Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 41. MENCOBA BERTAHAN


Nyonya Sekar begitu ketakutan ketika makluk itu kembali membayangi hidupnya. Padahal dulu ia sangat mencintai laki-laki tersebut saat masih berwujud manusia.


Setelah merasa lelah, Nyonya Sekar memilih untuk segera pergi ke kamar. Sejenak ia mengurung diri untuk menenangkan pikirannya. Akan tetapi sebelum ia masuk sempat berpesan pada Pak Joko untuk tetap mencari Dita.


Sementara itu Sam masih berteriak untuk beberapa saat. Hingga kekuatan doa dari Pak Joko berhasil membuat kesadaran Sam kembali. Belum sempat kepanikan berhenti, dari arah gerbang ada keramaian di sana.


Beruntung beberapa pekerja sudah sampai. Hingga Pak Joko meminta beberapa orang untuk mengantarkannya ke depan.


"Bawa masuk Den Bagus ke kamarnya, biar saya lihat ke depan."


"Baik, Pak."


Nyonya Sekar terisak di dalam kamarnya. Suara-suara halus itu mampu membelenggu dirinya. Membuat luka yang sudah ia tutup kembali terbuka. Seperti sebuah kaset usang yang kembali berputar tanpa ia minta.


Akan tetapi keributan di luar membuatnya harus berlari agar ia cepat sampai di depan rumah. Melihat putrinya diangkat salah satu pekerja membuat Nyonya Sekar begitu hawatir.


"Ada apa dengan putriku?"


Hampir semua orang yang berada di sana terdiam lalu sesaat kemudian, Pak Joko mulai angkat suara.


"Kenapa kalian diam?"


"Den Ayu mereka temukan di daerah dekat curug, lalu setelah ia pingsan."


Nyonya Sekar melihat ke arah ibu-ibu pemetik teh dan warga. Ia tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.


"Maaf untuk kepanikan saya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih."


"Sama-sama, Kanjeng Ibu."


Saat mereka pergi, Kanjeng Ibu melarangnya.


"Tunggu sebentar, ada sedikit ucapan terima kasih dari Saya."


Nyonya Sekar kembali ke kamar lalu menyerahkan satu amplop yang berisi uang dan menyuruh Pak Joko untuk diberikan pada mereka.


"Jangan lupa ucapkan rasa terima kasih dari saya."


"Baik, Kanjeng Ibu."


Nyonya Sekar segera kembali ke kamar Dita dan memeriksa kondisinya.


Karena di sana tidak ada dokter, maka ia segera menelpon dokter pribadi mereka. Berharap Dita dan Sam tidak kenapa-napa.


Dita terlihat sangat lusuh. Akan tetapi kondisinya baik-baik saja.


Di dalam mimpi.


"Kamu yang bernama Dita?"


Dita menoleh mencari siapa yang baru saja memanggilnya.


"Kenapa tidak ada orang?"


"Aku di sini Dita."


Selama Dita menajamkan pendengarannya, ia sama sekali belum menemukan apapun. Hingga tidak berapa lama kemudian ada seorang lelaki tampan mendekatinya.


"Kamu siapa?"


"Aku Wiratama, semalam aku yang menyelamatkan dirimu di gubuk."


"Oh ya, terima kasih banyak kak. Lalu kenapa kau mencariku?"


Wiratama berjalan pincang ke hadapan Dita. Ia memperlihatkan kakinya yang dirantai dengan sebuah rantai kapal yang berukuran besar. Di ujung rantai terdapat bola hitam di sana, mungkin itu yang membuatnya berjalan pincang.


"Kenapa dengan kakimu?"


"Panjang kalau aku menceritakan semua ini, aku hanya ingin minta tolong padamu untuk mengirimkan doa-doa kepadaku agar aku bisa lepas dari jeratan yang mengikat di kakiku ini."


"Bagaimana kalau aku tidak mampu, aku saja tidak pernah menolong orang."


"Kamu istimewa Dita, aku yakin kamu bisa menolongku. Setidaknya aku bisa meninggal dengan tenang."


"Baiklah aku akan mencobanya."


"Terima kasih."


Sesaat kemudian, bayangan tadi menghilang, hingga akhirnya Dita bisa membuka mata.


"Alhamdulilah," seru Nyonya Sekar sambil mengusap dadanya.