Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 205. RENCANA PULANG


Sebanyak apapun Dita menangis tidak akan merubah keadaan. Kematian Fano sudah dipastikan dan sudah terjadi. Namun, satu hal yang membuat Dita merasa sangat sedih adalah ketika melihat jasad Fano yang sangat menyedihkan.


Jika saja ia bisa menahan semuanya, sudah pasti nyawa suaminya itu tidak akan terancam seperti saat ini. Beberapa tenaga medis sudah memindahkan jasad Fano untuk dibersihkan dan siap dikirim kembali ke tanah air.


Nyonya Kirana tiba tepat waktu. Saat ini ia sudah menapaki kediaman Fano dan Dita selama di luar negeri. Tidak ada yang tahu bagaimana Fano dan Dita berjuang selama dua minggu ini dan ternyata perjuangan mereka sia-sia.


Melihat menantunya terpuruk, kini Nyonya Kirana melangkah dengan perlahan. Langkah demi langkah dilaluinya dengan perlahan agar tidak membuat Dita panik.


FLASH BACK ON


Beberapa saat sebelumnya, Nyonya Sekar datang ke kediaman Nyonya Kirana. Beliau duduk bersimpuh dan meminta maaf karena telah membuat putra satu-satunya meninggal.


"Maafkan aku karena telah membuat putra Anda meninggal, Nyonya."


"Tidak apa-apa, Jeng. Semua ini sudah menjadi jalan takdir Fano. Setidaknya ia telah meninggal setelah keinginan terbesarnya terpenuhi," ucap Nyonya Kirana dengan bibir bergetar.


Meski mulutnya berbicara seperti itu, sudah bisa dipastikan jika hatinya menangis. Saat ini Nyonya Kirana hanya menjanjikan bahwa ia baik-baik saja selama putranya bahagia.


"Mama tidak bisa memberikan hal yang lebih dari ini Fano, setelah kematianmu maka Mama dan Papa akan kembali ke luar negeri. Kami akan tinggal di sana. Bersama kenanganmu di masa kecil."


Setelah merasa jika dirinya tidak bisa memberikan apapun, kini Nyonya Kirana hanya bisa mendoakan kebaikan untuk Dita.


FLASH BACK OFF


Langkah kaki yang terasa berat itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Nyonya Kirana. Hanya satu keinginannya kali ini yaitu membawa menantunya kembali dan anaknya ke tanah air.


Pemakaman Fano akan dilakukan setelah jenazahnya tiba di tanah air. Tepukan halus dari suaminya mengingatkan jika saat ini ia harus berpura-pura kuat demi membuat Dita tidak terlalu kaget.


Ditepuknya dengan lembut, bahu Dita hingga membuatnya menoleh.


"Ibu, maafkan Dita."


Tubuh Dita hampir luruh ketika Nyonya Kirana tidak menahannya. Bagiamana pun saat ini Dita mengalami syok karena sudah lima kali suaminya meninggal sebelum mereka sempat menjalankan malam pertama.


"Sayang, ikut Mama kembali ke tanah air, ya. Di sana kita akan membuat sebuah pemakaman terindah demi ucapan perpisahan dengan Fano."


Dita hanya bisa mengangguk akan hal itu. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi saat ini. Yang dirasakan Dita hanyalah kekosongan hati. Berkali-kali mendapati takdir jika suaminya terus meninggal, membuat Dita bisa berbuat banyak.


Setelah beberapa saat, ketika Dita merasa jika tangisnya sudah mereda, kini ia yang meminta maaf pada ayah mertuanya.


"Tidak ada apa-apa, Nak. Semua sudah terjadi. Sampai kapanpun kamu tetap menjadi akan menjadi anak kami."


"Terima kasih."


Kini arwah Fano sedang bersama-sama dengan bangsa lelembut yang telah mencabut nyawanya. Bentuk tubuhnya terasa berbeda. Kaki dan tangan Fano terikat sebuah rantai besi dan berjalan di belakang makhluk itu. Sampai kapan para arwah itu akan meminta dilepaskan, karena pada dasarnya ketika nyawa mereka sudah diambil, maka tidak ada lagi yang bisa menolongnya.