
Sesaat setelah menunggu sekian lama, akhirnya Dita sudah sampai di meja makan.
"Nah, itu Dita, Pak."
Sejenak Tuan Handoko melihat ke arah putrinya, ia pun tersenyum ke arahnya. Begitu pula dengan Dita yang melangkahkan kakinya ke arah kedua orang tuanya. Tidak lupa senyuman manis menghiasi wajah cantiknya.
Meskipun begitu, ada gurat kesedihan yang masih terpancar di sana. Sepandai apapun Dita menutupinya, ibunya masih mengetahui hal itu.
"Sini duduk, Nak."
"Terima kasih, Ibu."
Setelah Dita duduk, Nyonya Sekar segera mengambilkan nasi dan lauk pauk kepada Dita. Baru setelah itu mereka kembali melanjutkan makanannya.
"Wah, makanannya enak sekali," ucap Dita mengalihkan situasi itu.
"Iya, Ibumu sengaja meminta Mbok Iyem untuk memasak menu itu agar kamu lebih berselera lagi."
"Oh, tanpa harus begitu pun aku sudah lahap lo, Pak!" ucap Dita sambil memainkan alisnya.
"Iya, iya," ucap Nyonya Sekar.
"Oh, iya, beberapa hari lagi Ibu dan Bapak ingin mengajak kamu pergi ke rumah Bisma."
"Untuk apa, Pak?" tanya Dita penasaran.
Dita menghentikan aktifitas makannya dan mulai menatap kedua orang tuanya dengan serius.
"Ya, setidaknya meminta maaf karena kejadian tidak terduga yang kemarin sudah terjadi."
"Kenapa tidak pergi ke Kyai saja, siapa tahu bisa membuat nasibku tidak setragis ini," seru Dita sambil menunduk.
Sejenak ada rasa sakit saat Dita mengingat nasibnya. Entah kenapa rasanya ia sudah putus asa dengan jalur kehidupannya. Ingin sekali ia berlari menjauh tetapi ada benang merah yang menariknya kembali ke tempat semula. Sehingga seberapa keras ia berusaha hasilnya tetap sama saja.
Nyonya Sekar dan Tuan Handoko saling memandang satu sama lain. Mereka tahu jika untuk melewati ujian ini sangatlah tidak mudah. Apalagi di dalam batin Dita tidak ada yang tau seberapa dalamnya luka itu masih menganga di dalam sana.
"Tapi, jika kamu keberatan maka jangan lakukan. Biar Bapak sama Ibu saja yang pergi ke sana."
Dita menengadahkan wajahnya hingga tatapannya dapat bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Tidak apa-apa, Bu, Pak. Memang sebaiknya kita segera pergi ke sana. Biar pandangan orang-orang terhadap keluarga kita tidak seburuk itu."
Dita merasakan hal yang tidak nyaman di relung hatinya. Belum sempat ia bisa berfikir jernih. Perhatian mereka menjadi lain ketika ada suara tokek bersahut-sahutan di sana. Membuat suasana yang tadinya normal menjadi sedikit menyeramkan.
"Te-kek ... Te-kek ...."
Hawa mistis semakin bertambah ketika suara burung emprit yang bertengger di pohon halaman rumah terdengar sangat jelas. Seketika bulu kuduk mereka berdiri, menandakan jika tidak ada yang bisa menutupi kekhawatiran dan kecemasan saat itu.
Ketiga orang itu saling menatap satu sama lain. Ada perasaan tidak nyaman ketika makanan di hadapan mereka kejatuhan cicak.
"Kenapa sama seperti cicak yang jatuh di hadapanku semalam?" gumam Dita.
"Aaaa ...." teriak Nyoya Sekar sesaat kemudian.
"Ada apa, Bu?" tanya Tuan Handoko panik.
"I-itu, Pak. Lihat ke dalam wadah sayur, sudah kejatuhan cicak yang banyak."
"Ha-ah!"
Perasaan mual dan perut yang seolah sedang diaduk-aduk membuat Dita ingin pergi dari ruang makan itu. Akan tetapi, Tuan Handoko melarang Dita pergi.
"Jangan pergi, Nak. Tunggulah di sini, biar bapak yang memeriksanya."
Dita menghampiri ibunya yang masih terlihat syok. Sementara itu ia segera pergi ke depan. Beberapa saat kemudian terdengar suara ledakan.
DOR!
Suara ledakan itu membuat Dita dan Nyonya Sekar ketar-ketir sekaligus terkejut. Tidak biasanya suara tembakan berbunyi di rumah itu kecuali dalam keadaan genting.
"Ada apa sebenarnya ini?"
Dita dan Nyonya Sekar saling menatap lalu memutuskan untuk segera menyusul Tuan Handoko ke teras depan. Terlihat ayahnya sedang memegang senapan yang biasa ia gunakan untuk berburu.
Beliau masih melihat ke arah depan, bahkan ujung senapannya masih terlihat mengeluarkan asap. Seolah baru saja digunakan.
"A-ada apa, Pak!" tanya Nyonya Sekar khawatir.
"Bapak menembak burung emprit yang beberapa hari ini selalu berbunyi di sekeliling rumah kita."
"Ha-ah, kenapa, Pak?"
"Bapak sudah jengah dengan keadaan rumah ini yang begitu mistis, selama beberapa hari ini."
"Tapi Bapak apa nggak ingat pesan mendiang Ibu untuk tidak sembarangan berburu."
"Sudahlah, Bu. Ini juga keadaan genting. Sudahlah, kita sebaiknya pergi sekarang!"
Alis Nyonya Sekar saling bertaut, "Mau kemana?"
"Pergi ke rumah Pak Kyai Din. Mungkin beliau tau apa yang sebaiknya kita lakukan."
"Ya, sudah, ayo, Nduk!" ajak Nyonya Sekar pada putrinya.
Tidak berapa lama kemudian, ketiga orang itu segera pergi meninggalkan rumah. Padahal ada sebuah pantangan yang berlaku di dalam Keluarga Handoko.
Di dalam peraturan itu tertulis jelas, jika ada sebuah peraturan yang tidak memperbolehkan semua anggota keluarga pergi secara bersamaan. Harusnya tetap ada yang tinggal di rumah. Begitulah pesan mendiang almarhum Ibunda Tuan Handoko.
Ternyata keadaan yang memaksa ketiganya melakukan hal itu. Bahkan karena terlalu banyak pikiran hingga tidak ada yang menyadari jika mereka sudah melanggar salahbsatxlarangan dari leluhurnya. Terbukti dengan kejadian yang terjadi siang itu di sebuah jalan. Seketika mobil yang dikendarai oleh Tuan Handoko bannya kempes. Akibatnya mobil harus berhenti mendadak, karena itu mereka menghentikan laju kendaraan.
"Loh, kok berhenti, Pak?"
"Entahlah, biar aku check dulu."
"Ya sudah, Pak. Hati-hati."
Saat hendak melihat ban depan, dari arah belakang melaju sebuah truk berkecepatan tinggi, hingga ia menyerempet tubuh Tuan Handoko. Seketika Dita dan Nyonya Sekar berteriak hampir bersamaan.
"Bapaaakk!"
"Maaaassss!"
Lalu apakah Dita akan siap dengan takdir selanjutnya?
BERSAMBUNG