Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
BAB 74. BENANG MERAH


Rencana perjodohan Dita dan Bisma benar-benar terjadi. Hari ini iring-iringan mobil mewah mulai memasuki pekarangan Rumah Tuan Handoko.


Banyak diantara pekerja yang memandang takjub pada penampilan Dita saat ini. Rambut dibiarkan tergerai lengkap dengan poni tipis. Dita memakai baju kebaya berwarna cokelat lengkap dengan bawahan jarik sidomukti yang senada dengan kebaya yang ia kenakan.


Sementara itu Bisma tampil gagah dengan setelan baju biru dongker dan celana panjang berwarna hitam. Sebuah kaca mata tidak pernah lepas dari baju Bisma. Rambut yang disisir rapi menambah ketampanan Bisma menjadi berkali-kali lipat.


"Selamat siang, Nyonya Handoko," sapa Ibu Bisma pada calon besannya.


"Selamat siang juga, Jeng. Mari silakan masuk!" ajak Nyonya Sekar kepada tamunya.


Sementara itu semua sanggahan semula diletakan di dalam mobil, kini sudah dibawa dan diserahkan pada Dita dan ibunya secara langsung. Dita hanya bisa memasang wajah suram ketika ia dipaksa untuk menikah untuk ketiga kalinya. Sesekali mengulas senyum palsu demi membahagiakan kedua orang tuanya.


Entah kenapa hati Dita merasa tidak tenang malam itu. Ditambah lagi tuntutan dari Keluarga Arjuna yang masih berlangsung, membuat Dita seolah tercekik keadaan.


Akan tetapi Keluarga Bisma menjamin jika mereka bisa menyelesaikan masalah dengan Keluarga Arjuna, oleh karena itu Tuan Handoko menyetujui pinangan dari Keluarga Bisma.


"Sangat cantik sekali?" gumam Bisma di dalam hati saat pertama kali memandang wajah Dita.


Hampir semua laki-laki yang pernah bertemu dengan Dita selalu memuji dirinya. Jadi, Dita tidak merasa heran akan hal tersebut.


Nyonya Sekar yang mengerti jika putrinya belum bisa menerima keadaan ini, membuat ia harus mengalihkan pandangan orang-orang pada Dita. Membuat bahan pembicaraan agar semuanya merasa nyaman, meskipun banyak ketakutan yang menghinggapi Nyonya Sekar.


Ternyata Nyonya Sekar mengajak para tamunya untuk berbincang-bincang di ruang tengah. Sebuah bangunan yang seperti gazebo tetapi berukuran sangat luas dan biasanya digunakan untuk bermusyawarah saat keluarga besar berkumpul.


Ibu Bisma mencoba ramah terhadap mereka dan juga Dita. Pertama-tama, ibu Bisma mulai mencoba mendekatkan diri pada Dita.


"Nak Dita masih kuliah?" tanya Ibunda Bisma.


Dita masih asyik dalam lamunan, terpaksa harus di senggol bahunya oleh Nyonya Sekar. Beliau menoleh dan mencoba mendekati Dita agar putrinya bisa lebih fokus pada acara yang sedang berlangsung.


"Dita, Sayang. Lihatlah calon ibu mertua memandangimu dan bertanya kepadamu? Kenapa kamu diam saja?" bisik Nyonya Sekar kepada putrinya.


Dita yang baru menyadari hal itu tersenyum kaku di hadapan calon ibu mertuanya dan Bisma, lalu ia menjawab pertanyaannya dari beliau.


"Maaf Om dan Tante, saya masih kuliah kok semester enam."


"Wah keren sekali, memangnya ambil jurusan apa?"


"Jurusan seni rupa!"


"Wah, bagus sekali, sama seperti Bisma dulu."


"Iya, alhamdulillah sama."


"Berarti jodoh, ya?"


Suara bergemuruh dari tawa orang-orang memenuhi ruang tamu. Banyak diantara mereka yang saling melempar pujian kepada Dita dan Bisma. Mengatakan jika calon pengantinnya sangat serasi. Lalu mereka kembali berbincang satu sama lain, berusaha saling akrab.


"Oh, ya. Jika nanti Bisma pindah ke luar kota, apakah Dita tidak keberatan?" Ibunda Bisma hanya ingin tahu jawaban dari Dita secara langsung.


"Bagi Dita, itu tidak menjadi masalah. Selama saya bisa mengikuti Mas Bisma, tidak apa-apa."


Nyonya Sekar masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengarkan saat ini. Putrinya seolah pasrah dengan situasi yang terjadi. Namun, bayang-bayang Dita kapan hari masih membuat dirinya ketakutan. Apalagi jika pernikahan ketiga kali ini jika sampai gagal maka Dita jelas akan mendapatkan trauma yang mendalam. Oleh karena itu, Nyonya Sekar sangat menjaga suasana hati Dita.


FLASH BACK ON


Sore itu Dita melihat pantulan dirinya di atas kolam renang di halaman belakang rumahnya. Entah kenapa sore itu keinginan untuk bermain di tepi kolam sangatlah besar.


Akan tetapi Nyonya Sekar yang baru saja mengetahui jika Dita mempunyai cinta yang lain, tetapi saat ini ia membiarkannya.


Saat Nyonya Sekar menyapa Dita, seolah dia sedang berdiri di tepi kolam dengan pandangan kosong. Sekali lagi Nyonya Sekar menegur Dita. Dita tidak mendengar suara yang sejak tadi memanggilnya. Lalu ia menoleh, "Ibu tumben ke sini!"


"Iya ingin mencari udara segar, eh kebetulan bertemu denganmu."


"Oh."


Meskipun Dita menjawab pertanyaan ibunya, pandangannya tetap lurus ke depan. Ketakutan semakin menjadi saat Nyonya Sekar menyentuh bahu Dita.


"Masuk yuk, Nak."


"Sebentar, Bu."


Ibunda Dita berharap jika apa yang ia lihat adalah bukan penunggu rumah tersebut.


"Kalau ibu takut, ibu masuk saja."


"Ibu tidak kenapa-napa, hanya saja ibu khawatir kamu masuk angin ketika lama berada di sini."


"Ya sudah kalau begitu."


Namun tidak lama kemudian tubuh Dita benar-benar jalan sendiri menuju kamarnya, tetapi belum sempat melangkah lebih jauh, Dita pingsan.


.


.


BERSAMBUNG