
Rani berjalan perlahan masuk ke dalam rumah mengikuti Dita. Karena ia basah kuyub, sehingga mau tidak mau ia langsung mengganti bajunya yang basah. Saat Rani mandi, Dita memasak mie rebus untuk dua porsi dan membuat teh hangat.
Selama memasak, pikiran Dita terpaku pada sosok Danu yang tidak mau menginap. Ia sengaja membiarkan Danu pergi karena memang kondisi rumahnya sepi. Dita juga takut kalau nanti pikiran dari warga sekitar menjadi aneh-aneh terhadapnya.
Meskipun keluarganya cukup terpandang, tetapi ia tetap takut akan hal tersebut. Bisa-bisa warga nekad menggerebek rumahnya kalau ia tidak waspada. Terlalu asyik melamun membuat Dita tidak sadar jika Rani sudah berada di sisinya cukup lama.
"Hallo ...."
"Astaga Rani, ngapain kamu di situ?"
"Liatin kamu, katanya mau buatin mie sama teh hangat, aku tunggu dari lama ternyata sama aja nggak ada apa-apanya?"
"Eh, maaf sampai lupa."
Dita bergegas menuang air panas itu ke teko. Lalu sebagian lagi dibuat masak mie. Melihat temannya masih hobby melamun, Rani mengambil alih hal tersebut.
"Biar aku aja, Dit. Aku kok ngerasa kamu banyak melamunnya, takut pusing aku."
"Wkwkwk, ya udah kalau begitu. Silakan aja. Maaf ya menunggu lama."
"Iya, aku maafkan. Kamu duduk aja gih."
Rani yang sudah terbiasa memasak lebih cepat dalam mengoperasikan peralatan masak. Tidak perlu waktu lama, racikan mie plus telor ceplok dan teh hangat siap untuk dinikmati.
"Silakan dinikmati ...."
Sruput ...
"Hm, yummy, enak banget."
Rani memperlihatkan cara makan mie instan dengan gayanya, akan tetapi sesaat kemudian ia mendengar suara orang menyapu di luar rumah.
Srek ... srek ... srek ....
"Dita, pekerja Lu kok rajin amat, jam segini udah menyapu?" ucapnya di sela-sela makannya.
"Para pekerja yang mana, jam segini mereka belum pada datang, kali. Kalau udah datang, nggak mungkin banget kan gue masak buat Lu! Karena pasti mereka yang memasak buat gue."
"Eh, iya juga ya?"
Rani masih asyik memakan mie instannya. Lalu sesaat kemduian ia pun berbicara kembali.
"Eh, iya juga sih. Akan tetapi rasanya masih agak aneh deh, siapa juga yang menyapu jam segini? Gue aja ogah bangun, mending tidur pake selimut hangat deh."
Rani menggaruk kepalanya yang tidak gatal, akan tetapi tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang.
"Kenapa rasanya jadi serem, ya? Nih mulut suka ngomong sesuka hati sih!" gerutu Rani di dalam hatinya.
Dita hanya mengedikkan bahunya untuk sesaat. Ia tidak suka memikirkan hal lain kecuali Danu.
Sementara itu Danu masih berteduh di pos ronda dengan baju yang sudah basah kuyup. Sesekali pikirannya teringat akan kecantikan Anindita.
"Sedang apa ya, dia? hhh, kenapa aku selalu teringat akan wajah gadis itu?"
Entah kenapa kedua muda mudi tersebut saling terhubung satu sama lain. Seperti ada benang merah yang menghubungkan keduanya.
"Ini pula kenapa hujan tiba-tiba turun? Apa aku harus berteduh hingga pagi? Ya ampun, beginikah rasanya tersesat?"
Danu terkekeh akan ucapannya sendiri. Samar-samar ia melihat sosok bayangan hitam yang sepertinya memperhatikannya sedari tadi. Tidak ingin berpikiran buruk, Danu membaca shalawat untuk menenangkan dirinya.
Lagi pula ia tidak bisa melakukan apapun saat ini kecuali berdoa dan shalawat. Danu memang hidup di kota akan tetapi ajaran agama yang dimilikinya lumayan kuat. Ia juga rajin beribadah, pantas saja wajahnya selalu bersinar, bersih, dan menenangkan ketika dipandang.
Beberapa saat kemudian, hujan telah reda. Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh. Danu terbangun dengan sendirinya, lalu mencari sumber suara tersebut. Langkahnya terhenti di sebuah musholla. Banyak warga yang sudah berdatangan untuk sholat subuh berjamaah.
Namun, sosok yang mengikuti Danu belum pergi, ia masih mengamatinya dari kejauhan. Sorot mata berwarna merah tersebut tidak bisa mendekati Danu, karena aura Danu berbeda dengan para lelaki yang pernah mendekati Dita. Oleh karena itu, makhluk tersebut mendengus kesal saat ini.
Kuku-kuku panjangnya ia gunakan untuk mencakar-cakar tanah. Lalu sesaat kemudian ia pergi karena sang surya hendak muncul dari peraduannya. Cahaya kecemasannya sudah terlihat menghiasi cakrawala di ufuk timur.
Kicauan burung terdengar menyemarakkan suasana pagi. Dita yang terjaga sepanjang malam kini berniat ingin pergi ke kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti karena ibunya memanggil.
"Dita ... Dita ...."
"Dalem, Bu. Sebentar Dita ke sana."
Saat ia membalikkan badan, Dita terkejut karena dihadapannya ada wajah penuh bulu tersebut. Jaraknya sangat dekat, hampir saja hidung mereka bersentuhan. Air liur makhluk tersebut terus menetes membuat Dita mual, tetapi ia tidak bisa menggerakkan kakinya karena terkunci.
Sepersekian detik berikutnya ia menghilang, membuat Dita baru bisa bernafas kembali.
"Astaga, kenapa dia datang lagi, apakah dia akan ... nggak boleh ada kematian lagi setelah ini, nggak boleh!"
Dita segera berlari meninggalkan lorong dan segera menuju kamar ibunya.
Ckitt ....
Dita mengerem mendadak, sebelum masuk kamar ibunya, Dita menormalkan kembali detak jantungnya baru kemudian membuka pintu.
"Dalem Bu, Dita sudah di sini, ada yang bisa Dita bant--?"
.
.
Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini