
"Hati-hati ya, Nak."
Nyonya Sekar mengusap kepala Dita saat berpamitan. Tidak lupa berpesan kepada mereka agar segera cepat pulang setelah urusannya selesai.
"Jangan lupa beri kabar Ibu jika sudah sampai tujuan!"
"Iya, Bu. Nggak usah khawatir, karena ada Rani yang bersamaku."
Nyonya Sekar mengangguk, ia berdoa agar putrinya cepat sembuh setelah ini. Tidak ada ibu yang tega melihat putrinya sengsara. Oleh karena itu ia pun ingin memutus mata rantai ini.
Melihat putrinya pergi, Nyonya Sekar hanya bisa berdoa agar setelah ini putrinya bisa segera mendapatkan jodoh. Beliau juga sudah lelah dengan gunjingan orang-orang yang mengatakan jika Dita anak pembawa sial. Hatinya teriris ketika putrinya dijadikan bahan gunjingan.
"Semoga kamu cepat mendapatkan obat, Nak. Doa ibu selalu menyertaimu."
Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Setelah mengantongi restu dari Nyonya Sekar maka Dita dan Rani segera melakukan perjalanan menuju rumah kakek berjanggut putih yang kapan hari bertemu dengan Rani.
"Sudah siap, Nyonya?"
Rani terkekeh, "Sudah Sayangku."
"Huek, jangan panggil-panggil sayang, gue gelay."
"Wkwkwk, oke bestie, kita berangkat, cuzz!" seru Rani bersemangat.
Berbekal alamat yang diberikan malam itu, Rani mengingat setiap rute yang akan dilewati mereka. Saat itu Dita yang menyetir sendiri mobilnya, Rani yang duduk di kursi penumpang.
"Rutenya masih jauh nggak sih?"
Dita sudah merasakan kesemutan pada tangannya, maka dari itu ia mulai bertanya pada Rani, apakah lokasinya masih jauh atau tidak.
"Enggak kok, paling belok kiri dua perempatan lagi sampai."
"Oh, ya ... tapi kok makin ke sini makin masuk hutan?" ucap Dita.
Namun, dalam pandangan Rani sama sekali tidak terlihat hutan. Yang terlihat di hadapannya hanyalah beberapa rumah penduduk kampung. Sementara itu di kanan kiri jalan terlihat beberapa penduduk yang bekerja di lahan pertanian.
Semakin lama pikiran Dita semakin berkelana. Banyak kejanggalan yang ia rasakan saat itu. Tiba-tiba saja, mobil Dita terhenti hingga membuat kening Rani terantuk dashboard.
"Ditaaaa .... kamu ngapain ngerem mendadak?"
"Kamu nggak lihat di depan ada iring-iringan orang yang memanggul keranda?" bentak Dita nggak kalah sengit.
"Mana, nggak ada, kamu ngaco!"
Bukannya menjawab, Dita malah melotot ke arah Rani. Sesaat kemudian ia menghela nafas panjang karena Rani yang terus mengomel. Melihat Dita yang terdiam membuatnya semakin sewot.
"Dita, kamu jangan ngeselin napa, sih?"
Tidak perlu menjawab pertanyaan Rani, Dita segera menarik tuas kopling lalu menginjak rem dan gas. Sehingga mobil kembali melaju di jalanan.
"Ini mau kemana?"
Rani yang masih bersedekap dada karena marah, mau tidak mau menoleh ke arah Dita.
"Depan belok kanan!"
"Kenapa semakin tidak ada rumah di sini?" gumam Dita.
"Entahlah!" ucap Rani acuh sambil mengedikkan bahunya.
"Huh, dasar kamu, ya!"
"Eh, apa kamu bilang tadi?" Rani baru menyadari ucapan Dita barusan.
"Lihatlah ke depan enggak ada apa-apa!"
"Dita, itu banyak rumah masak nggak kelihatan!"
Dita yang jengah lalu semakin memanjatkan doa-doa. Ia merasa tidak beres dengan perjalanan kali ini. Sampai akhirnya perjalanan mereka sampai di sebuah makam bercungkup.
Rani yang bahagia karena bisa sampai di rumah kakek tersebut, sementara itu di dalam pandangan Dita yang didatangi mereka adalah sebuah makam di bawah pohon beringin.
"Dit, Dita lihat kakek tersebut sudah menyambut kedatangan kita!" teriak Rani bahagia.
"Ini namanya Dita, Kek. Teman yang pernah aku ceritakan pada kakek."
"Oh, ya."
Dita dipaksa mengulurkan tangannya, sementara itu yang dipegang adalah nisan kakek tersebut.
"Kyai Pangluluh?" ucap Dita sambil mengeja tulisan yang ada tertulis di batu nisan itu.
"Iya, betul namanya Kyai Pangluluh."
"Silakan masuk!" Kakek tersebut mempersilahkan Dita dan Rani masuk ke dalam rumah.
Rani tersenyum girang mendapati semua jamuan makan yang tersedia di dalam rumah. Memang benar di dalam area pemakaman tersebut terdapat sebuah batu yang berbentuk bundar lalu dikelilingi bebatuan kecil di sampingnya. Kira-kira berjummlah enam buah.
Kini Dita dan Rani duduk dalam bagian susunan batu tersebut. Hanya ada beberapa batuan kecil tertata di sana, Rani dan Dita duduk mengitari batu besar tersebut.
"Sebelum kamu ceritakan permasalahan teman kamu, silakan dinikmati sajian sederhana dari kami."
"Wah kebetulan sekali aku sedang lapar, wkwkwk, makasih kakek."
"Sama-sama."
Pandangan Dita yang semula hanya berupa bongkahan batu dan beberapa kerikil kecil kini berubah dalam seketika. Berbagai menu makanan kini sudah tersaji. Selain itu masih ada buah-buahan berupa pisang, jeruk, apel.
Satu lagi masih ada menu utama, yaitu nasi plus sayuran, ada tahu dan tempe. Di samping piring masih ada minuman teh hangat tersaji.
Dita yang tidak percaya dengan penglihatannya, segera menggosok kedua matanya untuk sesaat. Belum sempat terlihat hal tersebut, ia tersentak ketika bahunya di tepuk seseorang dari belakang. Alhasil Dita pun menoleh.
Ternyata yang menepuk bahu Dita barusan adalah seorang kakek berjubah warna putih. Kakek tersebut tersenyum ke arah Dita.
"Ka-Kakek siapa?"
"Aku orang yang ingin kamu temui."
"Ha-ah ....!"
Dita tercengang akan ucapan kakek itu barusan. Antara percaya dan tidak Dita seolah tidak ingin mempercayai ucapan kakek tersebut.
"Jangan bohong, Kek. Maaf teman saya yang lebih mengenal kakek."
Dita langsung menoleh ke arah Rani. Ternyata Rani sedang menyuapi mulutnya dengan sebuah batu kerikil bersama belatung.
"Hoek!"
Dita yang melihat Rani terlihat lahap dalam menyantap makanan tersebut seketika merasa mual.
Kakek tersebut tidak mau melihat teman Dita semakin terjerumus masuk ke dalam dunia lain. Ia pun segera memanjatkan doa-doa lalu meniup ubun-ubun Rani. Seketika Rani pingsan.
"Kakek ngapain teman saya?"
"Jangan takut, bawa pergi teman mu dari sini, tunggu saya di perempatan depan!"
Dita yang ragu segera memapah Rani. Saat ia menoleh ia terkejut dengan penampakan wujud sesungguhnya dari makhluk yang tadinya menyerupai Kakek Berjubah Putih.
Saat ini Kakek Berjubah Putih sedang berhadapan dengan makhluk berbulu lebat yang berjalan dengan cara merangkak. Rambutnya yang lebat sampai menutupi wajahnya. Satu hal lagi yang membuat Dita ketakutan dan jijik adalah alat ke-la-min dari makhluk tersebut bergelantungan.
"Astaghfirullah," ucap Dita sambil mengusap dadanya.
Sepeninggal Dita kakek dan makhluk tersebut saling menunjukkan kekuatannya. Dari dalam mobil terlihat kilatan cahaya saat kedua kekuatan mereka bertemu satu sama lain.
Saat mereka bertarung, pintu kaca mobil Dita diteror. Banyak pasang mata dan tangan yang seolah-olah ingin mengganggu dan masuk ke dalam mobil. Bahkan di antaranya menggedor kaca mobil dengan sangat keras. Membuat pemilik mobil yaitu Dita ketakutan.
"Apakah kakek tersebut berhasil melawan makhluk itu?"
.
.
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini.