
Keesokan harinya, Fano datang ke rumah Dita untuk mengajaknya berjalan-jalan. Sudah lama sekali sejak Fano baru kembali dari kantor, ia jarang mendapatkan cuti. Maka dari itu ia segera mengajak Dita untuk memperdekat hubungan mereka.
Salah satu tangan Fano terlihat membawa sebuah bunga untuk diberikan kepada Dita. Sebegitu besarnya rasa cinta Fano untuk Dita hingga ketika jemari tangan Dita menyentuh tubuh Fano saat koma, dengan ijin Allah Fano bisa bangun dari masa komanya beberapa minggu yang lalu.
Fano juga pernah menjadi incaran sosok makhluk yang sering mengganggu suami-suami Dita. Namun, ia berhasil lolos hingga saat ini Fano justru akan kembali mencoba hidup bersama Dita.
Fano sama sekali tidak takut akan kematian, yang terpenting baginya adalah bisa menjadi suami Anindita.
Salah satu tangannya terulur untuk memencet bel pintu rumah Dita.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Ternyata Dita yang membuka pintu secara langsung. Sorot mata Fano berbinar seketika saat menyadari jika pujaan hatinya yang membuka pintu.
"Hai, Dita. Temani aku jalan-jalan, yuk!"
"Hm, tunggu sebentar, ya. Aku ambil tas terlebih dahulu."
Tidak lupa Fano menyerahkan buket bunga itu untuk Dita, "Buat kamu!"
"Terima kasih."
Beruntung saat ini Dita sudah berjanji untuk membuka hatinya. Sekian lama ia mencoba segala cara nyatanya sama saja.
Bahkan Dita justru semakin masuk ke dalam dunia ghaib. Hampir saja nyawanya menjadi taruhan, beruntung semua itu tidak terjadi. Hingga Dita bisa selamat pada kesempatan kemarin.
Setelah berpamitan pada Nyonya Sekar, Dita dan Fano segera pergi. Suasana canggung sudah tidak dirasakan lagi olehnya.
"Hari ini mau pergi ke mana?"
"Bagaimana kalau kamu menemani aku pergi ke pasar hewan?"
"Ha-ah, pasar hewan?"
Fano mengangguk setuju, "Ya, pasar hewan. Aku mau membeli ayam cemani!"
Sontak mata Dita menatap tajam ke arah Fano. "Buat apa beli ayam cemani?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Dita, Fano justru tergelak akan ucapan Dita barusan.
"Tentu saja untuk dipelihara di rumah. Memangnya buat apa lagi?"
Meskipun begitu ia juga masih merasa hawatir karena entah kenapa saat Fano mengatakan ingin membeli ayam cemani tiba-tiba saja jantung Dita berdetak lebih kencang.
Melihat ekspresi wajah Dita yang berubah sendu tiba-tiba saja Fano justru merasa aneh dengan semua ini.
"Apa aku salah berucap, atau Dita takut ketika aku menyebut ayam cemani?"
Firasat Fano mengatakan jika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Sesaat kemudian Fano menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Loh, kok berhenti, Mas? Bukankah belum sampai di pasar hewan?"
Tangan Fano menyentuh tangan Dita, menatapnya dengan sorot mata lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku tidak jadi ke sana kalau kamu keberatan ataupun merasa tidak nyaman karena hal itu."
"Mas Fano keberatan jika aku merasa tidak nyaman karena hal itu?"
Fano menggeleng perlahan. "Selama aku berada di sisimu maka jangan hiraukan keadaan sekitar. Kebahagiaanmu adalah hal yang utama."
"Terima kasih banyak ya, Mas ... dan maaf untuk hal itu."
"Tidak apa-apa, yang terpenting adalah kebahagiaanmu."
"Kalau begitu kita ke pantai."
"Boleh kalau begitu," ucap Dita dengan raut wajah yang bahagia.
Kini kedua orang itu melajukan mobilnya menuju ke pantai yang terdekat dengan lokasi rumah Dita. Beruntung hanya memakan waktu kurang lebih satu jam empat puluh lima menit, mereka sampai di sebuah pantai.
Hamparan pohon Cemara yang berjejer rapi di bibir pantai membuat pemandangan mata Dita sedikit terobati. Semilir angin pantai menyibak poni Dita.
Membuat helaian rambut Dita menari-nari dibalik indahnya suasana siang itu. Tangan Dita menutup keningnya karena terlalu silau akan sinar matahari yang terlalu cerah.
"Kamu pasti kepanasan?"
Dita hanya mengangguk dengan mata menyipit. Tanpa ragu Fano segera mengambil payung untuk menutupi kepala mereka.
"Biar nggak kepanasan," ucap Fano sambil tersenyum.
Saat menoleh ke arah Fano ternyata Dita baru menyadari jika wajah Fano sangatlah tampan.
"Ternyata dia kalau tersenyum sangat manis," gumam Dita sambil tersipu.