Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 208. PEMBAWA SIAL


Dita sama sekali tidak pernah mengharapkan jika dirinya selalu diliputi dengan nasib buruk. Ingatannya kembali ke dalam beberapa tahun yang lalu. Di mana Dita masih berusia belasan tahun saat ia menyadari jika ia diramal oleh seseorang yang mengatakan bahwa kelak kehidupan Dita di masa depan begitu gelap.


Tertutup sebuah kabut gelap di mana Dita sama sekali tidak bisa membuka tabir gelap itu sampai takdir lelah dan membukanya sendiri untuknya. Bagaimana pun saat itu ia hanya bisa melihat jika dirinya sama sekali tidak pernah bisa terlepas ataupun lari dalam kenyataan.


"Kenapa melamun, Nak. Sudah beberapa hari ini Ibu melihat jika kamu lebih banyak melamun daripada tersenyum atau berinteraksi dengan kami."


Dita menoleh, "Memangnya ada apa? Bukankah semua ini menjadi suratan takdir untukku. Jadi untuk apa kalian berusaha untuk menghiburnya."


Terlihat sekali jika dirinya tidak pernah bisa move on ketika ditinggal Fano. Dita setiap hari tampak selalu menyalahkan dirinya.


Apalagi saat upacara pemakaman Fano, Dita benar-benar tidak bisa datang. Kini Dita semakin menunduk. Sedangkan Nyonya Sekar hanya menggantungkan tangannya ke atas sebagai akibat dimana saat ini ia sedang menjadi seorang orang tua yang tidak bisa melindungi putrinya sendiri dari dunia luar.


Ucapan dan ungkapan kebencian orang-orang di luar sana sangat membunuh batin Dita. Kini saatnya Nyonya Sekar hanya bisa pasrah ketika melihat putrinya menyalahkan dirinya sendiri.


"Jika aku bisa memilih, maka ibu yang menggantikan dirimu di posisi ini, Nak. Tapi ibu sama sekali tidak bisa melakukan hal lain saat ini kecuali memberikan support agar kamu segera kembali lagi seperti dulu."


"Kamu pikir, aku yang meminta terlahir di dalam posisi seperti ini? Jangan harap. Aku selalu mengusahakan yang terbaik bukan karena aku takut dengan omongan dari orang di luar sana."


"Apakah kamu tahu bagaimana rasanya aku berjuang demi masa depanku sendiri?"


Nyonya Sekar memundurkan langkahnya. Dita semakin menunduk sembari memajukan langkahnya ke arah Sang Ibu.


Suara Dita yang semakin berat dan serak mampu membuat kesadaran Nyonya Sekar hampir saja hilang. Merasa jika Dita saat ini sedang dirasuki oleh roh jahat, Nyonya Sekar justru berlari keluar dari kamarnya.


Dita mendongakkan wajahnya ke arah Sang Ibu. Senyumnya terlihat menyeramkan ditambah lagi dengan kedua bola mata yang berwarna putih.


"Kamu kira aku ini anakmu, ha ha ha ...."


Padahal dalam kenyataannya, saat ini Dita berada di bawah selimut. Sejak tadi ia sudah terlelap di sana. Akan tetapi sosok yang menyerupai wajah Dita itu ternyata adalah perwujudan dari sosok laki-laki yang sering menyingkirkan semua lelaki yang menjadi suami Dita.


Kini ia telah merubah penampilannya kembali ke wujud aslinya. Bahkan terlihat saat ini ia jauh lebih menyeramkan daripada biasanya. Sosok itu mendekati Dita dan mengusap wajah cantik milik Dita yang hanya bisa dimiliki olehnya.


"Sampai kapan pun kecantikanmu hanyalah miliku seorang, Cah Ayu."


Bulu-bulu halusnya sangat lebat dan berwarna gelap. Air liurnya hampir menetes mengenai kulit tangan Dita. Bahkan karena terlalu lama berada di dekat Dita, kulitnya yang bersentuhan dengan Dita hampir melepuh.


Ia pun mengerang karena hal itu. Sorot matanya berubah merah menyadari jika tubuh Dita kini menolak kehadirannya.


"Erghhhh!"