
"Apa maksud Bapak bilang begitu?"
"Apakah Bapak meminta Dita untuk menikah kembali dengan Mas Yudis?"
Nyonya Sekar memandang sendu wajah putrinya tesebut, tetapi tidak dengan Tuan Handoko yang terlihat marah pada Dita.
"Ke-kenapa ...."
Dita tidak bisa memahami isi hati kedua orang tuanya. Hanya karena untuk memajukan usaha mereka, Dita harus menikah karena perjodohan kembali.
"Kenapa kamu seolah menentang keputusan Bapak, Dita?"
"Apa kamu tidak setuju?"
Dita masih menunduk, dadanya bergemuruh. Entah kenapa Dita merasa ini bukan hal yang baik untuknya. Melihat wajah ayahnya, Dita merasa diperlakukan tidak adil.
"Apa kamu tahu selama ini Bapak dan Ibu selalu memikirkan kebahagiaanmu, apa kau tidak bisa sedikit saja menyenangkan hati kedua orang tuamu ini?"
Dita merasa bingung, di satu sisi ia tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya, di sisi lain ia belum siap menikah kembali. Rasa yang ia berikan pada Wisnu belum tergantikan oleh yang lain.
"Terserah kamu Dita, mau mengikuti kata hati kamu, atau mengikuti kata Bapak dan Ibu."
Tuan Handoko berdiri dan meninggalkan istri dan anaknya di ruang keluarga. Ia memilih kembali ke ruang kerja dari pada darah tingginya semakin naik.
Nyonya Sekar menatap putrinya yang terlihat sedih. Ia bisa merasakan ketakutan di dalam diri Dita. Baru saja ia melepaskan Juna, kini ia harus kembali di jodohkan dengan Yudistira. Nyonya Sekar memijat pelipisnya untuk sejenak.
"Bagaimana pun aku harus bisa menenangkan hati Dita, aku tidak akan rela jika melihat putriku terluka atau pun terpaksa."
Nyonya Sekar mendekati Dita. Dibelainya pucuk kepala Dita dan membiarkannya bersandar di bahu Nyonya Sekar.
Tangis Dita pecah saat Nyonya Sekar memeluknya. Dita merasa kecewa dengan sikap ayahnya yang selalu mementingkan harta dan tahta daripada kebahagiaan putrinya.
"Sabar ya, Nduk. Ibu tahu kamu sangat kuat. Ibu yakin jika suatu saat, kamu bisa mengerti semua hal yang terjadi saat ini semuanya demi kebaikan kamu di masa depan."
"Bu, apakah perasaan ku sama sekali tidak berarti?"
"Kenapa harus menikah lagi, kuburan Mas Wisnu saja masih basah. Belum lagi Juna masih sakit dan belum juga pulih. Kenapa harus secepat ini!"
Perang batin bergejolak di dalam hati Nyonya Sekar. Ucapan putrinya barusan menyadarkan akan takdir Dita yang mungkin saja berbeda dengan gadis pada umumnya.
Seharusnya Nyonya Sekar sadar, jika tubuh Dita sangat istimewa. Dua buah tanda lingkaran di punggung kiri dan kanan milik Dita atau yang sering disebut sujen pala terlihat sangat jelas. Sementara itu masih ada dua lingkaran di pan-tat kiri dan kanan yang disebut sujen bokong juga dimiliki sejak Dita lahir.
Dulu Nyonya Sekar menganggap hal tersebut wajar. Akan tetapi seiring berjalannya usia Dita yang semakin bertambah, membuat takdir lain tidak bisa lepas dari Dita. Hingga terus berjalan hingga saat ini.
"Bu, kenapa bengong, apa ucapan Dita salah?"
"Ti-tidak Nak, biarkan Ibu berbicara dengan bapakmu nanti. Sebaiknya kamu segera istirahat, hari sudah semakin larut. Tidak baik, kalau anak gadis Ibu begadang."
Nyonya Sekar mencubit gemas hidung Dita hingga membuat lengkungan senyum terukir di dalam wajah ayu Dita.
"Nah, kalau begitu kan tambah cantik, putri Ibu ini."
"Makasih ya, Bu. Dita sangat sayang sama Ibu dan Bapak."
...***...
"Lebih baik aku mandi air hangat saja, sepertinya bisa meredam badanku yang pegal-pegal!" gumam Yudistira.
Ia melangkah ke kamar mandi dan segera menyalakan air hangat untuk mengisi bathub. Sebelum masuk ia sudah memeriksa suhu air yang akan ia gunakan untuk mandi. Setelah dirasa cukup pas, ia segera masuk ke dalam sana.
"Hm, rasanya sangat nyaman sekali," gumamnya.
Sesaat ia memejamkan kedua matanya demi menikmati kenyamanan yang tersaji. Lalu, sesaat kemudian ia berusaha untuk membalurkan sabun ke tubuhnya.
"Andai Dita sudah menjadi istriku, pasti aku akan mengajaknya berendam bersama."
Belum selesai ia membasuh tubuhnya dengan air hangat, tiba-tiba saja suhu airnya bertambah dengan sendirinya. Yudistira sampai terjingkat karena terkejut.
"Kenapa airnya bertambah panas?"
Lama kelamaan semakin panas hingga terlihat seperti air mendidih.
"Astaga!"
Yudistira segera menarik handuk dan membelit tubuh bagian bawahnya. Karena ketakutan, Yudistira sampai berlari masuk kamar. Namun, lampu kamar tiba-tiba berkedip-kedip tidak menentu.
Membuat Yudistira semakin ketakutan, hingga ia terpeleset hingga jatuh. Kepalanya terantuk sudut meja dan mengeluarkan da-rah. Sesaat kemudian, ia pun pingsan.
...***...
Sementara itu, Sam seperti orang linglung ketika sampai rumah. Clara yang melihat adiknya berubah menjadi curiga.
"Kenapa adikku seperti ini, bukankah dia pamit untuk pergi melamar Dita? Kenapa jadi seperti ini?"
Clara yang sedih karena melihat adiknya berada dalam kondisi seperti itu, membuat ia harus menyuntikkan ob-at tidur pada adiknya. Ia tidak tega melihat Sam terkadang tertawa sendiri, kadang pulq terlihat sangat ketakutan karena bertemu dengan seseorang.
Kebetulan saat Sam pulang dari kediaman Dita, teman Clara baru saja berkunjung di sana.
"Adikmu kenapa?"
Clara yang tidak tahu kenapa adiknya menjadi seperti saat ini hanya bisa menggeleng. Akan tetapi, Damar bisa mengetahui apa yang sedang dialami oleh Sam.
"Maaf, Clara kalau aku boleh usul. Biasakah kita membawa adikmu ke seorang Ustadz atau Kyai?"
Clara menoleh pada Damar. Tatapan matanya menyiratkan banyak pertanyaan kenapa harus membawa adiknya ke seorang Ustadz atau Kyai.
"Untuk apa?"
"Untuk diobati agar ia bisa kembali seperti sedia kala."
"Memangnya dia sakit apa harus kesana. Bukankah kakaknya saja dokter, kenapa harus berobat ke kedua orang tadi?"
"Maaf, kalau sekiranya saran ku terlihat memaksa. Namun, hanya dengan membawa adik Anda ke tempat itu, jiwanya akan lebih bersih."
Clara mendengkus kesal. Bagaimana bisa membawa adiknya ke sana.