Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 201. BERSYUKUR MEMILIKIMU


Merasa jika kepergian mereka ke luar negeri tidak ada gunanya, Dita lebih memilih untuk kembali ke Indonesia saja.


"Mas aku kok berpikir lebih baik kita kembali saja ke Indonesia. Daripada kita menghabiskan uang yang banyak di sini dan hasilnya sama saja. Bukankah itu sama halnya dengan menyiksa diri kita sendiri."


Fano terlihat memegang tangan Dita, mencoba memberikan sebuah harapan agar istrinya lebih merasa tenang. Ditatapnya wajah istrinya itu dalam-dalam untuk mengingatkan bagaimana perjuangan cinta mereka hingga mereka sampai ke tahap seperti ini.


"Aku paham dengan semua hal yang Mas katakan padaku, hanya saja terkadang rasa ragu itu begitu menyiksa, sehingga tidak ada yang bisa menguatkan kita selain iman."


"Apa yang kau katakan itu benar Dita maka dari itu marilah kita berjuang bersama-sama."


"InsyaAllah, Mas."


"Ketahuilah jika saat ini aku bertahan di sini karena aku masih mempertahankan cinta kita. Aku takut jika kita kembali ke Indonesia, aku tidak akan bisa menemanimu lebih lama lagi Dita."


"Setidaknya bertahanlah untuk menjadi Ibu dari anak-anakku. Hanya itu saja yang aku minta, setelah itu jika aku pergi pasti aku sudah merasa tenang."


Cairan bening itu lolos begitu saja dari kedua mata Dita, mengisyaratkan jika perkataan Fano benar-benar menyentuh hatinya yang terdalam. Ia tidak pernah merasa dicintai begitu besarnya sama seperti yang diberikan oleh suaminya saat ini.


Fano telah berjuang sangat lama hanya untuk bisa mendapatkan cinta dan hati Anidita Ayu Puspa Bathari.


"Terima kasih untuk semua cinta yang pernah kau berikan kepadaku, Mas."


Untuk sesaat di antara keduanya tidak ada perbincangan apapun. Hanya keheningan yang terdengar di sana.


"Aku merasa jika semua ini adalah takdir Allah. Meskipun demikian aku merasa jika semua yang terjadi merupakan sebuah ujian yang besar. Mampu atau tidaknya diriku menjalani takdir ini semua tergantung kepadamu."


"Selama kamu masih berada di sisiku mungkin aku bisa menjalani takdir ini. Akan tetapi jika Mas meninggalkanku, aku tidak yakin apakah aku masih bisa bangkit atau aku akan jatuh terpuruk lebih dalam."


Tangan Fano terulur membelai kepala Dita, mencoba menyalurkan segala ketenangan agar istrinya bisa merasa lebih tenang saat ini. Setelah beberapa saat akhirnya semuanya telah selesai, Dita terlihat sudah lebih tenang saat ini.


"Mas kebanyakan nangis kok jadi lapar, ya?"


"Ya sudah, ayo beli makan, aku juga lapar."


Saat Fano hendak berdiri, Dita menarik bajunya, tentu saja hal itu membuat Fano menengok.


"Ada apa, Sayang?"


"Mataku pasti bengkak, gimana ini?" ucap Dita sambil mengambil kaca rias miliknya.


Fano tersenyum melihat tingkah Dita, hingga sesaat kemudian ia lalu mengecup kedua mata istrinya secara bergantian.


"Sebagai obat penyembuh biar nggak bengkak lagi. Love you sayang."


Akhirnya senyuman Dita terbit ketika suaminya memberikan gombalan kepadanya. Rasa itu membuat bunga-bunga muncul di perut Dita.


"Aku nggak menyangka kamu pandai menggombal, tetapi apapun itu aku bersyukur pernah menolakmu, Mas. Setidaknya hal itu membuat dirimu bisa berjuang lebih agar bisa mendapatkan aku."


"Benar, semua itu sempat membuatku drop hingga masuk ke Rumah Sakit. Beruntung Tuhan masih memberikan kesempatan kepadaku agar aku bisa merawat anak-anak dan calon istriku Kelak. Aamiin."


"Aamiin," ucap keduanya bersamaan.