Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 23. BUKAN KAMU


“Jika kau bukan ibuku, maka jangan sekali-kali mengangguku!” gertak Dita.


Wanita yang menyerupai ibunya itu tertawa terbahak-bahak. Membuat Dita seketika merinding. Sungguh hal ini bukanlah yang Dita kehendaki.


“Memangnya kenapa kalau aku menganggu ibumu? Bukankah seharusnya kalian bahagia karena kedatanganku!” ucap sosok yang menyerupai Nyonya Sekar.


Suaranya terdengar sangat berat dan sesekali bau bunga melati harum semerbak menganggu indera penciuman Dita.


"Dasar demit! Beraninya kamu mengganggu ibuku, cepat keluar dari tubuh Ibu, raga ibuku bukanlah milikmu!" gertak Dita.


Sosok makhluk astral yang menyerupai Ibu Dita itu sama sekali tidak bergeming ketika Dita menggertaknya. Ia bahkan suka sekali melayang-layang di udara, seolah-olah ia sedang mempermainkan Dita.


Sekelebat bayangan hitam muncul dan membantu Dita. Ia menghentakkan kakinya hingga membuat tubuh Nyonya Sekar terkunci untuk sesaat, lalu kemudian menyeringai ketika ia menatap Dita.


Sesaat sebelum ia terjatuh, makhluk tersebut berteriak lalu Nyonya Sekar pingsan untuk sesaat. Beruntung Dita sudah menahan tubuh ibunya. Namun, sosok yang menolongnya tadi sudah pergi dan kini tinggallah mereka berdua di kediaman Dita.


Hanya dalam sesaat, tiba-tiba saja tubuh Dita seolah terkena sirep, ia menyusul ibunya yang pingsan dan terlelap sampai pagi.


Rasa lelah dan kantuk seketika menyerang Dita tetapi hal yang lebih membuat ia bingung dan panik adalah siapa yang membawa tubuhnya pergi kembali ke kamar.


Dita memegangi kepalanya yang terasa pening. Dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi nyaring benar-benar mengagetkan Dita.


"Siapa pagi-pagi telepon?"


Dita meraih ponselnya, tetapi tidak sengaja gelas air putih di meja terjatuh karena tersenggol. Serpihan kaca segera menyebar di lantai, membuat Dita harus memanggil pembantunya.


"Bik, bibik ... tolong ke kamar sebentar!" teriak Dita.


Seorang ibu-ibu berlari ke kamar Dita. Ia terkejut karena di bawah ranjang Dita berserakan bunga mawar bercampur air dan serpihan kaca.


"Den Ayu, kenapa?" tanyanya panik.


"Nggak kenapa-napa, Bik. Tolong bersihkan serpihan gelas di bawah."


Sontak Dita melebarkan matanya lalu melihat ke bawah. "Loh, siapa yang menaruh bunga di situ?"


Pembantu Dita hanya bisa mengedikkan bahunya. Itu artinya ia tidak tahu apa-apa. Mungkin saat pertama kalinya tahu, pasti posisinya sama dengan Dita.


"Eh, iya silakan bersihkan serpihan kacanya, ya!"


"Baik, Den Ayu."


Setelah mengatakan hal tersebut ia segera membersihkan lantai di kamar Dita. Sementara itu Sam baru saja sampai di kediamaan Dita yang lama.


"Kenapa ini, kenapa rumahnya sangat sepi?"


Pemandangan pertama yang dilihat oleh Sam adalah rumah kosong yang tampak sepi, tidak ada kehidupan selamat sekali. Di depan pintu pagar terkunci dan bertuliskan dijual.


Sam tidak habis pikir dengan Keluarga Dita, ia menyesal tidak menanyakan hal ini pada kedua orang tuanya. Sekarang ia tidak tahu di mana Dita tinggal.


Namun, saat melihat di bawah gembok ada tulisan nomor telepon. Maka dengan senang hati Sam segera mendial nomor tersebut. Beruntung ternyata nomor tersebut adalah nomor Diita.


"Maaf ini siapa?" ucap Dita penasaran.


"Apa ini kediaman Anindhita?"


"Iya, maaf Anda siapa, ya?"


"Aku Samuel, teman masa kecil si gadis tomboy tapi takut ulat, gatal dan geli setelah bermain di luar rumah."


Seketika Dita membola, "Lalu kamu mau apa menelponku?"


"Aku mau ...."