
"Aarghhhh!"
SRASH ....
Nyi Laksmi akhirnya hancur lebur tidak bersisa. Niatnya ingin mengelabuhi Dita, namun semua itu tidak akan pernah terjadi.
"Apa yang seharusnya terjadi, maka akan terjadi sesuai dengan kehendak Illahi."
Mata Dita dan Tito terbelalak saat melihat kejadian luar biasa di hadapannya kali ini. Bagaimana bisa seorang makhluk yang begitu hebat bisa lenyap dalam sekejap saja. Itu artinya kekuatan leluhur Dita jauh lebih tinggi dari segalanya.
"Terima kasih, Kanjeng Nyai," ucap Mbok Nem membungkuk hormat.
Setelah itu leluhur Dita menghampiri cucunya.
"Kau tidak perlu bersedih, wahai cucuku. Hanya tinggal tiga kali lagi kau akan terbebas dari kutukan ini."
"Tiga kutukan lagi?"
Tangan Tito segera menggenggam tangan istrinya, seolah tahu jika sebentar lagi mereka akan terpisah. Mungkin saja ini adalah pertemuan terakhir untuk Tito dan istrinya.
"Tenang saja, nenek tidak akan menyakiti kita," bisik Dita perlahan.
Tito mengangguk, tetapi tetap saja dua dunia yang berbeda tidak akan pernah bersatu.
Apa yang menjadi keinginan Dita untuk mengakhiri kutukan di tubuhnya sepertinya hanyalah angan-angan saja. Setelah berhasil membunuh Nyi Laksmi, leluhur Dita meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan cucunya tersebut. Ucapannya seolah menyiratkan akan ada sebuah hal besar setelah ini.
"Mas, aku permisi dulu, nggak lama kok. Setelah ini Nenek pasti akan membantu kita."
"Kenapa seolah ini adalah pertemuanku yang terakhir dengan Dita?" gumam Tito sambil menatap kepergian Dita yang semakin hilang bersama bayangan malam.
"Jangan menoleh, Dita."
"Baik, Kanjeng Nyai."
Tidak lama kemudian, langkah kaki Dita semakin masuk ke dalam sebuah semak belukar. Ia berhenti di depan sebuah punden.
"Ada apa, Kanjeng Nyai memanggilku sampai di sini?"
"Aku hanya ingin mengingatkan dirimu agar kamu selalu mawas diri, karena setelah ini ujian yang akan menerpamu jauh lebih berat dari sebelumnya."
"Kutukanmu sudah berjalan sampai pada suamimu yang keempat. Untuk benar-benar lepas dari kutukan itu kamu harus melalui tiga tahapan lagi."
Deg
"Ja-jadi aku bisa bahagia setelah menikah selama tujuh kali? Apakah aku bisa bertahan setelah ini?"
"Entahlah."
"Tapi aku akan mendampingimu selalu, agar tidak pernah ada lagi masalah yang membuat kau kembali drop."
"Lalu bagaimana dengan nasib Mas Tito?"
"Bukankah dia sudah meninggal? Lalu untuk apa diperdebatkan kembali. Apa kau mau menjadi istri makhluk halus?"
Seketika Dita menggeleng perlahan. Sebagai manusia biasa, Dita ingin menikah dengan manusia dan hidup langgeng sampai kakek nenek.
"Sudahlah, temui Mbok Nem dan lakukan persembahan di bawah pohon beringin lengkap besok pagi, aku akan membantu menemukan jasad suamimu. Namun setelah ini kalian akan berpisah."
"Baik, Kanjeng Nyai."
"Satu lagi, rahasiakan semua ini darinya dan jangan pernah mengatakan jika kau pernah bertemu denganku."
"Baik, Kanjeng Nyai."
Tidak lama kemudian, Dita telah kembali ke tempat Tito dan Mbok Nem. Lalu menyampaikan pesan amanat dari leluhurnya tadi. Setelah itu mereka segera kembali ke Kediaman Handoko.
Keesokan harinya, sesuai dengan permintaan Dita, Mbok Nem bersiap untuk membuatkan sesajen lengkap untuk pohon beringin tempat Nyi Laksmi tinggal sebelumnya.
"Semuanya sudah siap, Den Ayu."
"Baiklah kalau begitu kita berangkat!"
Tidak peduli apapun yang terjadi, Dita memantapkan langkah kakinya menuju punden yang semalam ia datangi. Tidak ada keraguan sama sekali di sana. Oleh karena itu, Tito pun tidak ingin terpisah dari Dita.
Akan tetapi sesuai dengan suratan takdir itu, maka Dita akan melupakan jika ia pernah menikah dengan hantu Tito.