Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 207. NASIBKU


Gelagat aneh dirasakan oleh Dita selama perjalanan panjangnya menuju tanah air. Di sepanjang perjalanan, Ibu mertuanya sama sekali tidak mengajak Dita berbicara.


"Kenapa aku merasa jika Mama tidak sedang baik-baik saja?"


Dita merasa telah duduk dengan orang asing. Tidak ada keramah-tamahan yang ditunjukkan oleh Nyonya Kirana. Memang ia sengaja mendiamkan Dita agar menantunya itu sadar diri, karena kehadirannya justru membawa petaka di dalam rumah tangganya sendiri.


"Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu. Aku lelah dengan semua ujian berat ini, Dita. Seharusnya sejak awal aku tidak pernah mengijinkan Fano menikahimu. Pada akhirnya di antara semua orang yang paling terluka dan bersedih adalah aku."


Jika Dita memulai mengajaknya berbicara maka Nyonya Kirana hanya memberikan sebuah kode tangan untuk menjawab semuanya. Tidak ada komentar ataupun pendapat yang keluar darinya.


Sampai suatu suat ketika satu jam sebelum pendaratan pesawat mereka terjadi, kebungkaman Nyonya Kirana berakhir.


"Dita?"


"Iya, Ma ...." jawab Dita sambil menoleh.


"Sebaiknya kamu tidak usah ikut dalam pemakaman Fano!"


"Maksud Nama?"


"Ikuti rencana Mama, semua ini kulakukan demi kebaikan kita semua."


"Ta-tapi, Ma?"


"Ikuti kata Mama, sebaiknya kamu mengikuti semua sandiwara yang sudah aku persiapkan."


Sontak saja Dita bingung dengan ucapan Mamanya. Bagaimana pun sebagai seorang istri Dita harus hadir dalam upacara pemakaman suaminya. Dita tidak mau dianggap sebagai istri yang tidak tahu diri. Maka dari itu ia harus mengetahui maksud dari perkataan yang dilontarkan oleh ibu mertuanya tersebut.


"Kamu nggak usah banyak pikiran. Fano sudah menjadi urusan saya. Sehingga tanpa kamu minta semua pemakaman sudah pasti menjadi tanggung jawab kami. Kamu hanya perlu menyembunyikan dirimu agar orang lain tidak bisa melihatmu."


Hati Dita terasa dicabik-cabik saat melihat perlakuan dari ibu mertuanya begitu kejam. Padahal Dita hanya ingin menghormati acara pemakaman itu, tetapi seolah Dita sedang diasingkan saat ini.


Bahkan untuk keluar rumah saja ia tidak diperbolehkan. Dita merasa jika kehadirannya membuat mereka tidak bahagia. Buktinya Nyonya Kirana sudah mempersiapkan sebuah rumah khusus untuknya.


"Ingat, kau tidak perlu keluar rumah selama batas waktu yang telah ditentukan. Semua kebutuhanmu akan dikirim secara berkala selama dua hari sekali."


"Jangan coba-coba untuk kabur, atau Mama tidak akan pernah menemui kamu lagi. Bahkan anggap saja kita tidak pernah bertemu jika kamu berani melanggarnya."


Meski terasa sakit dan berat, Dita menerima hal itu dengan perasaan berkecamuk. Namun, ia memperlihatkan hal lain saat itu.


"Mama, aku nggak menyangka jika Mama sampai melakukan hal ini!"


Pergolakan batin juga terjadi di dalam tubuh Nyonya Kirana. Ada banyak hal yang ingin dicapai tetapi sepertinya tertunda karena kecelakaan ini saling terhubung dengan ramalan takdir buruk Fano.


Di sisi lain, Nyonya Sekar datang lebih awal. Dengan didampingi oleh suaminya kini ia melakukan takziah di dalam Kediaman Nyonya Kirana.


Meskipun Nyonya Kirana tetap memperlakukan Dita dengan baik, tetapi ia masih merasa tersisih atau lebih tepatnya terbuang.


Dari sekian banyak masalah yang menderanya membuat Dita semakin terpuruk. Hampir semua keluarga mantan suaminya memutus kontak dengan dirinya setelah putra mereka meninggal karena telah menjadi suaminya.


"Kenapa nasibku seperti ini?"


Sebenarnya Dita merasa jika dirinya tidak mendapatkan apapun saat ini. Ia juga tidak bisa menyalahkan siapapun karena semuanya terjadi begitu saja.


"Andai aku bisa memilih terlahir di dalam kondisi takdir baik, maka aku akan sangat berbahagia."