
Bagi kaum pria, mencari pasangan hidup tentu tidak boleh sembarangan. Sebab keberadaan seorang istri akan sangat menentukan kebahagiaan dan kesuksesan sang pria dalam menjalani hidup. Karena itu perlu kehati-hatian dan menimbang berbagai faktor agar wanita yang dinikahi membawa keberuntungan, bukan sebaliknya, membawa sial.
Begitu pula dengan berbagai hal yang dipikirkan oleh Ayah Juna dan ibunya, saat ini mereka tidak bisa berbuat banyak, tetapi semua tergantung pada Keluarga Handoko. Hari pertunangan Juna dengan Dita sudah ditentukan. Itu artinya hidup Juna sudah dipertaruhkan di sini. Rencana kehidupan yang bahagia antara kedua keluarga kini pupus sudah.
Kondisi Juna belum juga membaik sampai saat ini, hingga membuat Nyonya Sinta memutuskan untuk menemui Keluarga Handoko.
"Pak, kita harus menyelesaikan hal ini secepatnya, aku tidak mau hidup Juna semakin parah setelah ini."
Sementara itu luka di lengan Juna juga belum pulih, semakin lama luka tersebut semakin membesar dan membusuk di bagian tepinya. Membuat Nyonya Sinta miris terhadap kondisi anak semata wayangnya.
"Haruskah kita meneruskan perjodohan ini?"
.
.
Bisikan penuh dendam terus mengisi relung hati yang kesepian. Rasa ingin memiliki yang terus menggebu semakin menyiksa relung hati dan membuat rasa ingin balas dendam itu semakin besar.
"Jika aku tidak bisa bahagia, maka jangan harap kau bisa bahagia, ha ha ha ...."
Suara tawa penuh luka tersebut tidak bisa menyembunyikan dendam yang mengisi di dalam hatinya. Meskipun terdengar sebagai sebuah tawa, tetapi suara tawa yang terdengar sangat memilukan.
"Nggak, Dita nggak bersalah atas hal ini, siapa pun yang mencoba mendekati atau melukai Dita, maka ia akan berhadapan denganku!"
Perasaan di dalam hati Nyonya Sekar bergejolak satu sama lain. Saling menarik satu sama lain, siapa yang menang, maka ia akan menguasai hati dan tubuh Dita. Namun, Nyonya Sekar tidak bisa berbuat banyak, tubuh Dita sudah dikuasai oleh makhluk tidak kasat mata tersebut.
Nyonya Sekar menjerit sejadi-jadinya, ia tidak bisa berbuat banyak saat ini. Nafasnya tersengal lalu sesaat kemudian tercekat, hingga membuatnya kehilangan kesadaran dengan cepat.
Tuan Handoko kebetulan sedang berada di luar kota. Ada urusan bisnis yang mengharuskan dirinya pergi sendiri. Jadi di dalam rumah kediamaan Dita hanya berisi dua orang, yaitu Dita dan ibunya. Jarak kamar di antara keduanya tidak begitu dekat dan bisa dipastikan Dita tidak akan bisa mendengar teriakan ibunya.
Sementara itu, tubuh Nyonya Sekar sudah melambung ke langit-langit kamar. Berputar-putar sampai beberapa kali hingga terakhir kalinya tubuhnya dihempaskan ke ranjang hingga hampir saja ia meninggal.
Mungkin Dita diberikan kemudahan untuk bisa menolong orang di waktu yang tepat. Dita yang baru saja siuman langsung saja pergi ke kamar Ibunya, hanya untuk memastikan bahwa keadaan Ibunya baik-baik saja.
"Bu, Ibu ...." teriak Dita dari luar.
Tidak mendapatkan jawaban dari dalam sama seperti apa yang diharapkan, membuat Dita harus mendobrak pintu kamar beliau. Saat Dita bersiap untuk mendobrak, ternyata pintu terbuka dengan sendirinya.
Tampillah di ambang pintu Nyonya Sekar berdiri dan memandang ke arah putrinya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai hingga membuat Dita terkejut.
"Ibu ..."
Dita berhambur untuk memeluk ibunya.
"Ibu tidak apa-apa, kan?"
Nyonya Sekar menggeleng perlahan. Namun suhu tubuhnya yang semakin dingin membuat Dita yakin jika wanita yang dipeluknya saat ini bukanlah ibunya, melainkan orang lain.