Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 86. BERBELANJA KEPERLUAN NYONYA


Senyum menyeringai tampak jelas di wajah Ibunda Yudistira. Besok ia harus kembali membawa semua syarat yang akan digunakan untuk keperluan ritual esok hari.


"Silakan kamu nikmati Bisma dan Dita, keseruan apa yang akan terjadi setelah ini, ha ha ha ...." ucapnya pongah.


Dijah yang mengetahui hal itu hanya bisa bergidik ngeri. Bagaimana bisa ia memiliki majikan seperti saat ini.


Akan tetapi Dijah hanyalah orang kecil sehingga ia tidak berhak untuk ikut campur. Lagi pula Dijah hanya mencari nafkah, jadi ia tidak berhak mencampuri urusan majikannya.


Meskipun begitu, hati Dijah masih merasa tidak karuan. Ia begitu ketakutan dengan semua yang dilakukan oleh majikannya. Namun, semuanya sudah kepalang tanggung.


Meskipun pada awalnya ia yang memberi tahu tempat praktek Mbah Darno, tetapi Dijah belum pernah secara langsung meminta pertolongan dengan Mbah Darno. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh majikannya setelah ini adalah


"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Nyonya terasa sangat aneh hari ini? Siapa orang yang telah menyinggungnya?"


"Ah, biarkan saja, lagi pula itu urusan mereka."


Selama perjalanan pulang, Dijah sama sekali tidak berani menatap ke arah majikannya ataupun berbicara satu patah kata pun. Keheningan memenuhi perjalanan pulang malam itu. Menambah kesan mistik yang ia rasakan saat ini.


Sementara itu, suaminya yaitu Tuan Bagas, ayah Yudistira terlihat kebingungan mencari keberadaan istrinya yang tidak kunjung pulang.


"Sebenarnya dia pergi kemana, sudah jam segini tetapi ia belum juga pulang?" gumam Tuan Bagas sambil mondar-mandir.


"Tidak biasanya dia bersikap seperti ini."


Sudah lebih dari lima jam, Tuan Bagas menunggu kedatangan istrinya itu, tetapi belum ada tanda-tanda kedatangannya sama sekali.


Mungkin karena kecapekan, makanya Tuan Bagas ketiduran di sofa.


Dua jam kemudian, akhirnya mobil istrinya mulai memasuki rumah. Namun karena terlalu lelah Tuan Bagas tidak bangun, meskipun sudah dibangunkan. Sebelum turun tadi, Ibunda Yudistira berpesan pada Dijah untuk berbelanja semua keperluan besok pagi.


"Ingat semua yang aku tuliskan tadi harus ada semuanya, kamu mengerti?"


Dijah mengangguk paham.


"Satu lagi, jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini, meskipun itu, Bapak sekalipun!"


"Mengerti, Nyonya."


"Ya sudah, silakan kalian beristirahat! Dan esok pagi kita bersiap-siap."


Setelah memastikan Dijah dan Pak Parman paham dengan pesan darinya ia segera masuk ke dalam rumah.


......................


Saat ini Dita dan suaminya sedang bersiap untuk melakukan sholat tahajud secara berjamaah. Bisma memang ingin mengajarkan hal-hal baik


pada istrinya tersebut. Bersyukur Dita bukanlah wanita yang susah diberikan ilmu dan merupakan gadis yang penurut.


Setelah melakukan ibadah sholat tahajud, Bisma kembali mengajak Dita tidur di lantai.


"Mas, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Iya, Dek. Kamu mau bertanya tentang hal apa?"


"Kenapa kita tidak tidur di atas ranjang saja?"


Bisma tersenyuym menanggapi pertanyaan dari istrinya tersebut. Lalu sesaat kemudian ia menjawab pertanyaan dari Dita.


"Menurut kata orang jaman dulu, nenek moyang kita, jika kita tidur di lantai, maka segala jenis teluh, santet tidak akan mudah mengenai kita."


"Oh, ya?" ucap Dita penasaran.


"Namun hal itu kembali lagi pada keyakinan kita masing-masing. Jadi mau percaya boleh, tidak juga boleh."


"Oh ya sudah kalau begitu."


Tampak sekali jika Dita sedikit merasa tidak nyaman. Terlihat dari wajahnya yang sendu dan tidak berhias senyuman.


"Apa Dita tersinggung akan ucapan dariku? Semoga saja tidak, tetapi sepertinya aku harus meminta maaf kepadanya."


"Maafkan jika kedatanganku membuat banyak kebiasaan lama kamu jadi terganti, atau mungkin ucapanku menyinggung hatimu."


Dita mendongakkan wajahnya, menatap pria tampan dan baik hati itu yang telah mencuri hatinya saat ini.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku lebih merasa bahagia jika ada yang menolongku ataupun memberikan nasehat kepadaku. Itu lebih baik dari segala hal."


"Terima kasih untuk kepercayaan yang telah kau berkan kepadaku, Dek. Semoga Mas bisa menjalankan kewajibanku dengan sebaik mungkin."


"Aamiin," ucap mereka bersamaan.


Setelah itu, Bisma tampak menatap wajah Dita dalam waktu yang cukup lama. Sukses hal itu membuat Dita tersenyum malu-malu karena hal ini. Tidak mau melihat istrinya lelah Bisma segera mengajak Dita untuk kembali beristirahat meskipun mereka tidur terpisah.


"Ya, sudah. Sebaiknya kita cepat beristirahat."


"Baik, Mas."


..._Keesokan harinya_...


Dijah sudah pergi ke pasar pagi-pagi buta sebelum majikannya bangun. Ia sengaja mengajak Pak Parman yang bisa mengendarai sepeda motor. Ia pergi ke pasar tradisonal yang menjual barang-barang keperluan sesajen.


"Pak, kamu tahu tempat membeli ayam cemani tidak?"


"Tahu, tenang saja nanti kalau tidak ketemu kita masih bisa mencarinya di tempat yang lain."


"Ya sudah kalau begitu, aku percaya kepadamu."


Setelah dua jam berlalu, akhirnya semua keperluan sesajen sudah mereka dapatkan. Termasuk sebuah barang yang susah mereka dapatkan yaitu ayam cemani. Tidak lupa Dijah juga mengambil tanah kuburan.


"Alhamdulillah semua syaratnya sudah terpenuhi, pasti Nyonya akan senang," ucap Pak Parman dengan bahagia.


"Semoga saja begitu, Pak. Saya aja yang mencari semua syaratnya saja sudah merinding begini, kenapa Nyonya malah terlihat biasa saja, ya?"


"Sudah, biarkan saja itu urusan majikan kita, sangat memalukan jika kita sampai ikut campur."


"Ta-tapi, Pak. Kamu tidak merasakan jika sangat mencekam saat aku mengambil air dari kuburan tadi."


"Kenapa, bukankah kamu mengambilnya sepulang dari pasar dan matahari juga sudah terang benderang?"


"Bukan, soalnya tadi saat aku mengambil tanah kuburan, dari balik pohon beringin besar tadi terlihat sosok makhluk yang memakai pakaian serba putih dan ujung kepalanya terikat."


"Innalillahi, jadi kamu lihat pocong, Jah?"


Dijah manggut-manggut membenarkan ucapan Pak Parman.


"Tapi kamu tidak lihat mata atau wajahnya bukan?"


"Boro-boro keliatan wajahnya, lawong semuanya terlihat sangat rata dan blur, bagaimana bisa aku melihat wajahnya, dasar kamu ada-ada saja!"


Pak Parman senyum-senyum mendengar Dijah mengomel.


"Bukan begitu maksudku Dijah, begini lo maksudnya jika kamu ketemu pocong dan kamu menatap wajah atau matanya secara terus menerus, maka kamu akan selalu bertemu dengannya atau ia akan mengikutimu selamanya."


"Amit-amit jabang bayi, ya jelas aku tidak mau lah, untung aja mataku minus sehingga tadi nggak keliatan. Kalau keliatan bagaimana hidupku setelah ini. Mana aku belum kawin lagi?"


"Hust, bukan kawin, tetapi nikah Dek Dijah."


"Eh, iya itu maksudku."


Namun, sepertinya mereka tidak tau jika dalam perjalanan mereka tadi ada pocong yang mengikutinya. Tentu saja hal itu karena Dijah cukup lama memandangi sosok pocong tadi. Lalu apakah setelah ini akan ada pertunjukan seperti keinginan Ibunda Yudistira? Entahlah, kita simak di episode selanjutnya.


.


.


BERSAMBUNG