Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 94. TERGANGGU LAGI


Semakin malam, suasana mencekam semakin terasa di Kediaman Tuan Handoko. Suara derap langkah di atas genteng semakin terdengar jelas di dalam indera pendengaran. Bercampur dengan aroma bunga kantil yang semerbak di dalam kamar Dita.


Hanya Dita yang masih terbangun saat itu. Jadi, hanya dirinya yang bisa merasakan hal mistis itu. Sementara yang lainnya sudah terlelap dan terbuai di dalam mimpi.


"Kenapa rasanya suasananya sangat berbeda?" gumam Dita sambil menutup buku novel yang ia baca.


Belum lagi suara genteng rumah yang dilempari batu dari luar. Ditambah lagi suara burung emprit gantil sesekali terdengar mengitari rumah. Menambah suasana mencekam malam itu.


Dita mencoba keluar dari kamar karena penasaran dengan apa yang terjadi. Akan tetapi saat ia hendak melangkah lagi, tiba-tiba saja sepasang cicak yang terjatuh di lantai tepat di hadapan Dita.


"Astaghfirullah, apa ini?"


Dita memundurkan langkahnya. Kakinya sudah kepentok pintu kamar. Sementara itu, kondisi tubuh cicak itu terasa aneh. Seperti terbakar dan badannya sudah mengering.


"Kenapa tubuh mereka seperti itu?" gumam Dita.


Tiba-tiba saja bulu kuduk Dita meremang, seolah ditiup dari arah belakang. Detak jantungnya semakin berdebar-debar tidak karuan, tatkala jendela di hadapan Dita digedor-gedor dari luar.


"Apalagi ini? Kemana semua orang?"


Dita yang ketakutan, segera berbalik arah dan menutup kembali pintu kamarnya. Ia melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Mungkin saja tadi penglihatannya kurang jelas karena mengantuk. Oleh karena itu, Dita membasuh wajahnya.


Ingin rasanya Dita mengambil air wudhu, tetapi langkahnya semakin berat. Sehingga ia memilih untuk segera tidur.


Namun, ternyata rasa takutnya bukannya berkurang tetapi malah semakin besar. Dita menoleh ke arah jam dinding di kamarnya, jarum jam menunjuk ke angka dua belas lebih lima menit. Artinya saat ini sudah melewati jam tengah malam.


Buru-buru Dita menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia bahkan memejamkan kedua matanya karena ketakutan. Berharap pagi segera tiba, agar suara mistis segera berlalu.


Aroma anyir tercium ketika Dita hendak membuka mata. Sekelebat bayangan hitam tiba-tiba berputar-putar di atas kepala Dita. Meskipun di dalam selimut, dan dalam keadaan lampu kamar masih menyala terang, maka bayangan itu tetap terlihat.


"Ya, Allah, lindungilah hamba dan keluarga hamba dari ujian yang terjadi malam ini. Baik yang tidak kami ketahui dan maupun yang tidak terlihat, Aamiin."


"Kenapa lagi ini?"


Dita merasa bingung, ketakutan dan seolah putus asa, dan hanya bisa terus berharap pada angin yang berhembus. Di saat semua hal yang ia lakukan seolah tidak berarti. Pintu kamar Dita terbuka lebar. Dari sana terlihat beberapa bayangan hitam hendak menerkam Dita yang sedang terkunci jasadnya.


Arwah Dita seolah dipaksa keluar dari raga, agar bisa mendampinginya. Bayangan hitam yang berhenti di atas wajah Dita, juga menghisap auranya saat terlihat ia membuka mulut.


Beberapa saat kemudian, tubuh Dita merasa lemas. Ingin hati melawan kejadian mistis itu, tetapi apadaya tangan tak sampai. Untuk sementara waktu ia hanya bisa pasrah dan menunggu seseorang untuk hal yang tidak pasti.


Semoga saja Dita masih selamat setelah ini.


Tidak berapa lama kemudian, Dita terbangun karena tepukan dari Mbok Iyem.


"Den Ayu, cepat bangun, hari sudah siang," seru Mbok Iyem mengingatkan.


Mbok Iyem menggoyang-goyangkan lengan ita agar ia bangun. Sontak saja Dita terbangun karena itu.


"Eh, Mbok, sejak kapan berada di sini?" tanya Dita terkejut.


"Sejak tadi, Den Ayu saja yang tidak langsung bangun," ucapnya sambil tersenyum.


Dita terkekeh akan hal itu, tetapi sesaat kemudian ia ingin mengechek kondisi tubuhnya setelah kejadian semalam.


"Simbok ke sini cuma mau memanggil Den Ayu untuk segera sarapan, karena sudah ditunggu oleh Bapak dan Kanjeng Ibu."


"Iya, Mbok. Saya membersihkan diri terlebih dahulu saja."


"Baik, Den Ayu biar saya keluar dulu kalau Den Ayu butuh bantuan tinggal panggil saya saja."