
Ternyata Rangga mempunyai niat buruk pada Dita. Obsesinya terhadap gadis itu terlalu tinggi, hingga ia menghalalkan segala cara untuk mendekati Dita.
"Apa Den Ayu mau aku tunjukan sebuah curug yang indah dan bagus pemandangannya?"
"Loh memangnya ada, trus dimana?"
"Ada Den Ayu, letaknya tidak terlalu jauh hanya saja membutuhkan tenaga yang ekstra agar cepat sampai di sana."
"Baiklah, kalau begitu aku mau."
Dita memang sangat menyukai sebuah kegiatan alam. Ia berani mengambil resiko meski terkadang kakinya menjadi lecet. Setelah Dita menyanggupi hal tersebut, mereka bergegas pergi. Melihat Dita yang kepanasan, Rangga memberikan topinya agar bisa dipakai Dita.
"Terima kasih, Rangga."
"Sama-sama Den Ayu."
"Cukup-cukup, dari tadi kamu selalu menyebutku Den Ayu, panggil saja Dita, bukankah kita sepertinya seumuran?"
"Waduh, maaf, saya nggak berani."
"Ya sudah, ayo kita jalan lagi, takutnya kita bakal kesorean sampai sana."
Rangga mengangguk, tetapi ia tidak tahu jika saat ini Sam sedang menyusul Dita bersama sopir keluarga Handoko. Mereka menaiki sepeda motor untuk mencari Dita.
"Nah, sepertinya di depan itu Den Ayu, Den Bagus," ujar Pak Joko memberi tahu Sam.
Mendengar ucapan Pak Joko, Sam menajamkam penglihatannya.
"Benar itu, Dita, Pak. Mari kita percepat laju kendaraannya."
"Baik Den Bagus."
Pak Joko segera mempercepat laju kendaraannya. Hingga beberapa saat kemudian mereka berhasil menyusul Dita dan Rangga.
"Ckit ...."
Pak Joko mengerem kendaraannya tepat di depan Rangga.
"Dita ...." panggilnya saat berhasil mengejar Dita.
"Ma-maafkan kami, Mbak, Mas."
Pak Joko yang berhenti di depan menahan tawanya. Lalu sesaat kemudian, keduanya segera melanjutkan perjalanan mereka mencari Dita.
"Kamu mau apa, Rangga?"
Den Ayu naik saja ke punggungku, pasti capek kan. Biar saya gendong ketika naik nanti. Jalan di depan itu menanjak Den, takutnya nanti malah membuat Kanjeng Ibu semakin marah kepada saya.
"Ya, ampun, nggak mungkin lah, Ibu kan nggak tau kalau aku keluar sama kamu. Lagi puka, Ibu nggak perduli saya pergi."
"Perasaan saya nggak enak, lo Den Ayu."
"Oalah, ya sudah kalau begitu. Mari kita jalan lagi."
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, keduanya segera pergi melanjutkan perjalanan mereka. Namun, tiba-tiba awan gelap datang. Dita dan Rangga sempat panik karena hal itu. Lalu sesaat kemudian ia baru ingat jika ada saung yang cocok untuk mereka berteduh.
"Sepertinya sebentar lagi akan hujan, bagaimana ini?"
"Kita berteduh atau pulang, ya?"
Dita sejenak terdiam dan bersiap untuk memikirkan sesuatu. Kalau ia pulang maka akan ada Sam di sana, tetapi jika tidak kembali maka mereka akan terjebak di sini.
"Sebaiknya kita balik aja, Sam. Soalnya hari sudah mendung, takutnya akan semakin gelap."
"Tapi Den Ayu ...."
Dita yang merasa tidak nyaman segera turun dan memutar balik arah untuk kembali ke rumah, tetapi hal yang tidak terduga terjadi.
"Maafkan saya Den Ayu," ucap Rangga yang sudah mengunci pergerakan Dita.
"Rangga, apa yang kamu lakukan?" ucap Dita sambil memberontak karena merasa terancam.
Namun, gerakan Dita sudah terkunci oleh Rangga, ia pun mele-mas karena oba*t bius yang diberikan olehnya. Hingga sesaat kemudian ia pun pingsan.
Rangga bersyukur karena ia berhasil membuat Dita pingsan. Karena takut telihat oleh orang lain maka Rangga segera memanggul Dita dan membawanya pergi ke gubuk terdekat.
"Akhirnya kau berhasil aku miliki Anindita. Sudah sejak lama aku menginginkan dirimu, hahaha ...."