Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 50. LUKA LAMA


"Dita, dengarkan aku, cepat kamu pergi!"


Suara yang samar terdengar tidak asing bagi Dita. Namun, Dita tidak dapat menemukan siapa dan asal suara tersebut. Yang terlihat di hadapannya hanyalah makhluk berbulu dan menyeramkan itu.


Kuku-kuku panjangnya seolah ingin menyentuh dan menebas Dita seketika. Ia semakin dekat dan terus berjalan ke arah Dita. Sayangnya, tidak ada yang mengetahui hal tersebut. Semuanya masih khusyu dalam mengaji.


"Siapa yang bisa membantuku?" ucap Dita di dalam hati.


Dita beringsut mundur, ketakutan karena makhluk itu ternyata sangat besar dan menakutkan. Hingga akhirnya ia kembali berteriak saat kuku-kuku panjangnya hampir mengenai wajah Dita.


"Aaarrgghhh, tolooong!" teriak Dita.


Di dalam pandangan ibunya, Dita bergerak aneh. Ingin rasanya ia mendekati Dita tetapi anak itu semakin menjauh.


"Ada apa dengan Dita?" ucap Nyonya Sekar dengan tatapan menyelidik.


Teriakan Dita sama sekali tidak bisa di dengar oleh semua tamu undangan termasuk Nyonya Sekar. Akan tetapi Rista mengetahui hal ini. Insting indigonya berfungsi.


Hanya saja ia memang tidak ingin ikut campur dengan semua hal yang berkaitan Dita. Tujuannya hanya satu yaitu melihat Dita sengsara.


Tubuh Dita berguling-guling di lantai, membuat orang-orang yang tadinya mengaji kini mengalihkan pandangannya ke arah Dita. Beruntung mereka sudah selesai mengaji. Bukannya menolong Dita, mereka malah menjauhinya seolah sedang menonton sebuah pertunjukkan seru.


"Kenapa dengan gadis itu?"


"Kenapa tingkahnya aneh?"


Gunjingan datang dari orang-orang yang baru saja menghentikan kegiatan mengajinya.


"Bukankah itu menantu Tuan Rumah?" bisik ibu yang satunya.


"Oh, tenyata dia ... tingkahnya aneh banget, pantas saja jarang terlihat. Kasihan almarhum Wisnu mempunyai istri aneh."


Bahkan karena kebencian pada Dita, Rista tertawa kecil saat semua orang melihat kejadian tersebut. Nyonya Anggraeni yang melihat hal tersebut seketika murka.


"Hahaha, saatnya kau merasakan apa yang aku rasakan kemarin Dita. Menangis dan kesepian sama seperti saat kakak yang aku cintai meninggal ketika ia sudah menjadi suamimu, Pernahkah kau merasakan sakit sepertiku, kini rasakan akibatnya!"


Makhluk tinggi, besar dan penuh bulu itu hampir dekat dengan Dita, tetapi sekelebat bayangan lain menghalaunya hingga sesaat kemudian keduanya menghilang. Namun, harum bunga melati bercampur kantil sudah memenuhi ruangan itu. Angin yang berhembus semakin terasa menerpa. Dingin dan menusuk ke dalam kulit.


"Pergi kau! Aku tidak mengundang makhluk seperti kamu untuk datang kemari!" gertak Dita sambil menutup mata.


Padahal kedua makhluk tersebut sudah menghilang. Entah kekuatan siapa yang membantunya barusan, Dita tidak mengetahuinya. Rista sedikit mendekat ke arah Dita lalu ikut menghujatnya.


"Dasar wanita pembawa sial!"


"Bisa-bisanya kau datang ke sini dan terus menganggu kami!"


Ucapan Rista sangat tajam bahkan melebihi pedasnya bon cabe level lima puluh. Melukai hati setiap inchi dari relung hati Dita. Hingga rasa malu yang sangat luar biasa kembali menghantui Dita. Dita yang semula sudah pulih, kini kembali terluka sekaligus terpuruk.


Dita yang tadinya sempat mendongak, kini kembali menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dari kondisinya bisa dipastikan jika Dita menangis sesenggukan.


"Rista cukup!" bentak Nyonya Anggraeni pada putrinya.


Kesabaran Nyonya Anggraeni sirna sudah. Acara yang seharusnya bisa berjalan hikmat kini malah menjadi kacau. Pelakunya adalah putri kesayangannya dan juga menantu tercinta.


Namun, ia harus terlihat bijak saat ini. Lagi pula Rista sendiri yang ingin mencoreng nama baik Dita dan keluarga besarnya. Akan tetapi, seharusnya tidak seperti ini caranya.


"Apa yang kamu katakan, dia ini adalah kakak ipar kamu. Seharusnya kamu membantu Dita, bukan memakinya!"


Nyonya Anggraeni mendekati menantunya dan memeluknya. Rista semakin kesal karena ibunya membela Dita, bukan dirinya. Mulutnya sudah gatal ingin memaki Dita kembali, sayangnya sorot mata tajam dari ibunya menghalangi Rista.


"Kamu tidak kenapa-napa, Sayang. Sebaiknya kamu ikut ibu masuk saja."


Nyonya Anggraeni menoleh kepada para tamu undangan lalu meminta maaf untuk kejadian hari itu.


Semua omongan miring tentang Dita membuat Nyonya Sekar dan suaminya luar biasa malu. Mereka tidak menyangka jika hal ini terjadi.


"Seharusnya kita tidak membawa Dita kemari, Bu."


"Bapak juga menyalahkan putri kita?"


Nyonya Sekar tersinggung akan ucapan suaminya barusan lalu segera menyusul putrinya yang dibawa masuk besannya.


Di dalam kamar, tidak henti-hentinya Nyonya Sekar meminta maat untuk semua kekacauan yang terjadi karena Dita.


Dari sudut jendela ada sorot mata yang kembali mengawasi Dita. Tatapan matanya merah menyala. Burung perkutut yang biasanya berkicau siang hari, kini mereka ikut-ikutan berkicau.


Suasana rumah Wisnu mendadak singup atau dalam bahasa Indonesia, rasa aura mistis begitu kental terasa di dalam kamar Wisnu. Banyak foto-foto Wisnu yang terpasang di dinding. Akan tetapi ada satu hal aneh. Almari milik Wisnu yang tadinya tertutup rapat kini terbuka dengan sendirinya.


"Loh, kenapa almari Mas Wisnu terbuka sendiri? Jangan-jangan ...."


.


.


Maaf semalam belum edit ya🙏. Jangan lupa mampir di karya rekomendasi hari ini.