
Melihat kerumunan orang di taman membuat Dita dan Rani penasaran dan ikut menyusul ke lokasi kejadian. Dita berusaha membelah kerumunan para mahasiswi di sana.
Ternyata disana ada salah seorang mahasiswa yang terluka tangannya karena dipatok ular. Dita yang melihat bekas gigitan ular tersebut langsung mendekati pemuda tersebut. Melihat hal tersebut mahasiswi yang mengenal Dita itu menegurnya.
"Hei kamu, wanita pembawa sial, ngapain dekat-dekat!" hardik mahasiswa tersebut.
Sontak mata Dita menatap tajam ke arah mahasiswi tersebut. Begitu pula dengan pemuda yang ia tolong. Namun, Dita tidak memperdulikan celoteh mahasiswi tersebut dan lebih memprioritaskan menolong pemuda itu.
Diraihnya syal yang ia gunakan lalu dibalutkan ke lengan pemuda tadi agar bisa ular tidak banyak menyebar ke seluruh tubuh pemuda tersebut. Rintihan pemuda tersebut terdengar mengalun ketika Dita mengeratkan talinya.
"Maaf, kalau sakit."
"Nggak apa-apa."
Namun, sepertinya usaha Dita akan lebih sulit, tangan pemuda tersebut sudah membiru.
"Nah tuh lihat, udah membiru, kamu tuh kalau nggak bisa nggak usah dekat-dekat kenapa?"
Mahasiswi yang kesal pada Dita mendorong tubuh Dita hingga jatuh terduduk.
"Ayo, Kak aku bawa ke poli kesehatan saja," ucap mahasiswi tersebut.
Pemuda yang ditolong Dita tadi segera pergi mengikuti mahasiswi yang menolongnya. Sementara Dita yang terjatuh segera ditolong oleh Rani.
"Dasar anak orang kaya baru, seenaknya ndorong sahabat gue!" omelnya.
Sedangkan pemuda tadi terus menoleh ke arah Dita.
"Lagi pula kenapa ada ular di tengah taman kampus sih, nggak biasa banget tau!"
"Iya, juga ya. Ya sudah ayo lanjut ke kelas!" ajak Dita sambil melihat arlojinya.
.
.
Poli Kesehatan Kampus Permata.
"Gimana Dok?"
"Untung saja dibalut dengan syal ini, jadi racunnya nggak keburu menyebar. Ini antibiotiknya diminum sama jangan lupa banyak mengkonsumsi air kunyit, ya."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Pemuda tadi tidak lupa berterima kasih pada Clara, mahasiswi yang menolong Sam. Ya, pemuda tadi adalah Samuel, atau lebih sering dipanggil Sam oleh Dita.
"Perasaan kok, gue kepikiran cowok tadi, ya?"
"Oh, ya, cie ... cie ... jatuh cinta ya, trus Juna dikemanain?"
"Astaga, gue lupa," ucapnya sambil menepuk jidat.
"Anindita ...."
Sontak Dita menoleh, tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan tadi kecuali orang-orang terdekatnya.
"Ka-kamu? Bukankah kamu yang tadi digigit ular?"
"Iya, ini aku, maafkan aku yang tadi tidak mengenal kamu, aku Samuel."
"Ha-ah, Samuel yang gendut item itu?"
"Wkwkwk, ganteng gitu dibilang gendut item Dit, ingat Juna menunggumu," bisik Rani mengingatkan.
Setidaknya jika Dita tidak bersama Samuel ja akan mendapatkan Sam, begitu pemikiran Rani.
"Eh, ngobrolnya lanjut nanti aja ya, aku buru-buru," ucap Dita.
Tidak mau kehilangan kesempatan, Sam berniat untuk mengikuti Dita.
"Anindita, kalau boleh gue mau ikut!" seru Samuel.
Dita tidak mau membuang waktu lalu ia mengiyakan permintaan Samuel.
"Ya udah kalau kamu maksa ikut, tapi resiko tanggung sendiri!" seru Dita.
"Resiko apa?" gumam Sam.
Melihat Sam yang bengong, Dita menggertak Sam.
"Sam, buruan masuk!"
"Rani, kamu duduk di depan dekat gue!"
Setelah semuanya siap, mobil segera melaju di jalanan. Tujuan Dita adalah alamat yang diberikan oleh Nyonya Sinta tadi pagi. Tanpa meminta ijin pada kedua orang tuanya, Dita nekad pergi ke luar kota.
"Memangnya kalian mau kemana sih?" tanya Sam memecah keheningan.
"Sebaiknya kamu diam dulu ya, Sam. Aku mau konsentrasi biar nggak salah jalan. Oke."
"Oke."
"Kamu sama sekali tidak berubah Dita, tetapi kamu semakin cantik," ucap Sam di dalam hati.
Namun, Sam sama sekali tidak menyadari jika ia berdekatan dengan Dita maka akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
.
.
Bersambung