Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 44. TERTARIK


"Bapak sudah kembali, Mbok?"


"Sudah, Den Ayu. Beliau saat ini sedang berada di kamarnya."


"Ya, sudah sebentar lagi saya ke depan."


Sam yang tidak terima dengan ucapan Dita masih terdiam. Ia belum juga beranjak dari tempat duduknya. Sementara itu, Dita harus segera pergi ke depan.


"Sam, maaf, Bapak menungguku, kalau tidak ada hal yang dibicarakan kembali, aku ke depan dulu."


Sam ingin mencegah Dita, tetapi Dita keburu melangkah keluar, tidak memperdulikan lagi Sam yang keras kepala. Lagi pula mereka berbeda keyakinan, tentu saja kedua orang tua Dita tidak akan menyetujui hal ini meskipun Sam memaksa.


Sam masih dipenuhi amarah saat itu, tetapi ia harus memperjuangkan cintanya. Ia buru-buru melangkah keluar menyusul Dita. Akan tetapi karena ia tidak memperhatikan gawangan pintu, kakinya terantuk kayu tersebut hingga membuatnya jatuh tersungkur.


"Awwwhhh ... bruakkkk!"


Sam meringis karena luka lebamnya, tetapi ia tidak melihat Dita kembali. Sam mengepalkan tangannya karena geram. Dengan segera ia menyusul Dita ke depan. Meski tertatih Sam tetap berusaha sampai ke ruang tamu.


Saat sampai di ruang tamu, kondisinya sangat sepi. Tidak ada orang sama sekali di tempat itu. Bahkan suasana petang di rumah Dita sangat menyeramkan. Tidak ada lampu yang menerangi ruangan tersebut, yang terlihat hanyalah lampu teplok di beberapa sudut ruangan.


Hembusan angin dari pintu utama membuat bulu kuduk Sam meremang. Beberapa saat kemudian, tengkuk Sam seperti ditiup oleh seseorang dari arah belakang.


"Sam ... kemarilah ...."


"Kemarilah, sayang ...."


Sam menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tetap tidak ada seorang pun di sana. Sam semakin kebingungan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu sesaat kemudian pintu utama tertutup. Tentu saja Sam terkejut. Tiba-tiba saja di kursi tamu ada seorang perempuan yang duduk manis di sana.


"Sam ... kemarilah! Bukankah kau sangat menginginkanku ...."


"Dita, benarkah itu kamu?"


Meski awalnya Sam terkejut tetapi ia sangat hafal harum khas tubuh Dita yang beraroma melati. Sam yang percaya diri segera mendekati wanita itu.


Saat Sam menyentuh pundak Dita, wanita itu menyeringai lalu menoleh ke arah Sam, sesaat kemudian lehernya patah. Krek!


"Huaa ... se-setaaannn!"


Sam jatuh terjengkang, karena ketakutan ia beringsut mundur, tetapi tubuhnya terpentok daun pintu.


"Ke-kenapa daun pintunya empuk!" gumam Sam.


Sam ketakutan setengah mati, ia sangat bingung dengan rumah Dita yang berubah menyeramkan.


"Kenapa kau masih di sini! Cepat pergi!" bentak seseorang dari arah belakang.


Sam yang ketakutan karena wanita yang mirip Dita masih menatapnya sambil menyeringai. Kini bahkan ia tidak bisa melarikan diri karena ia mendekatkan wajahnya ke arah Sam.


Sam menyipitkan matanya sekaligus menutup hidungnya karena bau anyir yang menyengat. Akan tetapi tatapan mata wanita yang lehernya patah seolah menusuk hati Sam hingga membuatnya ingin segera kabur.


"Bagaimana, apakah kau masih menginginkan diriku! Ha ha ha ...."


"Jawab!"


Sementara itu Dita yang sudah sampai di ruang tamu dan berkenalan dengan Yudistira terpaksa harus kembali ke kamarnya.


"Bagaimana kejadiannya, Mbok?"


"Saya tidak tahu dengan pasti, tetapi saat aku menemukannya, Den Bagus sudah jatuh tertelungkup di depan kamar Den Ayu."


"A-apa?"


Mbok Yem terus mengatakan apa saja yang sebenarnya terjadi saat itu. Hingga secara tidak sadar Dita sudah sampai di depan kamarnya. Ternyata di sana suasananya cukup ramai, karena ada Tuan Handoko, Nyonya Sekar dan beberapa pekerja yang berada di rumah itu.


Sebenarnya jam ini sudah jam kosong, para pekerja biasanya sudah kembali ke rumah masing-masing tetapi karena hari ini ada tamu spesial dari kota, mereka digaji berdua kali lipat untuk tetap berada di rumah tersebut dan melayani pemilik Rumah.


Dita mendekati Nyonya Sekar dan bertanya, "Bagaimana kondisinya, Bu?" tanua


"Entah kenapa sejak, ia datang ke rumah ini. Banyak sekali terjadi keganjilan-keganjilan dan Ibu tidak berani menegurnya karena Sam adalah teman baik Dita sejak kecul.


Karena kalian adalah teman masa kecil mana mungkin Ibu tega untuk mengusir Sam tetapi Hari ini Ibu harus memilih langkah yang lebih tepat. Keputusan Ibu dan Bapak adalah mutlak.


Dita mengangguk ia paham akan ucapan Ibunya barusan. Terlebih lagi semua urusan ini berkaitan dengan dirinya.


Dita yang tidak tega melihat Sam seperti ini, membuatnya kebingungan sendiri.


"Kalau kita bisa berteman pasti nasib baik akan selalu menghampirimu, Sam. Aku mohon kamu pergilah."


Yudistira memandang Dita dari arah pintu, ia terlihat sangat mengagumi Dita. Akan tetapi ia tidak suka jika Dita mendekati lelaki lain.


"Dita hanya milikku, kau lekaki tidak tau diri, sebaiknya pergi dari sini!" ucap Yudistira di dalam hati.


Nyonya Sekar yang melihat Yudistira sedari tadi memandangi Dita segera memperingatkan Dita.


"Dita, sebaiknya kamu temani Yudistira, tidak baik membiarkannya berdiri dan menunggumu di ambang pintu seperti itu."


Dita seketika menoleh, "Iya, Bu."


Dita bangkit dan berjalan menuju Yudistira.


"Maaf, karena telah membuatmu menunggu lama. Ayo aku temani kakak melihat kamar kakak."


"Terima kasih, Dita. Bisa antar aku cari angin, kah? Aku ingin merasakan hawa malam di daerah pegunungan."


"Oh, baiklah, mari kita ke gazebo belakang."


"Ayo!" ucap lelaki tersebut sambil tersenyum.


Seperti tersihir oleh kecantikan alami Dita serta budi pekertinya membuat Yudistira semakin mantap menjadikannya sebagai istri. Kedua remaja itu melangkah ke gazebo belakang untuk sekedar mengobrol. Sementara dari belakang, Nyonya Sekar dan Tuan Handoko mengamati mereka.


"Bagaimana, Bu. Pilihan Bapak tepat kan kali ini?"


"Semoga saja lancar sampai hari H, ya, Pak."


"Iya!"