
Ternyata cinta Fano tidak hanya sebatas omongan. Ia benar-benar mencintai Dita dari lubuk hati yang terdalam. Bisnis yang sudah ia rintis selama berbulan-bulan kini ditinggalkan demi mengejar cinta Dita.
"Ma, Pa, aku meminta restu dari kalian berdua untuk melamar Anindita Puspa Ayu Batari putri dari Tuan Handoko."
Kedua orang tua Fano saling memandang satu sama lain. Ingin rasanya mereka menolak akan tetapi mungkin inilah jalan Tuhan untuk Fano. Yuli sudah mengantisipasi hal ini sehingga ia pun membisikkan kata-kata yang bisa menenangkan hati Nyonya Kirana.
"Bagaimana ini, Pa?
Tampak raut kekhawatiran memenuhi wajah Nyonya Kirana. Fano adalah putra semata wayangnya. Jika terjadi hal-hal buruk terhadapnya sudah pasti ia akan sangat bersedih.
Maka dari itu Nyonya Kirana menolak secara halus rencana perjodohan kali ini. Anehnya sang suami justru memberikan ijinnya.
"Kenapa Mama terdiam? Apakah Mama masih tidak memberikan restu untukku?"
Raut wajah Fano terlihat memelas. Namun, dibalik semua itu Nyonya Kirana bisa melihat betapa besarnya rasa cinta itu untuk Anindita. Sikap Fano sangat mirip dengan suaminya saat ingin melamar dirinya di waktu muda membuat ketegaran hatinya luruh.
"Kenapa kamu mengingatkan papa kamu, Nak?"
Tangan Papa Fano menggenggam erat tangan istrinya itu. Dari sorot mata sang suami, Nyonya Kirana bisa mengerti jika ia juga memohon agar dirinya menekan ego dan segera memberikan restu kepada Fano.
"Berikan restumu untuk anak kita."
"Tapi, Pa?"
Papa Fano memberikan bahasa isyarat kepada istrinya dengan mengedipkan salah satu matanya. Tidak berapa lama kemudian, Papa Fano yang berbicara terlebih dahulu kepada putranya.
"Papa memberikan restu untukmu, Nak. Akan tetapi ingatlah satu hal yang paling penting saat ini."
"Apa itu, Pa?" tanya Fano penasaran.
"Papa hanya memberikan restu jika Dita tidak menolak lamaranmu lagi. Ingatlah hati seorang wanita sangat rapuh. Terlebih lagi ia sudah ditinggal mati suaminya beberapa kali."
"Luka di hatinya pasti tidak akan mudah sembuh. Akan memakan waktu yang lama, bahkan mungkin tidak akan mudah tersentuh oleh siapapun. Bagaimana pun juga ini adalah sebuah pernikahan."
"Jangan memaksakan kehendakmu dan kamu harus ikhlas dengan semua jawaban darinya kelak. Apapun itu, bersabarlah."
Fano mengangguk, mengiyakan perkataan dari ayahnya itu. Tidak pernah sedikitpun Papa Fano ikut campur dalam urusan kehidupan Fano selama ini. Namun, sikap dan petuah dari beliau saat ini memberikan jawaban jika ia benar-benar sayang padanya.
"Akan banyak pertimbangan yang diambil olehnya sebelum ia benar-benar menerima kehadiranmu."
"Benar, Nak. Apapun itu bersikaplah lembut pada Dita. Jika ia meminta waktu untuk berpikir maka berikanlah hal itu."
Keheningan mulai terjadi di ruangan itu. Hingga sebuah ide brilian muncul di benak Nyonya Kirana.
"Mama punya usul, jika kamu benar-benar menikah dengan Dita, maka segeralah bawa dia pergi dari tanah Jawa ini."
"Kenapa begitu, Ma?"
"Tentu saja ini agar pengaruh buruk yang menghantui Dita tidak akan bisa mengejarmu jika kamu sudah pergi dari tanah Jawa ini."
Fano menoleh ke arah tantenya Yuli yang notabene seorang indigo. Ada sebuah keraguan yang menghantui pikiran Fano.
"Jika hal ini bisa membuat hubunganku dengan Dita langgeng maka aku bersedia meninggalkan tanah Jawa ini."
"Baguslah Nak, semoga dengan begini kamu dan Dita bisa hidup sebagai pasangan suami istri hingga kakek dan nenek."
"Betul sekali Papa juga setuju untuk usulan mamamu yang satu ini."
Terlihat raut kebahagiaan yang memancar dari keluarga kecil tersebut ada sebuah harapan yang mereka sematkan kepada putra semata wayangnya.
Jika takdir Dita adalah sebuah keburukan, maka hanya dengan pergi sejauh mungkin, hal itu bisa mengurangi dampak dari nasib buruk yang selalu menghantui takdir jalan hidup Anindita.
Sementara itu, di Pondok Pesantren milik Pak Kyai Saleh. Suasana mencekam masih terasa di sana. Hampir saja Tuan Handoko tertipu oleh tipu muslihat dari jin muslim yang menyerupai Pak Kyai Saleh.
Jika terlambat sebentar saja sudah bisa dipastikan jika Tuan Handoko akan selamanya tinggal di alam ghaib, terlebih ada ikatan yang terjadi di antara Tuan Handoko dan putri jin muslim tersebut.
Saat terkena serangan dari salah satu jin itu, rupanya Tuan Handoko terlambat menghindar hingga tubuhnya juga terluka. Deru nafas Tuan Handoko terdengar memburu keras. Dia merasa marah dan geram karena berhasil ditipu oleh jin muslim itu.
Tuan Handoko benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan terjebak di alam ghaib. Sebuah tempat yang awalnya diabaikan, tetapi kini justru terlihat sangat menyeramkan di dalam penglihatannya.
Sesaat kemudian terdengar suara erangan yang cukup keras dari hadapannya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika jin muslim itu mulai terbakar dengan perlahan.
"Ampuuun ... ampuni aku ....."
Benar saja, saat Pak Kyai Saleh lengah, jin yang mengaku muslim itu tiba-tiba menyeringai dan melompat tinggi. Sesaat kemudian mengarahkan serangannya ke arah manusia di bawahnya secara serentak.
Pyaar
Blaarrrr
Jin itu bersama anak buahnya segera mengelilingi jiwa Tuan Handoko dan mengepungnya. Seolah sedang membuat formasi agar Tuan Handoko tidak bisa dibawa kembali ke alam manusia.
Hanya berselang beberapa saat rupanya, leluhur Dita ikut melompat ke atas dan segera menaburkan bubuk-bubuk abu yang membuat mata para jin itu perih dan segera menghilang satu persatu.
Tinggallah di hadapan mereka pemimpin dari para jin tersebut. Ia tersenyum menyeringai sambil menatap tajam para manusia di hadapannya.
"Terimalah akibat dari keberanianmu mengganggu cucuku!"
HIAT ... SRASH
Leluhur Dita berhasil menyerang makhluk tersebut. Dengan lima kali hantaman serangan yang ia arahkan dari segala sisi berhasil membuat jin itu mengerang kesakitan.
"Menyerah atau aku hancurkan!"
"A-ampun Nyai ... a-ampun! Aku berjanji tidak akan menganggu cucumu lagi!"
"Bagus, kau harus berjanji tunduk dan patuh pada perintahku, maka baru setelah itu kau aku lepaskan!"
"Ba-baik, Nyai. Sepanjang umur kami maka akan setia menjadi pengikutmu."
Setelah berhasil menaklukan Jin tersebut, leluhur Dita bergegas membawa kembali jiwa Tuan Handoko ke alam manusia. Tidak lupa ia membawa serta Pak Kyai Saleh.
Tubuh Tuan Handoko yang sudah pingsan selama lebih dari dua hari akhirnya bisa kembali siuman. Tubuhnya yang letih segera diberi asupan nutrisi oleh para santri yang merawatnya.
"Bagaimana, apakah sudah mendingan?" tanya Pak Kyai Saleh terhadap Tuan Handoko.
Dari raut wajahnya Tuan Handoko tampak ketakutan hingga ia beringsut mundur. Leluhur Dita merasa jika tugasnya sudah selesai. Oleh karena itu ia pun segera pamit untuk pergi pada Pak Kyai Saleh.
"Terima kasih, Nyai karena sudah membantu kami di sini."
"Sama-sama, Pak Kyai. Kalau tidak ada hal penting lainnya, saya pamit. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Pandangan Pak Kyai Saleh kembali ke arah Tuan Handoko.
"Assalamu'alaikum Tuan Handoko, apakah saya menakutkan hingga Anda beringsut mundur seperti itu?"
"Bu-bukan begitu Pak Kyai, saya hanya merasa tidak enak karena telah menolak permintaan dari Pak Kyai."
Tuan Handoko tampak menunduk, lalu sentuhan tangan dari Pak Kyai Saleh menyadarkan dirinya jika apa yang terjadi sebelumnya hanyalah sebuah ilusi bukan kenyataan.
"Kamu tidak usah khawatir. Saya tidak akan memaksamu untuk menikahi putriku. Lagi pula mana mungkin aku menikahkan ia dengan dirimu yang sudah mempunyai seorang istri."
"Begini-begini saya juga tidak mau jika anak saya dipoligami. Sebagai seorang Kyai saya juga hanya setia kepada istri saya. Meskipun ia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu tetapi rasa cinta untuk istri saya tetap tersimpan rapi di dalam sini."
Pak Kyai tampak mengusap dadanya.
"Jadi Tuan Handoko tidak usah takut menatap saya, dan tidak usah sungkan ketika berbicara."
"I-iya, Pak Kyai."
"Atau Tuan Handoko ingin melihat putri saya terlebih dahulu biar percaya kalau apa yang menjadi omongan saya ini adalah hal yang sejujurnya."
Sontak saja tangan Tuan Handoko menyilang, ia sungguh tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini. Satu hal yang paling ingin ia lakukan adalah pulang. Bertemu dengan istri dan putri semata wayangnya, Anindita."
"Kalau Tuan Handoko ingin segera pulang, sebaiknya ditunda sampai di mana matahari sudah terbit. Jangan seperti malam-malam begini. Tidak baik jika jam segini masih di luar."
"Anda kan tahu jika saat ini?"
"Sudah biarkan saja, lagi pula masih banyak barang gaib yang tidak bisa kita lihat dengan mata kita sendiri berkeliaran di luar sana."
"Baguslah jika Anda mulai mengerti, saya melarang karena masih khawatir dengan kesehatan Anda yang belum pulih."
"Terima kasih banyak, Pak Kyai."