
Malam mencekam kini sudah berlalu. Sang mentari pagi telah menampakan kilau cahaya emasnya. Menggantikan temaram bulan purnama.
Sosok gadis cantik masih terbaring di atas tempat tidur. Sedangkan Bisma sudah berbaur dengan para anggota keluarganya di ruang makan.
"Maafkan Dita, ya nak Bisma, seharusnya Dita yang melayani kamu, tetapi ini malah sebaliknya," ucap Nyonya Sekar sambil menunduk.
"Tidak mengapa, Bu, yang terpenting kami saling mengasihi satu sama lain."
Nyonya Sekar dan Tuan Handoko saling memandang lalu tersenyum pada besan dan menantunya tersebut.
"Terima kasih, Nak Bisma sudah menerima kekurangan Dita."
"Sama-sama, Bu."
Untuk mengusir ketegangan di antara mereka, Tuan Handoko menanyakan rencana Bisma setelah menikah.
"Oh, ya. Setelah ini rencana kamu setelah menikah, bagaimana Nak Bisma?"
"Kalau itu mungkin setelah sepasaran manten, mungkin saya langsung mengajak Dita ke Bali. Kebetulan ada rencana perayaan pembukaan hotel baru milik rekan bisnis dan saya mendapatkan undangan resmi darinya."
"Syukurlah kalau begitu, biar sekalian bulan madu, ya 'kan Buk?"
"Betul sekali itu, ha ha ha ...."
Setelah cukup lama berbincang-bincang, Bisma menyiapkan satu piring nasi lengkap beserta lauknya dan segelas susu. Semuanya ditata rapi di atas nampan dan Bisma berniat membawa sarapan pagi itu ke kamar Dita.
"Biar saya saja yang menyiapkan sarapan untuk Dita, Nak Bisma," cegah Nyonya Sekar saat Bisma melangkah pergi.
"Tidak usah, Bu. Biarkan saya yang membawa sarapan ini untuknya."
"Tapi hal ini tidak pantas."
"Selama salah satu pasangan membutuhkan, saya kira hal seperti ini sangat wajar dilakukan, jadi Ibu tidak perlu sungkan."
"Biarkan dia, Jeng. Bukankah suami istri itu harus saling membantu dan mengasihi. Jika salah satu sakit, bukankah pasangan kita yang hatus merawat?"
Nyonya Sekar malu akan sindiran halus dari besannya tersebut.
"I-iya sudah, hati-hati Nak Bisma."
Bisma tersenyum lalu berpamitan pada semuanya.
"Maaf, Bisma ke kamar dulu Bapak, Ibu."
"Iya."
.
.
Kicauan burung di pagi hari, akhirnya mampu membuat Dita terbangun dari tidur yang sangat nyaman. Namun, saat tangannya meraba sisi tempat tidurnya ia merasa janggal.
Sontak saja matanya terbuka lebar. Ia mengedarkan pandangannya ke daerah sekitar.
"Kenapa sepi sekali? Apakah terjadi sesuatu pada Mas Bisma?"
Dita buru-buru bangkit dari tempat tidurnya. Kini ia berjalan ke arah jendela kamar, mencoba mencari suaminya, namun tidak ada Bisma. Dita menundukkan pandangannya. Wajahnya berubah sendu. Seketika pikiran buruk menghinggapi pikiran Dita saat ini.
"Apakah Mas Bisma juga meninggal?" gumamnya.
Beberapa saat kemudian terdengar pintu kamar diketuk, lalu terbuka kemudian. Muncullah Bisma dari arah pintu dengan senyuman manisnya.
"Sudah bangun, Dek?"
"Su-sudah, Mas. Mas Bisma dari mana?"
Bisma tersenyum ketika menyadari jika Dita khawatir padanya. Ia berjalan mendekati istrinya dengan membawa sebuah nampan.
"Ini sarapan untukmu."
Sontak pipi Dita memerah, ia sungguh malu dengan keadaannya saat ini. Seharusnya ia yang melayani suaminya bukan sebaliknya.
"Kenapa aku malah merepotkan Mas Bisma, seharusnya aku yang melayani Mas."
"Sudahlah itu sama saja, yang terpenting kita masih bersama."
Deg.
Ucapan Bisma seolah membuat detak jantung Dita berhenti. Seperti sebuah sindiran yang membuat Dita semakin terpojok. Seketika raut wajah Dita menjadi sendu. Bisma merasa salah tingkah dengan keadaan saat ini.
"Maafkan atas ucapanku barusan, Dek. Bukan maksud Mas untuk menyakiti hatimu."
"Tidak apa-apa, Mas. Lagi pula memang benar adanya. Akan tetapi aku bahagia, Mas masih bersamaku saat ini."
"InsyaAllah bukan hanya untuk saat ini, melainkan untuk selamanya, Dek."
"Aamiin," ucap mereka bersamaan.
Untuk mencairkan situasi, Bisma mulai berbicara kembali.
"Adek sudah mandi?"
"Maaf, Mas belum, Dita bau ya?"
Bisma terkekeh akan kepolosan istrinya.
"Bukan, sebaiknya kamu mandi dulu, nggak enak sama ibu dan bapak. Mereka juga ingin melihat kamu."
"Iya, Mas. Biar saya mandi dulu."
Bisma mengangguk lalu mengingatkan Dita untuk makan sarapan yang sudah ia siapkan.
"Jangan lupa makan sarapan yang aku bawa ya, Dek."
"Siap, Mas."
Dita yang buru-buru hanya menyambar handuk yang biasa ia gantungkan di dinding kamar. Bisma yang melihat hal itu semakin bahagia.
"Beginikah rasanya jatuh cinta setelah menikah? Terima kasih, Ibu sudah menjodohkan aku dengan Anindita."
Setelah Dita masuk kamar mandi, ponsel Bisma berdering. Ia segera mengambil ponselnya dari dalam saku. Tidak lupa ia berjalan keluar kamar agar tidak mengganggu istrinya.
.
.
Kediaman Nenek Romlah.
Terlihat Danu sudah mengemasi pakaiannya. Sejak pulang dari rumah Dita, ia sama sekali belum bicara. Mungkin rasanya menyakitkan, jika menyadari cinta pertamanya telah bersanding dengan pilihan kedua orang tuanya.
"Aku ingin kembali ke Ibu Kota."
Nenek Romlah hanya bisa mengelus dadanya.
"Jika itu yang terbaik untukmu, maka lakukanlah. Mungkin hal ini yang terbaik untukmu."
"Apakah aku boleh kemari lagi setelah ini?"
"Tentu saja boleh, kenapa tidak?"
Nenek Romlah sangat berhati-hati ketika berbicara dengan cucunya. Ia tidak mau membuat luka di hati cucunya semakin dalam.
"Semoga setelah ini kamu dapat menemukan cinta sejatimu, Aamiin."
Mungkin ini yang dinamakan cinta sejati. Meskipun benang merah mereka sempat terputus tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa kembali bertemu, meskipun pada akhirnya tetap tidak bisa bersama.
"Maafkan aku yang harus pergi meninggalkan kamu. Jika Tuhan mengijinkan, semoga saja suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali."
Danu memandang sendu ke arah desa tempat tinggal Dita. Danu memang sengaja meminta kepada tukang ojek untuk lewat rumah Dita. Entah kenapa rasanya sangat berat sekali saat dipaksa meninggalkan desa itu. Mungkin karena rasa di hatinya masih tertinggal, sehingga tidak ada jalan untuk kembali.
"Andai kamu tahu perasaanku, mungkin semua ini tidak akan seperti ini."
Di saat Danu sedang menikmati suasana terakhirnya di desa dan mengikhlaskan perasaannya, tukang ojek itu malah mengacaukan lamunannya.
"Sudah belum, Mas. Saya harus narik lagi, lo."
Sontak saja, Danu merasa tidak enak. Sehingga ia pun mengikuti permintaan tukang ojek tersebut. Ternyata tukang ojek yang dinaiki oleh Danu sedang kejar setoran.
Makanya ia tidak mau berlama-lama di sana. Padahal bukan itu yang di dalam pikirannya, karena keringat dingin tiba-tiba saja mengucur di kening tukang ojek.
"Permisi-permisi, Mbah. Saya tidak mau mengganggu, hanya saja saya diminta lelaki di belakang ini untuk mengantarnya kemari."
Dari kejauhan tampak terlihat dengan jelas, wanita yang bersama Bisma bukanlah Dita melainkan seorang nenek tua yang mempunyai sorot mata tajam. Keduanya matanya seolah tidak mau jika ada manusia yang berani melihatnya.
Saat tukang ojek memandangi ke arah rumah Dita. Di saat yang sama nenek itu memandangnya dengan tatapan tajam.
Ketakutan jelas terlihat di dalam wajah tukang ojek itu, sehingga ia segera memainkan gasnya dan melaju kencang meninggalkan area rumah Dita. Danu yang tidak tau apa-apa kini hanya bisa pasrah.