
Menikmati indahnya negara itu membuat Dita sejenak bisa melepaskan beban hidupnya untuk sesaat. Bagaimana pun kali ini ia hanya bisa berkata, "Sebaiknya berdamailah dengan dirimu di masa lalu."
Lamunan Dita terhenti ketika melihat sekelebat bayangan hitam yang ternyata juga sampai di sana. "Kenapa mereka selalu mengganggu kami? Apakah kami tidak cukup pantas untuk bisa hidup bahagia tanpa ada sebuah halangan khusus di dalamnya."
Tangan Dita mengepal membuat otot-otot jari tangannya keluar. Terlihat jika ia sangat membenci sosok itu. Sosok itu membuat beberapa suami Dita meninggal dengan cara yang cukup tragis.
"Sosok itu benar-benar membuatku mati kutu. Harus dengan cara apa agar makhluk halus itu pergi menjauh."
Derap langkah kaki dari arah belakang membuat Dita tidak sempat mengetahuinya. Hingga saat ia menoleh nafas Dita terasa tercekat karena sosok hitam berbulu lebat itu sangat dekat dengannya. Hanya berjarak beberapa centi meter hingga membuat Dita ketakutan.
Sosok itu bahkan hendak mencium Dita, tangan Dita sudah mencoba mendorong sosok itu tetapi justru kekuatannya tidak sebanding. Hingga saat sosok itu terjatuh dan menimpa tubuh Dita, ia hampir melonjak karena jijik.
Bukan karena bentuknya tetapi ia benar-benar membenci sosok itu. Jika ia mempunyai cara untuk mengusirnya sudah pasti akan dilakukan sejak lama.
Sayang, semua itu hanyalah impian semata. Anehnya, sosok yang ia hindari tadi ternyata adalah Fano.
"Loh, kok Mas Fano, sebenarnya siapa yang aku lihat tadi? Jelas-jelas sosok tadi bukanlah Fano melainkan makhluk menyeramkan tadi, tapi mengapa ...."
Suara alarm ponsel Fano membuat Dita terbangun. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Nafasnya terengah-engah seperti selesai berolah raga. Cahaya matahari yang menembus kamarnya membuat Dita mengerjap dan baru menyadari jika tadi adalah sebuah mimpi.
"Ada hal aneh yang sempat dirasakan olehku dan aku bisa memastikan jika semua hal yang aku lihat tadi beneran terjadi!"
"Semoga saja apa yang aku impikan barusan tidak terjadi. Aku tidak mau suamiku kenapa-napa lagi ya, Allah."
Tidak mau mengusik tidur suaminya, tangan Dita mengambil air minum untuk menenangkan pikirannya sejenak, lalu sesaat kemudian ia melanjutkan tidurnya bersama Fano.
"Aku berharap jika tadi hanyalah mimpi dan bukan gambaran kejadian yang akan datang. Aku sungguh tidak mau kehilangan dirimu, Mas," ucap Dita penuh harap sambil melihat suaminya.
Saat mengucap itu hatinya begitu sakit. Tidak disangka banyak hal yang sudah dilewati oleh Dita dan itu tidak bisa terhapus seiring berjalannya waktu.
Saat ini Dita dan Fano sedang menikmati masa honeymoon. Selama menikah ia tidak pernah bisa melewati hal tersebut. Dikarenakan saat ini kesempatan begitu terbuka, maka Dita pun memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin.
Merasa tidak enak jika Dita bangun terlalu pagi, Dita pun bersiap untuk kembali tidur. Masih banyak waktu yang ingin dihabiskan olehnya bersama suaminya sampai nanti.
"Semoga tidak akan ada musibah seperti sebelumnya. Aamiin."
Fano sebenarnya sudah bangun sejak Dita tiba-tiba terbangun dengan suara nafas yang terengah-engah tadi. Akan tetapi Fano membiarkan hal itu terjadi karena tidak ingin membuat Dita semakin menyalahkan dirinya.
"Apakah ini berhubungan dengan nasib para suaminya terdahulu, kenapa aku merasa ada hal yang aneh, ya?"
Entah kenapa tiba-tiba perasaan Fano menjadi tidak nyaman. Namun, di dalam hati kecilnya ia tetap berharap semua akan baik-baik saja.