Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 61. BERTEMU KEMBALI


Meskipun bukanlah warga asli daerah sana, akan tetapi Danu ikut serta dalam prosesi pemakaman warga dusun sebelah. Sebagai warga dusun sekaligus juragan tempat Pak Joko bekerja, Dita dan Nyonya Sekar datang ke pemakaman.


Dita berpakaian serba hitam, begitu pula dengan Nyonya Sekar dan Nyonya Anggraeni. Rani sebagai sahabat Dita ikut serta menemaninya.


"Dita, kamu baik-baik saja, kan?"


"Iya, Ran. Aku hanya sedih karena Pak Joko merupakan orang baik dan senior yang bekerja di rumah kami."


"Iya, aku tahu, tetapi kenapa pandangan orang-orang terlihat aneh kepadamu, sih?" gumam Rani dengan mata terus menyorot para pelayat yang datang.


Rani mengusap tengkuknya yang tiba-tiba bergidik. Bulu roma Rani bahkan sudah berdiri tegak sedari tadi. Awan yang semula sembunyi kini telah datang berarak-arakan.


Menghiasi langit yang semula biru kini menggelap. Hawa di sekitar tempat pemakaman kini telah berubah menjadi lembab. Hingga membuat semua pelayat bergegas kembali ke rumah.


Tidak ada yang berani mengusik ketenangan Keluarga Handoko, tetapi satu pemuda terlihat sedari tadi memperhatikan Dita dari tempatnya.


"Bukankah itu Dita? Jangan-jangan yang dikebumikan ini adalah pekerja yang semalam aku tolong?"


Danu bermonolog pada dirinya. Banyak sekali pertanyaan yang menghinggapinya. Saat Dita beranjak dari tempat duduknya, ia baru menyadari kehadiran Danu.


"Mas Danu?" gumam Dita.


Akan tetapi mereka tidak berani saling menyapa satu sama lain. Mereka hanya mengulas senyum untuk sesaat. Hingga tiba dimana Danu hendak mendekati Dita, tangannya dicekal oleh seseorang.


Danu menoleh, dilihatnya lelaki tampan berbaju hitam. Wajahnya pucat tanpa ekspresi dan tangannya sangat dingin. Entah kenapa Danu merasakan firasat yang tidak enak.


"Maaf, Anda siapa?"


Lelaki itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Danu, pandangannya bahkan tidak berubah. Ia tetap memandang ke arah Dita. Danu sampai mengipas-ngipaskan tangannya di hadapan lelaki itu, tetapi anehnya pupil matanya sama sekali tidak bergerak atau pun terpengaruh.


"Mas, woi Mas."


Danu sudah mulai jengah, lalu sesaat kemudian ia baru berbicara.


"Jangan dekati wanita itu, jika kau ingin selamat."


Perkataan yang singkat tetapi penuh makna. Hanya saja Danu mengabaikan hal itu, ia merasa Dita bukanlah makhluk yang harus dijauhi ataupun dikatakan pembawa sial.


"Memangnya kenapa?"


"Astaghfirullah."


Danu mengusap dadanya untuk sesaat lalu pergi. Namun, ia kehilangan Dita. Sepertinya saat ia berbicara dengan lelaki tadi, yang datang bukanlah manusia dan makhluk halus. Mungkin ia ingin menghilangkan jejak Dita dari hadapannya.


Diperjalanan pulang.


Dita masih mengamati pemandangan hamparan kebun teh yang tertutup awan gelap. Benar saja sesaat kemudian hujan turun dengan lebatnya.


"Bagaimana keadaan Mas Danu, apa ia kehujanan lagi?"


Dita terkikik untuk sesaat. Ia tidak menyangka di dalam dua kali pertemuannya dengan Danu harus diakhiri hujan lebat.


"Sial, kenapa hujan lagi? Lama-lama bajuku habis karena belum kering," gerutunya sambil berteduh di bawah pohon kedondong.


Akan tetapi daunnya sangat lebat, sehingga bisa dijadikan tempat untuk berteduh meski hanya sesaat.


"Aduh, kenapa hujannya makin lebat, bagaimana keadaan bocah ngeyelan itu?"


(ngeyelan\= suka membantah)


Beruntung sesaat kemudian muncul salah seorang pemuda yang rumahnya dekat dengan rumah Nenek Romlah. Sehingga nenek segera memanggil pemuda tersebut.


"Ndu, Pandu ... kemari!"


"Saya, Nek. Ada apa, ya?"


"Tolong carikan cucuku si Danu, dia belum kembali dari melayat, padahal hujan sangat lebat."


"Baiklah, Nek. Nenek jangan khawatir, silakan nenek masuk terlebih dahulu."


"Terima kasih, Ndu."


"Sami-sami. Saya permisi ya, Nek."


Nenek Romlah mengangguk lalu segera masuk karena angin semakin kencang bercampur hujan lebat.