidak bisa menembus dinding pembatas di sana. Nafas Mbok Nem sampai tersengal-sengal ketika mengeluarkan kekuatan agar bisa menembus dinding pembatas itu. Usahanya tampak sia-sia karena ia hanya sendirian.


"Den Ayu, bertahanlah ... Mbok masih berusaha agar bisa menolong Den Ayu."


Sesekali tangan penuh bulu itu mengusap kepala Dita. Bahkan ia juga mengendus bau tubuh Dita. Sepertinya dia menyukai aroma tubuh Dita, maka dari itu ia menyelamatkan dirinya.


"Aku akan berusaha untuk menyelamatkan dirimu, apalagi jika kamu mau menjadi istriku!" ucapnya penuh harap.


Sementara itu Mbok Nem justru harus tertahan di depan dinding pembatas itu.


"Bagaimana ini, apakah aku bisa menembus dinding di hadapanku saat ini?"


Ternyata untuk bertahan di dalam alam sana membutuhkan banyak kekuatan. Memang benar jika tidak sembarangan orang bisa menembus alam ghaib dalam waktu yang lama.


Mbok Nem teringat sesuatu, barang yang ia bawa sepertinya akan berguna kali ini. Beberapa saat kemudian ia mengambil segenggam garam kasar lalu menaruh di atas sebuah daun sirih.


Terlihat bibirnya komat-kamit membaca sesuatu. Lalu setelahnya ia melempar daun sirih itu ke arah dinding pembatas di hadapannya. Hingga beberapa saat setelahnya daun itu terlihat berasap. Daun yang semula segar kini telah berubah menjadi kecoklatan.


"Semoga caraku ini berhasil," gumam Mbok Nem.


Tidak berapa lama kemudian terlihat jika dinding itu tiba-tiba pecah sehingga Mbok Nem bisa memasukinya.


"Alhamdulillah."


Namun, baru saja kakinya melangkah ternyata kakinya dicekal sesuatu hingga ia jatuh terjerembab.


"Astaghfirullah, ada apa lagi ini! Siapa kalian berani menghalangi langkahku!" gertak Mbok Nem dengan amarah.


Bukannya takut sosok itu justru mencoba menyerang Mbok Nem dari segala arah. Sorot mata wanita setengah genderuwo itu terlihat penuh amarah.


Rahangnya mengeras, dengan pandangan mata yang menerawang jauh diikuti hembusan nafas keras darinya tidak membuat Mbok Nem ketakutan.


"Siapapun kamu tidak akan membuatku takut! Bagaimana pun kamu bukanlah tandinganku wahai mahluk jadi-jadian!"


Mendengar umpatan dari Mbok Nem membuat makhluk itu semakin marah.


"Dasar kamu orang tua tidak tahu apa-apa, bisa-bisanya kamu berbicara kasar denganku!"


Merasa jika Mbok Nem pernah mengetahui suara itu ia segera melihatnya dengan seksama.


"Siapa kamu sebenarnya?"