Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 187. SIAPA MEREKA


Sejauh apapun Anindita menolak Fano, hal itu tetap tidak mematahkan rasa cintanya untuk Dita. Bagi Fano meluluhkan hati Dita adalah sebuah tantangan.


Namun, ketika berhadapan dengan keluarga Fano, hasilnya sama saja tidak terlihat penolakan di sana, apalagi Dita sudah ditekan oleh kedua orang tuanya agar bisa menerima lamaran Fano.


"Kita tidak boleh menolak lamaran dari keluarga Fano lagi, Nak. Ibu tidak mau membuat ayahmu marah!"


"Ta-tapi Ibu tahu kan resiko apa yang akan terjadi setelah ini?"


"Yakinlah jika semua ini akan berakhir, Nak."


"Aamiin, semoga saja semuanya benar."


Sepulang dari rumah Dita, Fano sangat bahagia. Meskipun ia terkesan memaksa setidaknya ia masih bisa menjadi suaminya kelak.


"Aku sudah tidak sabar untuk menjadi suamimu, Dita."


Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki dari luar kamar Fano. Sangat berisik tetapi yang bisa mendengar dan merasakan hal itu hanya Yuli.


"Yuli, jangan terpancing! Kamu harus tetap tenang!"


"Erghhh!"


Makhluk di luar sana seolah memang sengaja melakukan hal ini agar Yuli keluar dari rumah Fano dan bisa melakukan pembuat benteng pertahanan ghaib itu membuka sendiri benteng yang telah ia buat.


Bagaimana pun mereka tidak bisa menembus benteng pembatas itu karena memang benar kekuatan ilmu spiritual Yuli lumayan tinggi untuk hal seperti ini.


Di tambah lagi sosok itu saat ini sedang terluka. Maka dari itu ia hanya bisa mengecohnya dari luar.


"Sabar, Yuli, sabar ... tugasmu masih banyak dan kamu harus selalu tetap waspada."


"Jika aku sampai terkecoh dan makhluk itu berhasil mencium aroma tubuh Fano bisa gawat. Nyawa menjadi taruhannya."


Yuli kembali memejamkan matanya lalu bersiap untuk melakukan sebuah ritual dan bersemedi. Tugas Yuli sangat banyak hingga ia tidak sempat untuk melakukan hal banyak demi menjaga keponakan semata wayangnya.


"Wanita itu memang terkutuk, akan tetapi bisa disembuhkan. Terlebih lagi weton keduanya tidak bertolak belakang sehingga masih ada jalan untuk melindunginya."


"Semoga saja apa yang menjadi keinginan Mbak Kirana akan segera terwujud. Aamiin."


Suatu ketika Yuli memang pernah berbicara dari hati ke hati bersama Fano. Ia juga yang mengusulkan jika setelah menikah sebaiknya mereka segera pergi ke luar negeri. Setidaknya pergi jauh meninggalkan tanah Jawa.


Tanah Jawa terkenal dengan karakteristik yang jauh lebih beragam daripada tanah liar yang gersang dan menakutkan. Meskipun begitu di tanah Jawa ini juga banyak orang baik tetapi mereka justru mudah dimanfaatkan oleh makhluk-makhluk tidak kasat mata.


Kurangnya iman membuat orang-orang mudah tergelincir saat melangkah, sama halnya dengan Rani yang akhir hidupnya justru sangat mengenaskan.


Oleh karena itu ia amat menjaga Fano. Yuli tidak menjaga Dita karena sudah banyak leluhur yang menjaganya. Bahkan beberapa arwah mendiang suami Dita seringkali melindunginya.


Suara langkah kaki yang semula terdengar berisik kini sudah berangsur menghilang. Tidak banyak hal yang bisa Yuli lakukan kecuali berserah diri kepada pemilik kehidupan.


"Jika manusia hidup dan mati sudah digariskan oleh takdir Allah, maka saya juga ikut memasrahkan diri demi melindungi semua anggota keluarga ini. Aamiin."


Semilir angin malam berhembus ringan dan hanya menyapa lewat jendela kamar Yuli. Beruntung api miliknya tidak padam sehingga ia masih bisa melakukan ritualnya.


Namun, ketika Yuli hendak melongok keluar rumah, sosok matanya menangkap sekelebat bayangan putih sedang mengintai ke arah rumah mereka.


"Sebenarnya siapa mereka?"