Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 152. ARWAH BISMA


Merasa jika dirinya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, Dita mulai mengambil air wudhu dan mengaji. Namun, baru sebentar ia melantunkan Kalam Illahi terdengar suara pintu kamarnya digedor-gedor dari luar. Seolah ada yang tidak suka dengan apa yang sedang dilakukan oleh Dita.


Semakin lama Dita mengaji maka semakin besar pula gedoran pintu itu terdengar. Seketika ia teringat akan ucapan mendiang suaminya, Bisma.


"Jangan pedulikan suara itu, dan tetaplah mengaji, wahai istriku. Aku menjagamu di sini!"


Dari sekian suami Dita yang telah meninggal, sosok yang mengingatkan agar ia selalu mengingat Allah hanyalah Bisma. Sosok lelaki yang hangat dan lembut itu benar-benar sosok lelaki idaman. Hanya saja Allah lebih sayang kepadanya hingga usianya tidak begitu lama.


"Apakah aku bisa terlepas dari semua ini? Kenapa rasanya sangat sulit sekali."


Hembusan angin yang begitu hangat menerpa tubuh Dinda. Dalam sejenak ada sebuah aroma yang sangat wangi dan familiar bagi Dinda.


"Apakah itu benar-benar kamu, Mas," ucap Dinda setelah menyelesaikan mengaji.


Dita segera menaruh kembali Al Qur'an ke atas meja. Lalu setelahnya ia duduk di tempat tidur. Salah satu tangannya bergerak menyusuri tepian ranjang, membayangkan jika Bisma duduk di sana.


Padahal kenyataannya memang saat ini arwah Bisma sedang mengunjungi istrinya itu. Meskipun Bisma menjadi arwah gentayangan, ia tidak pernah berniat meninggalkan Dita. Hanya saja selalu ada dinding pembatas yang membuat Bisma tidak leluasa untuk menemuinya.


"Dita, aku berharap jika suatu saat nanti, kamu bisa bahagia. Aku tidak bisa melihatmu terus-terusan seperti saat ini. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu selayaknya seorang suami."


Terlihat sebuah penyesalan di dalam kelopak mata Bisma. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak ditambah lagi saat ini dia hanyalah sosok arwah gentayangan. Tidak bisa pergi dengan tenang dan juga tidak bisa bertahan di langit.


Dinda bisa merasakan kehangatan di sisi tempat duduknya. Itu artinya ada orang lain selain dirinya yang juga sedang duduk di atas tempat tidur.


"Bukankah jika sisimu terasa hangat itu artinya ada sosok lain yang juga duduk di dekatmu?"


Seketika pikiran Dinda hanya berfokus pada mending suaminya, Bisma. Sungguh ia sangat merindukan sosok tersebut saat ini.


"Mas, jika kamu benar-benar datang padaku, maka aku hanya ingin mengatakan jika aku baik-baik saja."


"Aku sungguh mencintaimu Anindita Ayu Puspa Batari.'


Cup


Bisma mengecup kening Dita untuk sesaat. Seolah bisa merasakan sentuhan lembut dari Bisma, Dita memejamkan matanya untuk sejenak.


Sayang, mata batin Dita menutup saat pulang dari pondok pesantren beberapa waktu yang lalu. Sejak saat itu, jika bukan arwah itu menginjinkan agar Dita bisa melihatnya, maka hasilnya akan tetap sama saja.


Mengetahui jika ada yang datang ke kamar Dita, Mbok Nem segera mendatangi kamarnya.


"Bau ini ...."


Mbok Nem memejamkan matanya untuk sejenak lalu mulutnya mulai komat-kamit baca mantra. Di dalam penglihatannya Mbok Nem bisa melihat siapa yang datang ke kamar Dita.


"Den Bagus Bisma."


Seketika Bisma mendengar sosok yang berada i di luar kamar Dita.


"Untuk apa Mbok Nem memanggil namaku, apa dia keberatan aku menemui istriku?Hm ... sebaiknya aku segera pergi sebelum ia membuat masalah denganku."


BELUM REVISI


Merasa jika dirinya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, Dita mulai mengambil air wudhu dan mengaji. Namun, baru sebentar ia melantunkan Kalam Illahi terdengar suara pintu kamarnya digedor-gedor dari luar. Seolah ada yang tidak suka dengan apa yang sedang dilakukan oleh Dita.


Semakin lama Dita mengaji maka semakin besar pula gedoran pintu itu terdengar. Seketika ia teringat akan ucapan mendiang suaminya, Bisma.


"Jangan pedulikan suara itu, dan tetaplah mengaji, wahai istriku. Aku menjagamu di sini!"


Dari sekian suami Dita yang telah meninggal, sosok yang mengingatkan agar ia selalu mengingat Allah hanyalah Bisma. Sosok lelaki yang hangat dan lembut itu benar-benar sosok lelaki idaman. Hanya saja Allah lebih sayang kepadanya hingga usianya tidak begitu lama.


"Apakah aku bisa terlepas dari semua ini? Kenapa rasanya sangat sulit sekali."


Hembusan angin yang begitu hangat menerpa tubuh Dinda. Dalam sejenak ada sebuah aroma yang sangat wangi dan familiar bagi Dinda.


"Apakah itu benar-benar kamu, Mas," ucap Dinda setelah menyelesaikan mengaji.


Dita segera menaruh kembali Al Qur'an ke atas meja. Lalu setelahnya ia duduk di tempat tidur. Salah satu tangannya bergerak menyusuri tepian ranjang, membayangkan jika Bisma duduk di sana.


Padahal kenyataannya memang saat ini arwah Bisma sedang mengunjungi istrinya itu. Meskipun Bisma menjadi arwah gentayangan, ia tidak pernah berniat meninggalkan Dita. Hanya saja selalu ada dinding pembatas yang membuat Bisma tidak leluasa untuk menemuinya.


"Dita, aku berharap jika suatu saat nanti, kamu bisa bahagia. Aku tidak bisa melihatmu terus-terusan seperti saat ini. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu selayaknya seorang suami."


Terlihat sebuah penyesalan di dalam kelopak mata Bisma. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak ditambah lagi saat ini dia hanyalah sosok arwah gentayangan. Tidak bisa pergi dengan tenang dan juga tidak bisa bertahan di langit.


Dinda bisa merasakan kehangatan di sisi tempat duduknya. Itu artinya ada orang lain selain dirinya yang juga sedang duduk di atas tempat tidur.


"Bukankah jika sisimu terasa hangat itu artinya ada sosok lain yang juga duduk di dekatmu?"


Seketika pikiran Dinda hanya berfokus pada mending suaminya, Bisma. Sungguh ia sangat merindukan sosok tersebut saat ini.


"Mas, jika kamu benar-benar datang padaku, maka aku hanya ingin mengatakan jika aku baik-baik saja."


"Aku sungguh mencintaimu Anindita Ayu Puspa Batari.'


Cup


Bisma mengecup kening Dita untuk sesaat. Seolah bisa merasakan sentuhan lembut dari Bisma, Dita memejamkan matanya untuk sejenak.


Sayang, mata batin Dita menutup saat pulang dari pondok pesantren beberapa waktu yang lalu. Sejak saat itu, jika bukan arwah itu menginjinkan agar Dita bisa melihatnya, maka hasilnya akan tetap sama saja.


Mengetahui jika ada yang datang ke kamar Dita, Mbok Nem segera mendatangi kamarnya.


"Bau ini ...."


Mbok Nem memejamkan matanya untuk sejenak lalu mulutnya mulai komat-kamit baca mantra. Di dalam penglihatannya Mbok Nem bisa melihat siapa yang datang ke kamar Dita.


"Den Bagus Bisma."


Seketika Bisma mendengar sosok yang berada i di luar kamar Dita.


"Untuk apa Mbok Nem memanggil namaku, apa dia keberatan aku menemui istriku?Hm ... sebaiknya aku segera pergi sebelum ia membuat masalah denganku."


Merasa jika dirinya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, Dita mulai mengambil air wudhu dan mengaji. Namun, baru sebentar ia melantunkan Kalam Illahi terdengar suara pintu kamarnya digedor-gedor dari luar. Seolah ada yang tidak suka dengan apa yang sedang dilakukan oleh Dita.


Semakin lama Dita mengaji maka semakin besar pula gedoran pintu itu terdengar. Seketika ia teringat akan ucapan mendiang suaminya, Bisma.


"Jangan pedulikan suara itu, dan tetaplah mengaji, wahai istriku. Aku menjagamu di sini!"


Dari sekian suami Dita yang telah meninggal, sosok yang mengingatkan agar ia selalu mengingat Allah hanyalah Bisma. Sosok lelaki yang hangat dan lembut itu benar-benar sosok lelaki idaman. Hanya saja Allah lebih sayang kepadanya hingga usianya tidak begitu lama.


"Apakah aku bisa terlepas dari semua ini? Kenapa rasanya sangat sulit sekali."


Hembusan angin yang begitu hangat menerpa tubuh Dinda. Dalam sejenak ada sebuah aroma yang sangat wangi dan familiar bagi Dinda.


"Apakah itu benar-benar kamu, Mas," ucap Dinda setelah menyelesaikan mengaji.


Dita segera menaruh kembali Al Qur'an ke atas meja. Lalu setelahnya ia duduk di tempat tidur. Salah satu tangannya bergerak menyusuri tepian ranjang, membayangkan jika Bisma duduk di sana.


Padahal kenyataannya memang saat ini arwah Bisma sedang mengunjungi istrinya itu. Meskipun Bisma menjadi arwah gentayangan, ia tidak pernah berniat meninggalkan Dita. Hanya saja selalu ada dinding pembatas yang membuat Bisma tidak leluasa untuk menemuinya.


"Dita, aku berharap jika suatu saat nanti, kamu bisa bahagia. Aku tidak bisa melihatmu terus-terusan seperti saat ini. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu selayaknya seorang suami."


Terlihat sebuah penyesalan di dalam kelopak mata Bisma. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak ditambah lagi saat ini dia hanyalah sosok arwah gentayangan. Tidak bisa pergi dengan tenang dan juga tidak bisa bertahan di langit.


Dinda bisa merasakan kehangatan di sisi tempat duduknya. Itu artinya ada orang lain selain dirinya yang juga sedang duduk di atas tempat tidur.


"Bukankah jika sisimu terasa hangat itu artinya ada sosok lain yang juga duduk di dekatmu?"


Seketika pikiran Dinda hanya berfokus pada mending suaminya, Bisma. Sungguh ia sangat merindukan sosok tersebut saat ini.


"Mas, jika kamu benar-benar datang padaku, maka aku hanya ingin mengatakan jika aku baik-baik saja."


"Aku sungguh mencintaimu Anindita Ayu Puspa Batari.'


Cup


Bisma mengecup kening Dita untuk sesaat. Seolah bisa merasakan sentuhan lembut dari Bisma, Dita memejamkan matanya untuk sejenak.


Sayang, mata batin Dita menutup saat pulang dari pondok pesantren beberapa waktu yang lalu. Sejak saat itu, jika bukan arwah itu menginjinkan agar Dita bisa melihatnya, maka hasilnya akan tetap sama saja.


Mengetahui jika ada yang datang ke kamar Dita, Mbok Nem segera mendatangi kamarnya.


"Bau ini ...."


Mbok Nem memejamkan matanya untuk sejenak lalu mulutnya mulai komat-kamit baca mantra. Di dalam penglihatannya Mbok Nem bisa melihat siapa yang datang ke kamar Dita.


"Den Bagus Bisma."


Seketika Bisma mendengar sosok yang berada i di luar kamar Dita.


"Untuk apa Mbok Nem memanggil namaku, apa dia keberatan aku menemui istriku?Hm ... sebaiknya aku segera pergi sebelum ia membuat masalah denganku."