Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 83. PERGILAH


Setelah Dita bersiap-siap, maka rencana Bisma hari ini adalah mengajak Dita pergi untuk mengunjungi salah satu perkebunan teh milik Tuan Handoko. Rencananya Bisma akan mengurus perkebunan teh itu untuk ekspor ke luar negeri.


Sehingga ia ingin meninjau langsung lokasi tersebut, karena Dita yang mengetahui lokasinya maka secara otomatis Dita yang mengantarkan Bisma ke tempat tersebut. Setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya mereka telah sampai di perkebunan teh yang dimaksud.


Mereka menyiapkan beberapa pengawal yang mengawal Dita dan Bisma.


"Perkebunan milik Ayah Dita ini perkebunan memilik luas wilayah yang lumayan. Jadi aku bisa merekomendasikan tempat ini nanti."


"Selanjutnya bila aku pergi keluar, kamu bisa melaporkan dan meninjau langsung lokasi ini. Selanjutnya nanti bsia mengabariku. Akan tetapi jika kamu sudah ikut aku pergi, maka kita membutuhkan seseorang yang bisa bertanggung jawab untuk mengawasi tempat ini."


"Oh baiklah ,nanti aku siapkan," kata Dita.


"Karena urusan kita sudah selesai, bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke kota. Bukankah kamu sudah lama tidak berjalan-jalan ke kota, atau mungkin kamu rindu ke kampusmu? Aku bisa mengantarnya."


"Tidak Mas, aku ingat perkataanmu. Kita tidak boleh pergi jauh-jauh. Apalagi ini belum ada lima hari. Akan berbahaya jika kita bepergian langsung," ucap Dita sambil menunduk.


"Oh, iya. Mas lupa."


"Nanti setelah, itu baru kita bisa keluar kota ataupun jalan-jalan sesuka kita, bukankah begitu, Dek?"


"Oh iya, maafkan mas lupa," kata Bisma.


Cuaca hari itu semakin terik, oleh karena itu Bisma sudah mengajak Dita untuk kembali.


Dita semakin suka dengan perilaku sopan suaminya. Mereka berjalan beriringan tanpa saling menyentuh satu sama lain.


Dari kejauhan tampak seseorang mata-mata yang mengawasi Bisma dan Dita. Laki-laki itu adalah utusan dari keluarga Yudistira yang tidak rela ketika dengan kematian putra semata wayangnya. Apalagi Yudistira meninggal dengan cara yang tidak wajar.


Sepanjang perjalanan Dita dan Bisma terdiam. Mereka larut dalam pemikiran masing-masing. Sebenarnya Bisma ingin mengenal langsung Dita, tetapi sepertinya Dita sangat tertutup. Sehingga untuk berbicara saja rasanya sangat canggung.


Jauh dari pandangan Dita, ia adalah sosok wanita yang sangat baik. Akan tetapi kegagalan pernikahan selama dua kali terus membayangi dirinya. Apalagi pernikahan Dita kali ini akan menentukan, apakah Dita benar-benar mendapatkan kutukan atau kutukan itu sudah hilang.


Ia tidak mau berpikir yang lebih banyak, maka Dita yang tidak memiliki teman curhat pun hanya bisa terdiam. Dia tidak ingin mengganggu Bisma, karena saat itu Bisma terlihat fokus pada ponselnya.


Hanya saja, saat ini, ia sedang mengawasi kerajaan bisnisnya di tempat yang lain. Sementara itu Danu dalam sudah sampai di kota. Ternyata semalam, ia hanya mendapatkan mimpi buruk.


Akan tetapi mimpi buruk itu terasa sangat nyata, sehingga membuat Dita sangat ketakutan. Ia bahkan menelpon neneknya yang ada di desa dan mengatakan bahwa dia mimpi buruk.


Nenek Romlah menghela nafasnya yang terasa sesak. Sejak peninggalan Danu, rumahnya terasa sangat sepi. Ia pun teringat akan sehagian pesan ayahnya terdahulu yang mengatakan jika suatu saat anggota keluarganya akan memiliki kemampuan yang sama dengannya.


Apakah yang dimaksud itu Danu?"


BERSAMBUNG