
"Aaaa ...."
Dita berteriak karena tiba-tiba bayangan Wisnu dengan kepala patah terlihat hadapannya.
"Dita tolong aku ... kamu yang bisa memutus mata rantai ini ....."
"Dita tolong a-aku ...."
Teriakan meminta tolong dari Wisnu semakin membuat Dita ketakutan. Tubuhnya beringsut dan luruh ke bawah.
Sesaat kemudian lampu mati dan pintu ruang ganti tiba-tiba saja terkunci.
Tentu saja teriakan Dita membuat Yudistira panik luar biasa. Apalagi suasana butik menjadi kacau karena hal tersebut.
"Dita, kamu nggak kenapa-napa?" teriaknya dari luar pintu.
Yudistira menggedor-gedor pintu ruang kamar ganti. Namun, Dita tidak kunjung menjawab. Hingga akhirnya Yudis terpaksa mendobrak pintu karena pintunya tidak bisa dibuka.
Di sana ia bisa melihat Dita yang duduk meringkuk di sudut kamar. Melihat ada yang datang Dita langsung memeluk erat Yudistira. Sesaat kemudian lampu mulai menyala. Beruntung Dita tidak kenapa-napa. Akan tetapi Dita terlihat sangat syok dan masih belum bisa melupakan kejadian tadi.
Rasa kekepoan karyawan meningkat, ada yang ingin masuk dan melihat keadaan yang sebenarnya. Dita kembali ketakutan melihat orang datang. Melihat hal itu Yudistira memerintahkan agar para karyawan toko segera meninggalkan mereka. Sejenak untuk memberikan ruang agar kondisi Dita membaik.
"Dita, lihat aku!" Yudistira menangkup wajah Dita.
Dita terlihat masih menutup kedua matanya karena ketakutan.
"Lihat, mereka sudah tidak ada, buka matamu!"
Akhirnya Dita membuka mata hingga ia kembali memeluk Yudistira. Melihat bahu Dita yang masih terbuka membuat Yudistira melepas jas miliknya lalu mulai menutup bahu Dita.
"Ayo kita pulang!"
Karena Dita masih terdiam, Yudistira berinisiatif untuk menggendongnya. Melihat keadaan Dita belum membaik, Yudistira memilih membawa Dita ke sebuah ruangan khusus.
Yudistira adalah pemilik butik tersebut, oleh karena itu ia membawa Dita masuk ke dalam ruangan khusus miliknya. Tanpa mereka sadari, ada yang mengawasi mereka dari kejauhan.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di ruangan tersebut. Ternyata ruangan itu cukup luas. Ada satu buah tempat tidur, satu sofa kecil dan meja. Satu set meja kerja, lalu sebuah rak buku.
Namun, ternyata Yudistira membawa Dita ke tempat tidur. eDibaringkan tubuh Dita disana, sementara itu ia menghubungi salah satu pemimpin di butiknya.
"Sar, tolong kamu beresin kekacauan hari ini!"
"Baik, Tuan."
"Oh, ya. Jangan lupa ambilkan teh hangat dan makanan ringan untuk dua orang."
"Baik, ada lagi?"
"Sepertinya tidak ada, terima kasih, sebelumnya."
"Kalau begitu, saya permisi."
Yudistira melihat ke arah Dita. Tangannya terulur membelai lembut rambut Dita yang terurai. Tampak sekali ketakutan yang terlihat di sana. Air mata Dita mengalir menganak sungai. Wajah yang biasanya angkuh dan terkadang ceria itu sudah menghilang.
Tidak pernah terlihat raut wajah kacau Dita yang seperti ini dan hal ini membuat raut wajah Yudistira ikut-ikutan sedih.
"Dita, hai ... lihat aku, aku ada di sini, kamu yang tenang, ya."
Wisnu terdengar seolah menghibur Dita, sesekali ia mengusap air mata Dita. Tidak seperti biasanya, Dita tidak menolak sentuhan tangan Yudistira saat ini ia terlihat pasrah.
...**Beberapa menit berikutnya**...
Dita sudah nampak bisa menerima keadaan seperti ini. Lalu sesudahnya ia bisa diajak berbicara.
"Mau pakai gaun itu agak susah ya, bisa ganti gaun yang lain juga, kok."
Pertanyaan dari Dita membuat Yudistira tergelak.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Ya, enggak enak aja. Tadi niatnya cuma mau fitting baju, eh malah kejadian kaya gini."
Dita seolah menyadari kesalahannya barusan. Ia merasa seharusnya ia tidak keluar rumah ketika kondisinya sedang kelelahan seperti ini. Apalagi Dita sama sekali belum pernah keluar dengan Yudistira. Ini adalah pengalaman pertama kali ia bersama Yudistira.
"Tenang, butik ini milik aku, kok. Jadi nggak bakalan ada yang menuntut aku. Toh, setelah ini semua harta yang aku punya akan menjadi milikmu."
Dita yang semula menunduk kini memandang aneh ke arah Yudistira.
"Jadi semua ini milik kamu?"
Yudistira mengangguk. Baginya tidak ada yang perlu ia tutupi karena Dita sebentar lagi akan menjadi miliknya.
"Makan dulu gih, ntar dingin nggak enak."
"Iya, ya udah aku minum dulu. Eh, makan ding."
Dita segera menyuapi mulutnya dengan sebuah kue pastry yang lembut. Awalnya memang manis tapi lama-lama agak masam.
"Tapi aku suka banget loh sama makanan kayak gini, kok di butik ini ada, emangnya kamu punya koki?"
"Enggak, cuma karena tau jika kamu mau aku ajak ke sini, maka mereka menyiapkan semuanya untuk kamu."
"Dih, seriusan, tetapi enak kok, makasih."
"Sama-sama."
...***...
"Bagaimana keadaan adik saya, Pak?" tanya Clara pada seorang paranormal.
"Adik kamu hanya diganggu oleh makhluk astral saja. Paling dua hari lagi ia akan sembuh."
"Benarkah?"
"Dia tidak akan mengganggu adik kamu lagi, asalkan adik kamu menjauhi wanita yang sedang ia incar!"
"Memangnya ada apa?"
"Wanita itu ada penjaganya. Jika penjaganya tidak suka maka tidak akan ada laki-laki yang bisa mendekati wanita itu."
"Sehebat itu kah, dia?"
"Kalau kamu tidak percaya, terserah! Yang jelas aku sudah memperingatkanmu."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih."
"Sam, kamu harus sembuh. Aku nggak bisa memberikan alasan palsu jika ayah dan ibu menanyakan kondisimu."
Clara menatap nanar adiknya. Adik kesayangannya kini soelah seperti orang gila. Sementara itu demi kesembuhan adiknya, ia harus mendatangi paranormal dan memenuhi setiap syarat untuk pengobatan adiknya ini.
.
.
Hai-hai, selamat pagi. Selamat Hari Raya Idul Adha, para readers, mohon maaf lahir dan batin ya. Jangan lupa mampir di karya teman literasi Fany di bawah ini. Ditunggu ya😘