Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 63. MIMPI BURUK


Selepas berbincang dengan neneknya, Danu tidak melakukan hal apapun. Badannya yang letih membuatnya lebih sering tidur cepat. Mungkin kondisi tubuhnya yang dua hari kehujanan membuatnya gampang sakit.


"Loh, anak ini sudah tidur?" ucap Nenek Romlah yang baru saja ingin mengantarkan susu hangat untuk cucunya itu.


"Padahal baru saja aku buatkan susu. Ya sudahlah, mungkin bukan rezeki kamu, Le."


(Le/tole \= sebutan untuk anak laki-laki di dalam bahasa Jawa)


Nenek Romlah memutar langkahnya kembali ke ruang tengah. Namun, belum sampai ke kamar dan baru beberapa saat, tiba-tiba saja pintu ruang tamu terbuka lebar.


Daun pintunya terhempas karena dorongan angin yang besar dari luar rumah. Nenek Romlah masih memperhatikan hal sekitar. Ia segera menaruh gelas susu tersebut di meja lalu ia melangkah dan menghampiri pintu depan. Bermaksud untuk segera menutupnya.


Tidak lupa ia menggenggam garam kasar yang ia ambil dari saku bajunya. Nenek Romlah memang selalu sedia dengan barang seperti saat ini.


Dengan mulut komat-kamit, Nenek Romlah menaburkan garam kasar tersebut ke arah halaman rumah. Tidak ada gurat ketakutan di wajah Nenek Romlah saat ini. Namun ia tetap siaga dengan hal-hal yang terjadi di luar nalar seperti saat ini.


Anehnya, angin kencang yang tadinya sempat mengoyak dan membuat ranting dan daun pohon mangga di depan rumah bergerak-gerak tidak karuan kini langsung berhenti. Seolah tidak pernah ada angin kencang yang menerpanya. Padahal tadi jika dilihat dengan sekilas, pohon tersebut seolah sedang terkena angin ****** beliung. Gerakannya sangat cepat dan membuat orang yang melihatnya ketakutan.


Suhu rumah yang semula dingin, kini telah berubah menjadi normal kembali. Hanya saja aroma bunga kantil dan melati bercampur rebusan ubi menguar di dalam rumah.


"Wo, dasar setan ra nduwe wedi! Ra lungo, tak gawe remuk ragamu! Ngalih ra!" teriak Mbah Romlah.


(Woi, dasar setan tidak punya rasa takut! Nggak pergi, aku buat hancur ragamu! Cepat pergi!)


Sejenak Mbah Romlah memejamkan kedua matanya. Tangannya menggenggam buliran garam tersebut lalu dilemparkannya ke atas arah langit-langit rumah. Mulutnya tidak henti-hentinya komat-kamit.


Entah berasal dari mana, tetapi suara menggelegar tersebut seolah tau dengan apa yang terjadi barusan.


"Ha ha ha ... dasar nenek tua bangka, berani melawanku!" teriak makhluk tidak kasat mata tersebut.


Tenyata bersamaan dengan angin kencang tadi ada makhluk halus yang ikut masuk rumah. Nenek Romlah memang baru menyadari hal itu. Akan tetapi, ia tidak menyangka jika kedatangan makhluk tersebut secepat ini.


"Kali ini kamu menang, akan tetapi lain kali akan aku pastikan kamu kalah dan menangis! Ha ha ha ...."


Sosok tersebut menghilang bersamaan dengan pintu kamar yang tertutup secara tiba-tiba.


BRAK!


"Dasar setan gablek, sampek lawangku rusak, tak uleg kowe!"


(Dasar setan kurang ajar, sampai pintuku rusak, aku haluskan kamu!)


Bukannya ketakutan, tetapi Nenek Romlah menanggapi hal tersebut biasa saja. Ia sama sekali tidak takut akan gertakan makhluk halus itu. Namun, yang ia takutkan jika ramalan untuk cucunya akan terjadi.


"Esok hari aku harus meruwat Danu!" gumamnya sambil mengarahkan langkahnya menuju kamarnya.


Sementara itu, di kamarnya Danu sedang bermimpi indah. Di dalam mimpinya ia kembali bertemu dengan Dita yang memakali baju jawa. Dita memakai kemben dari kain batik sidomukti dan dia memakai selendang berwarna hijau yang ia tutupkan ke bagian dada.


Rambutnya ia biarkan tergerai dan melambai saat terkena hembusan angin. Danu perlahan mendekati lalu menyapanya.


"Hai ... sendirian saja, Dita?"


"Iya, Mas. Apa Mas Danu mau menemaniku duduk di sini?"


"Boleh kalau kamu tidak keberatan."


"Tentu saja tidak, Mas. Duduk sini!"


Tidak perlu menunggu waktu lama, Danu duduk di dekat Dita. Namun masih ada jarak satu jengkal tangan di antara dia dan Dita. Dita yang merasa masih ada celah segera merapatkan dirinya ke arah Danu. Tentu saja hal itu membuat debaran jantung Danu mengoyak pertahanan dirinya.


Niat hati ingin memberi jarak karena mereka bukan muhrim, tetapi Dita mengikis jarak yang ia buat. Mau tidak mau Danu hampir terjatuh karena ia terus bergeser ke samping. Hingga sesaat kemudian ia benar-benar terjatuh dan Dita ikutan jatuh dan menimpa tubuh Danu.


"Astaghfirullah, Dita!" pekik Danu terkejut mendapatkan durian runtuh saat itu.


Kedua benda kenyal itu menimpa dada Danu yang membuat ia seketika sesak nafas. Belum lagi jarak wajah Dita dan dirinya sangatlah dekat. Bahkan hembusan nafas Dita bisa ia rasakan saat itu juga.


"Ka-kamu, tidak bisakah bangun lebih dahulu!"


Danu merasakan hawa tubuhnya memanas. Nafasnya terlihat memburu menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Sementara itu Dita belum juga bangun dari atas tubuh Danu. Ia malah tersenyum dan meniupkan nafasnya ke arah wajah Danu.


Danu yang tidak biasa berdekatan dengan wanita ketakutan. Ia benar-benar takut khilaf saat ini.


"Kamu kenapa, Mas? Tidak suka dengan aku, kah?"


"Bu-bukannya begitu, Dita. Akan tetapi hal seperti ini tidak pantas di lihat orang!"


"Hihihi, Mas Danu takut khilaf, ya. Nggak apa-apa kok, Dita malah suka kalau Mas begitu."


"Ha-ah!"


Danu memberanikan diri membuka matanya, dan betapa terkejutnya ia setelah mendapati jika wanita yang menimpa tubuhnya bukanlah Dita, tetapi makhluk buruk rupa dengan wajah penuh belatung.


Aroma harum bunga melati tadi kini bercampur aroma busuk seperti bau kotoran manusia bercampur nanah. Belatung-belatung itu bahkan menimpa wajah Danu, tetapi ia segera menepisnya dan mendorong makhluk itu.


"Ha ha ha, kamu takut denganku, cah bagus?"


(cah bagus\= sebutan anak laki-laki tampan)


"Aku tidak takut, tetapi jijik terhadapmu!" ucap Danu geram sambil berdiri.


"Ha ha ha, jijik tetapi juniormu terbangun, ha ha ha, aku menyukaimu!" ucapnya sambil terkikik, lalu sesaat kemudian menghilang.


"Astaghfirullah, makhluk apa itu tadi?"


Danu yang tidak biasa bermimpi buruk segera terbangun. Keringat sebesar biji jagung masih terlihat di keningnya. Melihat susu di atas meja, Danu segera meraihnya, berharap setelah meneguk susu tersebut dirinya bisa sedikit merasa tenang.


Sruput ... Hoek!


Danu memuntahkan susu yang baru saja ia minum. Di dalam susu tersebut ternyata ada belatung yang menari-nari di dalamnya. Tentu saja hal itu membuat Danu mual dan muntah. Gelas yang ia pegang sampai merosot dan terjatuh ke lantai.


PRANG


Suara gaduh seketika memenuhi ruangan Danu, dan hal itu membuat Nenek Romlah yang baru saja hendak memejamkan mata segera berlari ke kamar cucunya.


"Danu, kamu kenapa, Cu?" teriak Nenek Romlah sambil berlari.


.


.


Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini, ya.