Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 27. KEANEHAN


Ternyata perjalanan ke tempat Juna sangatlah melelahkan. Buktinya sedari tadi Dita hanya berputar-putar di tempat yang sama.


"Dit, Lu ngerasa nggak sih, kalau kita sudah melewati tempat ini tiga kali!" protes Rani.


Rani dan Sam sama-sama memperhatikan sekitarnya dan apa yang dikatakan oleh Rani benar adanya.


"Sepertinya sih emang iya, lalu gimana dong, aku kan sudah mengikuti arah google map sesuai alamat yang diberikan oleh Tante Sinta."


Dita berusaha membela dirinya, meskipun hatinya mengiyakan perkataan dari Rani barusan.


Sam yang melihat perdebatan tersebut hanya bisa mengutarakan isi hatinya. Ia memang sudah merasakan keanehan sejak mobil Dita memasuki hutan tadi, tetapi ia tidak berani berkomentar karena Dita melarangnya.


"Sorry, kalau menyela." Akhirnya Sam ikut berkomentar.


"Kalau boleh aku kasih saran, sebaiknya kita menepi sebentar deh, Dit. Kamu mungkin kecapekan, atau kalau boleh biarkan aku menggantikanmu menyetir."


"Nah, ide yang bagus tuh, Dit. Benar yang dikatakan oleh Mas Sam barusan."


"Mas Sam?" kekeh Dita.


Sontak hal tersebut membuat Rani malu, tetapi sesaat kemudian, Dita mulai memikirkan saran dari mereka berdua. Dita melirik ke arah spion lalu ia pun menyetujui usul Sam.


"Oke, kita cari tempat yang tepat buat istirahat. Sepertinya di depan sana tadi ada warung yang masih buka."


"Hu-um," seru keduanya kompak.


Setelah melihat seberkas cahaya di tengah hutan, Dita memutuskan untuk istirahat di sana. Dita menepikan mobilnya dan berhenti. Ternyata di sana ada warung kopi, dan anehnya jam segini masih ada beberapa warga yang terjaga dan meminum kopi di sana.


Rani dan Sam berjalan lebih dulu, sementara Dita menyusulnya di belakang. Harum bunga kantil menyeruak ke dalam indera penciuman Dita sesaat setelah Dita mendudukkan diri di warung itu. Mata Dita menyisir ke sekelilingnya.


Belum sempat Dita berucap, dari arah samping bahu Dita ditepuk. Namun, saat Dita menoleh tidak ada siapa pun di sana.


Seketika bulu kuduk Dita meremang, tetapi tidak dengan Sam dan Rani yang semangat ingin membeli makanan di sana. Dari tempat Dita duduk terlihat Sam dan Rani sudah memesan makanan dan minuman.


"Dit, gue pesen makan dulu ya, tapi Lu yang bayarin," ucap Rani.


"Iya deh, pesen aja, sekalian sama Lu, Sam. Kamu pesan aja nggak apa-apa."


"Oke, Anindita, makasih sebelumnya."


Sam mengulas senyum manis pada Dita, tetapi Dita mengalihkan pandangannya pada gawai miliknya. Sesekali Dita mengangkat tangannya ke atas, tetapi tetap saja tidak ada sinyal.


"Oh, astaga nggak ada sinyal sama sekali."


Saat Dita hendak menoleh, ia dikejutkan dengan hadirnya laki-laki memakai bahu serba hitam tersenyum padanya.


"Di sini memang susah sinyal, kalau kamu kebingungan boleh bertanya padaku."


Ucapan lelaki tersebut bagaikan ada mantranya. Saat ia berkata tentang sesuatu hal, maka Dita akan langsung menyetujuinya. Sementara itu Rani dan Sam sedang asyik makan mie ramen bedua.


Saking enaknya, keduanya sama sekali tidak memperhatikan Dita, begitu pula dengan sebaliknya. Dita mengangguk ketika lelaki itu mulai bercerita.


"Jadi itu rutenya, kalau kamu ingin mendapatkan hal yang lain atau masih bingung sebaiknya kamu langsung bertanya saja padaku."


"Oke, emangnya udah lama ya daerah sini menjadi seperti ini?" tanya Dita penasaran.


"Sebenarnya daerah ini adalah ....