
Semua yang dirasakan oleh Rani saat ini membuat pikirannya tidak bisa tenang. Perutnya yang tadi terasa lapar, kini sudah kenyang dengan sendirinya. Sejak membaca berita itu, perlahan rasa laparnya menguap begitu saja. Hampa di dalam dirinya semakin teras ketika mengetahui nasib sahabatnya sangatlah miris.
"Maafkan aku Dita aku kira kamu sudah hidup bahagia di dalam pernikahanmu, tetapi ternyata semua masih terjadi," ucap Rani penuh sesal.
Ingin rasanya Rani segera pergi ke Kediaman Handoko untuk menemui Dita, tetapi kondisi ibunya membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Hanya doa yang mampu ia panjatkan dari kejauhan saat ini.
Sementara itu di Kediaman Fano.
Lelaki tampan itu rupanya masih memikirkan ucapan asistennya kapan hari. Meskipun ada sebuah ketakutan besar yang menghampirinya, sepertinya hal itu tidak mengurangi rasa kekagumannya pada Dita.
Seperti tersihir, perasaan Fano seolah terhubung padanya. Setiap saat bayangan Dita selalu melintas di kepalanya. Bahkan saat ia sedang berkonsentrasi dengan pekerjaannya pun, bayangan Dita menari-nari indah di sana.
Tatapan, ekspresinya serta suaranya mampu membuat Fano bertekuk lutut tanpa diminta. Penolakan dari Dita tidak ada artinya, justru membuat Fano ingin mencoba untuk menjadikannya kekasih.
Fano bisa melihat dengan jelas jika Dita adalah wanita tipikalnya yang selama ini ia cari. Sosok wanita yang tegas, lugas dalam bertutur kata dan sangat berdedikasi. Meskipun hanya sebuah toko kecil tetapi ia mengelolanya dengan baik.
"Apapun yang engkau katakan, aku akan tetap mengejarmu, Dita, tidak peduli dengan ucapan miring orang lain," ucapnya dengan sangat mantap.
Meskipun begitu, ia merasa jika tidak ada hal yang bisa menghalangi ikatan jodoh seseorang. Sekalipun itu sebuah takdir yang sangat buruk, tetapi Fano akan tetap mencoba.
Saat Fano tenggelam dalam pemikirannya, tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar kamar.
Tok ... Tok ... Tok
"Permisi Tuan Fano," seru salah satu pekerja dari luar kamar.
Fano tahu jika itu pasti Mbok Nem, kepala pelayan di rumahnya.
"Masuk, Mbok."
Tidak lama kemudian muncul salah satu pekerja yang sudah berusia lanjut di rumah itu. Ia datang ke dalam kamar sambil membawa satu nampan susu hangat favorit Tuan Mudanya tersebut.
"Ini susu hangatnya, Tuan."
"Terima kasih banyak, Mbok. Taruh saja di situ!"
Saat pekerja di rumahnya itu hendak keluar, Fano mencegahnya.
"Mbok, tunggu dulu. Ada sesuatu yang harus aku tanyakan padamu."
Nada ucapan Fano terdengar sangat serius, bahkan pekerjanya itu belum pernah mendengarnya. Sehingga pekerja itu langsung berbalik dan menghadap Fano.
"Katakan saja apa yang sebenarnya telah mengganjal di hati, Tuan?"
"Mbok apa pernah mendengar cerita tentang Wanita Bahu Laweyan?"
Mbok Nem yang nota bene adalah orang asli Jawa tentu sudah pernah mendengar cerita tentang Wanita Bahu Laweyan. Akan tetapi saat anak majikannya itu menanyakan hal itu sepertinya sangat serius.
Sebelum mulai bercerita, Mbok Nem berdehem sebentar. Lalu setelahnya ia mulai bercerita.
"Memangnya kenapa Tuan menanyakan hal itu? Apa Tuan sudah bertemu dengan wanita seperti itu?"
"Aku sih kurang yakin, Mbok. Hanya saja sepertinya wanita yang sedang ingin aku dekati ciri-cirinya hampir mirip."
Mbok Nem terkejut akan ucapan putra majikannya itu, karena yang ia tahu sebenarnya sudah sejak lama ia telah dijodohkan. Hanya saja, majikannya belum bercerita kepadanya.
Mungkin saja, takdir berkata lain. Akan tetapi ia tidak berani membicarakan terlebih dahulu sebelum majikannya memberi perintah.
"Kok diem, Mbok. Apa Mbok Nem tidak pernah mendengar hal itu?"
"Hm, itu Tuan ... Sebaiknya Tuan menghindari Wanita Bahu Laweyan agar terhindar dari nasib sial," ucapnya dengan nada serius.
Fano hanya nyengir saat mendengar penuturan dari kepala pelayannya itu. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini.
"Ya sudah, pergilah Mbok. Biar saya sajalah yang mengatur hidup saya."
Mbok Nem hanya bisa menghela nafasnya lalu permisi pergi.
"Kalau begitu saya permisi dulu, selamat malam, Tuan."
"Malam."
"Semua orang sama saja, tidak ada yang bisa mengerti perasaanku," gumam Fano.
.
.
BERSAMBUNG