Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 216. PERTOLONGAN LELUHUR


Tubuh Dita memang selamat, tetapi tidak dengan jiwanya. Di dalam mimpinya ia masih saja disiksa oleh sosok lelaki mirip Juna. Tampak sekali ia bringas ketika menyiksa Dita.


Entah bagaimana caranya dia bisa melakukan hal itu, karena Dita yakin selama ini tidak ada makhluk halus yang berhasil menyentuhnya.


"Jika kau memang ingin melampiaskan amarahmu kepadaku, lakukan jika itu bisa membuatmu bahagia."


"Kita tidak pernah saling mengenal, kita juga tidak pernah saling terhubung satu dengan yang lain akan tetapi pada ada sebuah pertanyaan yang ingin ditanyakan kepadamu."


Makhluk itu justru tertawa terbahak-bahak ketika mendengar Dita ingin bertanya kepadanya.


"Katakanlah apa yang menjadi keingintahuanmu, biar setelah ini lebih bebas untuk menyiksa jiwamu di sini."


Entah bagaimana caranya dan datang dari mana tiba-tiba makhluk yang mirip dengan Juna tersebut terkena sebuah serangan yang berasal dari cahaya putih, sangat menyilaukan mata akan tetapi mampu menembus dinding pertahanan dari makhluk itu.


Makhluk itu tampak mendesis, kuku-kuku panjangnya keluar dengan sendirinya. Bahkan gigi taringnya mengeluarkan tetesan air yang berwarna hitam pekat bercampur aroma anyir. Mampu membuat siapapun yang menciumnya akan mual seketika.


Dita sangat hafal dengan makhluk yang biasa datang kepadanya itu. Meski takut pada awalnya tetapi akhirnya Dita memberanikan diri menatapnya. Untuk sesaat raut wajah menyeramkan itu berubah-ubah wujud hingga menyerupai bentuk wajah mantan suaminya yang telah meninggal.


"I-ini tidak mungkin! Kenapa ia muncul dengan tiba-tiba dan sampai menyerupai mereka?"


Makhluk itu tampak menyeringai dan sesekali terlihat tersenyum ke arah Dita hingga tanpa ia sadari sosok Juna lebih dulu menyerangnya. Kilatan cahaya itu saling beradu kekuatan hingga salah satu akhirnya terpental karena kekuatannya kalah jauh.


Saat hatinya ingin mengucapkan zikir entah mengapa justru hal itu semakin menyakiti dirinya sendiri. Lagi dan lagi bisikan halus itu memperingatkan agar Dita tidak membaca zikir.


Mbok Nem yang masih memulihkan dirinya di dunia nyata tidak tahu jika jiwa Dita belum kembali. Hingga saat ada sebuah angin yang berhembus kencang mampu membuat pintu kamar milik Dita terbuka lebar.


"Si-siapa kamu?"


Mbok Nem menoleh ke arah mereka dan terkesima ketika melihat bagaimana caranya sosok itu bisa sampai di gubuk Dita. Menurut Mbok Nem keberadaan Dita sudah disembunyikan dari siapapun sehingga sangat mustahil bisa diendus oleh manusia biasa.


Lagi pula Mbok Nem sudah memberikan benteng di sekelilingnya. Sehingga makhluk biasa tidak bisa menembus ke sana. Aroma bunga kamboja tiba-tiba menyeruak memenuhi indera penciuman Mbok Nem.


Dalam sekejab tiba-tiba saja Mbok Nem menyadari bahwa itu adalah leluhur Dita.


"Maaf ... maaf, Kanjeng Ibu yang tidak menyadari kehadiran jenengan," ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya ke depan.


Sosok tersebut mengulas senyum lalu setelahnya segera mendekati tubuh Dita. Baru saja ia mendekat rupanya tubuh Dita bereaksi.


Dari tubuh Dita muncul sebuah cahaya kebiruan dan membuat semua barang di sekelilingnya seolah bergetar karena kekuatan yang berasal dari leluhur Dita yang mentransfer ilmu kanuragan miliknya kepada Dita.


"Bertahanlah cucuku, akan kubawa kau kembali ke sini!"