
Ketika pikiran tidak lagi sejalan dengan akal sehat, terkadang hal-hal yang tidak diketahui itu terasa sangat nyata, berada di samping kita. Ada beberapa hal yang kadang tidak dapat dirasakan oleh nalar, tetapi mereka benar-benar ada di antara kita. Namun, jangan pernah mengganggu mereka. Dengan begitu mereka tidak akan mengganggu kita, apalagi jika mereka tidak terasa terganggu.
"Bisikan-bisikan halus membuat kita kadang tidak bisa berpikiran jernih. Ada banyak hal yang membuat kita tidak bisa mengetahui keinginan mereka, tetapi sayangnya, mereka bisa merasakan apa yang kita pikirkan atau kita takutkan."
Bahkan hutang di kehidupan yang lalu mungkin akan berdampak kepada keturunan mereka beberapa generasi ke depan. Yang mana mereka tidak tahu bahwa takdir mereka telah digariskan sejak nenek moyang mereka masih hidup.
Sementara ini, Dita masih menjalankan garis takdirnya yang tidak pernah ia minta, tetapi terjadi dan terus terjadi hingga saat ini. Bukan karena kesalahan atau pun perjanjian dari nenek moyang mereka, tetapi itu sudah menjadi garis takdir mereka.
Melihat hal ini, kedua orang tua Dita belum menentukan siapa yang akan menikah dengan Dita selanjutnya, hal ini karena mereka masih menjaga hati Dita dan tidak ingin menyakitinya lebih dalam.
...***...
"Dita, apa kau berada di dalam?" seru Nyonya Sekar dari luar kamar.
"Kenapa aku merasa pusing?" keluh Dita saat bangun tidur.
Dita berjalan tertatih saat ini, saat ia hendak meraih handle pintu, tubuhnya tiba-tiba saja ditembus sesuatu yang tidak kasat mata dari arah belakang tubuhnya. Menghantam tubuh Nyonya Sekar hingga membuatnya jatuh terduduk.
"A-apa itu tadi?"
"Di-Dita ....!" seru Nyonya Sekar yang sesaat kemudian teringat jika Dita masih berada di dalam kamar.
Belum sempat Nyonya Sekar masuk, sesaat kemudian, Dita terlihat di ambang pintu.
"Ibu ...."
"Dita, Sayang."
Nyonya Sekar memeluk tubuh putrinya dengan penuh kasih sayang. Tidak ada hal lain yang bisa membuatnya tenang kecuali melihat putrinya tidak kenapa-napa.
"Kamu nggak kenapa-napa, kan?"
"Kenapa dia selalu ada, sebenarnya siapa dia?"
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu seperti melihat sesuatu?"
"Eh, tidak ada apa-apa, Bu. Aku sama sekali tidak merasakan ada sesuatu pun di sini saat ini. Ibu tenanglah, aku baik-baik saja."
Nyonya Sekar membelai lembut kepala Dita. Lalu sejenak meninggalkan Dita sesaat kemudian.
"Kamu segera ke ruang makan, sarapan sudah siap!"
"Iya, Bu."
Dita kembali masuk ke dalam kamar tetapi ia terkejut ketika melihat bayangan hitam tersebut tersenyum di hadapannya. Hanya berjarak satu jengkal, wajah mereka hampir saja bertemu. Ia tersenyum menyeringai lalu sejenak kemudian, ia pergi dengan tawa yang menggelegar.
"Astaga, dia benar-benar ada, tetapi makhluk apa barusan?"
Detak jantung Dita terasa sangat berdebar-debar, hingga tidak sengaja ia menyenggol vas bunga di kamar itu.
PRANG ....
...***...
"Ditaaaa ...."
Sam yang baru saja bangun tidur berteriak sekencang-kencangnya. Ia begitu ketakutan saat makhluk berwarna hitam pekat tersebut membawa Dita pergi meninggalkannya. Nafas Sam begitu terasa tercekat saat ini. Seolah ia baru saja mengalami hal yang sangat mengerikan.
"Mahkluk apa tadi?" ucapnya penuh rasa penasaran.