Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 51. TAKDIR ANINDITA


"Maaf ...."


Hanya kata itulah yang muncul di dalam pikiran Dita. Ia masih menunduk karena malu dan merasa telah mencoreng nama baik keluarga suaminya.


"Dita, apa yang kamu pikirkan, kita adalah sebuah keluarga, tidak ada yang membawa sial di sini, semuanya sudah menjadi takdir Ilahi."


Nyonya Anggraeni tetap membela Dita saat ini. Meskipun begitu tidak dengan Rista yang masih membenci Dita. Nampak sekali sikap tidak ramah yang ditunjukkan Rista pada kakak iparnya tersebut. Berbanding terbalik dengan Rista beberapa bulan yang lalu saat pertama kali Wisnu membawanya ke rumah.


...**FLASH BACK ON**...


"Dek, adek ... sini turun," panggil Wisnu kepada adik perempuan satu-satunya itu.


Rista yang baru saja masuk kuliah menghampiri Dita dan langsung menyukai kehadirannya saat itu.


"Hai Kak, aku Rista, adik Mas Wisnu satu-satunya dan paling imut," ucapnya dengan manja.


Wisnu membelai lembut kepala Rista, serta menggandeng salah satu tangan Dita. Mereka terlihat sebagai calon ipar yang sangat akrab. Apalagi Rista sudah lama mengidamkan saudara perempuan.


"Katanya pengen kakak perempuan, ini Mas sudah bawakan Mbak Dita untuk menemani kamu."


"Makasih ya, Mas Wisnu tersayang. Rista pinjem Mbak Dita dulu, oke."


Tanpa menunggu persetujuan dari Wisnu, Rista sudah mengajak Dita masuk ke dalam kamarnya. Meski baru pertama kali bertemu, tetapi semuanya terlihat sangat akrab.


Sampai suatu ketika, setelah pernikahan terjadi insting alami Rista baru berfungsi kembali. Akan tetapi sudah sangat terlambat jika digunakan. Hingga kematian Wisnu akhirnya terjadi. Sejak saat itu pula, Rista mengubah rasa sayangnya menjadi kebencian yang mendalam.


...**FLASH BACK OFF**...


"Kenapa bengong, Dita?" tanya Nonya Anggraeni.


"Eh, maaf, saya tidak kenapa-napa, Kok Bu."


"Ya sudah, ayo dinikmati makanannya."


Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Nyonya Sekar memulai pembicaraan dengan Nyonya Anggraeni. Tampak serius hingga membuat semuanya terdiam dan menunggu dimana Dita bersuara.


Sesuai dengan rencana awal, meskipun terjadi kekacauan di hari ke seratus Wisnu meninggal dunia, Dita dan nyonya Sekar tetap mengutarakan keinginan mereka.


"Mohon maaf sebelumnya, Jeng. Jika ucapan saya ada yang menyinggung tetapi bukan itu maksud saya yang sesungguhnya. Kedatangan kami ke sini adalah untuk meminta ijin kepada kalian berdua bahwa satu minggu lagi, Dita akan menikah kembali. Kami datang ke sini untuk meminta doa dan restu dari Keluarga Anda."


"Syukur alhamdulillah, akhirnya Dita kembali menikah, semoga pernikahan kalian langgeng sampai akhir hayat. Aamiin."


"Aamiin."


"Cuma satu pesan ibu, meskipun kamu nanti sudah menikah, jangan lupakan ibu lo, nanti kalau ibu kangen bagaimana?"


"Iya, Bu. InsyaAllah Dita akan maen ke sini kalau Mas Yudis mengijinkan."


"Baguslah kalau begitu."


Nyonya Anggraeni menoleh pada putrinya, Rista.


"Kamu tidak ingin memberikan doa untuk kakak ipar kamu, Nak?"


"Mantan kakak ipar, Bu. Bukankah sebentar lagi dia akan menikah kembali?"


Sorot mata Rista tetap tidak ramah. Bukannya mendoakan kebaikan untuk Dita, tetapi ia seolah memberikan doa yang jelek untuknya.


"Selamat untuk rencana pernikahannya kembali, Kak. Semoga suamimu tidak kenapa-napa setelah menikah denganmu nanti."


Sontak Dita menatap tajam ke arah Rista. Bagaimana bisa ia membaca pikiran Dita tentang kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti.


Ucapan Rista yang seolah mengatakan jika mungkin suami kedua Dita akan bernasib sama dengan kakaknya, tentu saja hal itu membuat ketegangan terjadi di ruang keluarga. Tidak ada yang berani berbicara ataupun mengomentari ucapan Rista barusan, bahkan Nyonya Anggraini sekalipun.


Ia paham betul jika putrinya itu adalah seorang indigo, namun tidak dengan keluarga Dita. Mereka menganggap ucapan Rista barusan sebagai kutukan. Padahal niat baik mereka datang ke rumah itu, untuk meminta izin sekaligus restu dari orang tua Wisnu.


Sebab setelah ini, tentunya Dita akan lebih jarang datang ke rumah tersebut setelah menikah nanti. Apalagi setelah ini pun Dita akan menjadi menantu di rumah keluarga yang lain. Sementara itu dari kejauhan ada sepasang mata yang terus mengamati Dita sedari tadi.


Sorot mata itu tidak pernah berpindah, sementara pandangan Dita terus mengarah ke sudut ruangan di mana kamar Wisnu berada. Ia teringat saat almari milik Wisnu terbuka dengan sendirinya. Lalu ada sebuah buku kecil di bawah gantungan baju yang menarik perhatian Dita.


Sayangnya, sedari tadi pun tidak ada seorangpun yang melihat hal tersebut. Hanya saja teguran dari Rista yang menyadarkan Dita bahwa baru saja ia melamun.


Tidak ingin memikirkan hal yang lain maka Dita segera keluar dari kamar Wisnu. Namun, pikirannya masih tertuju pada almari Wisnu.


"Apa Mas Wisnu menyuruhku untuk mengambil buku tadi, ya?" gumam Dita.


Meskipun Dita adalah mantan menantu di rumah tersebut, tetapi Nyonya Anggraini tidak membatasi jika Dita ingin datang ke rumah tersebut.


Penunjuk waktu terus bergulir, suasana Rumah Wisnu semakin malam semakin mencekam. Nyonya Sekar kemudian segera pamit.


"Terima kasih untuk kunjungannya malam ini, Jeng," ucap Nyonya Anggraeni basa-basi.


"Saya yang berterima kasih karena Anda sudah memaafkan kejadian tadi dan juga telah memberikan restu kepada Dita."


"Iya, sama-sama, Jeng."


"Kalau begitu kami pamit."


.


.


Sepulang dari kediaman Nyonya Anggraini, Dita bersama kedua orang tuanya kembali kediamannya. Jarak tempuh yang mereka habiskan cukup lama, karena saat ini keluarga Dita tinggal di kota yang lebih jauh.


Sementara, itu pengobatan untuk Sam masih berlangsung. Clara telah berhasil mempersiapkan semua syarat yang diminta oleh dukun tersebut. Sesuai rencana, tengah malam ini pengobatan untuk Sam akan dilakukan.


Tubuh Sam dibaringkan di atas pembaringan. Di hadapan dukun tersebut, banyak sekali saja sesajen yang tersedia. Sesuai permintaan dukun, Clara menyiapkan darah ayam cemani, kembang tujuh rupa, kemenyan, kopi hitam dan beberapa perlengkapan klinik lainnya.


Sementara itu mulut sang dukun komat-kamit membacakan sebuah mantra. Setidaknya agar hidup SAM bisa terlepas dari jerat kutukan yang diterima oleh Dita. Semua mata orang yang hadir di sana tidak ada yang berani menatap ke arah depan. Hampir semuanya menunduk termasuk Clara.


Hal itu dilakukan sesuai pemrintan dukun itu. Meski rasa ingin tahunya begitu dalam, tetapi karena Clara tidak ingin membuang waktu lebih lama. Yang terpenting saat ini adalah hidup Sam kembali aman dan nyaman sama seperti sebelum ia bertemu dengan Dita.


Suasana gubuk tersebut sangat mistis. Suara burung gagak bersahut-sahutan di luar. Lolongan anjing hutan terdengar sangat menyayat hati. Tiba-tiba saja hembusan angin luar begitu cepat hingga memadamkan seluruh obor penerangan gubuk tersebut.


Aroma bunga kantil yang begitu menyengat ditambah aroma ubi rebus semakin menusuk indera penciuman Clara. Hingga sesaat kemudian terdengar teriakan wanita.


"Toloooong!"