Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 82. TERPUKAU


Setelah mandi dan bersih-bersih selama kurang lebih tiga puluh menit, Dita keluar kamar. Dilihatnya sekali lagi suaminya tidak ada di dalam kamar.


"Kemana Mas Bisma?" gumamnya khawatir.


"Lebih baik aku berhias untuknya karena bagaimana pun aku tidak merasa sibuk."


Tidak menemukan suaminya, Dita kemudian merias diri senatural mungkin, karena pada dasarnya Dita tidak suka memakai make up.


Pagi itu, ia mengoleskan bedak tipis lalu memberikan sentuhan blush on dan menghias kedua matanya dengan eyeshadow warna hitam. Tidak lupa lipstik warna merah muda menghiasi bibir mungilnya.


"Apa yang terjadi dengan kejadian semalam ya? Kenapa aku belum merasa tenang?" ucapnya sambil melihat pantulan dirinya di depan cermin.


"Semoga saja semuanya baik-baik saja. Tidak sanggup jika aku harus berjuang sebanyak mungkin lalu aku harus terhempas jauh."


Karena Dita sangat asyik dalam berhias ia sampai tidak menyadari jika Bisma sudah berada di dalam kamar. Sementara itu Bisma memperhatikan istrinya dengan seksama. Tidak ada hal lain yang lebih menyenangkan daripada melihat istrinya berdandan.


Saat Dita mengikat rambut dengan model kuncir kuda, terlihat leher jenjang Dita yang putih dan mulus. Bisma yang baru saja masuk kamar sampai menelan salivanya dengan susah.


"Cantik sekali, tetapi aku harus menahannya selama tujuh hari!" ucap Bisma mengingatkan dirinya.


Dita yang merasa ada suaminya yang baru saja masuk kamar segera menyelesaikan ritual berhias di depan cermin.


"Mas, sejak kapan berada di situ? Aku kira Mas sudah pergi."


"Pergi kemana? Bukankah istri Mas masih berada di sini?"


"Eh, iya. He he he ...."


Bukannya datang ke tempat Dita, Bisma melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur lalu ia menepuk kasur di dekatnya.


"Duduk sini!" titah Bisma pada istrinya.


Dita yang malu-malu segera duduk tepat di sisi suaminya sesuai permintaan dari dia. Ternyata Bisma mengambil menu sarapan tadi dan berniat ingin menyuapi Dita.


"Buka mulutnya, Dek!" ucap Bisma sambil memegang satu buah sendok yang berisi nasi dan lauk.


"Eh, biar saya makan sendiri aja, Mas," ucap Dita tidak enak hati.


Dita ingin mengambil alih sendok dari tangan Bisma. Akan tetapi usahanya tidak berhasil karena tenaga Bisma jauh lebih besar daripada dia.


"Ijinkan aku untuk menyuapi kamu, Dek."


Ucapan Bisma seolah sudah pasti.


"Ta-tapi Dita bisa sendiri, Mas."


Bisma menatap lembut ke arah Dita, tentu saja pandangan lembut dari Bisma membuat Dita luluh dan terpesona.


"Bagaimana, apa kamu tetap mau makan sendiri?"


Dita menggeleng, awalnya ia merasa malu akan perlakuan manis dari Bisma. Akan tetapi lama kelamaan ia luluh juga.


Sebelumnya Dita sama sekali tidak mau melihat ke arah Bisma dan lebih banyak menundukkan pandangannya, tetapi Bisma mampu membuat Dita tidak memikirkan Danu kembali. Di saat yang sama, lama kelamaan hati dan pikirannya seolah merasakan hal lain pada Bisma.


"Dek?"


"Hm, ada apa Mas?"


"Bolehkan aku berbicara kepadamu tentang sesuatu hal yang serius?"


Dita mengangguk setuju, meskipun pikirannya sudah merasakan hal yang tidak enak.


"Kenapa pikiranku sudah tidak enak begini?" gumam Dita.


"Aku meminta maaf sebelumnya pada kamu, kalau ada perkataan dariku yang akan menyinggung ataupun tidak ada maksud jelek kepadamu."


"Iya Mas, katakan saja."


"Jadi begini, mungkin beberapa hari ini kita tidak akan melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu, sampai kira-kira sepasar hari atau seminggu. Kamu tidak keberatan, bukan?"


"*Memangnya kenapa? Apa ada yang salah denganku, atau ini sebuah alasan kenapa semalam, Mas Bisma tidak menyentuhku*."


Hati Dita bergejolak dan bingung akan ucapan suaminya barusan.


"Kamu tidak tersinggung, bukan. Aku berharap dengan begini kita bisa hidup bersama setelahnya, maka dari itu aku melakukan hal itu."


Meskipun terasa menyakitkan, Dita menguatkan hatinya dan berpura-pura tidak apa-apa.


"Aku menghormati apapun keputusan dari, Mas Bisma, yang terpenting kita tetap bersama."


Bisma tersenyum lega akan ucapan Dita setelahnya.


"Aamiin."


"Ya sudah, kita teruskan makannya, lalu kita ke depan."


Dita mengangguk setuju. Bisma dengan telaten menyuapi Dita. Terkadang untuk mengusir rasa canggung, Bisma menceritakan cerita lucu pada Dita. Tentu saja Dita terhibur akan hal ini.


"Ternyata perkataan orang-orang di desami sangat benar, kamu sangat cantik," puji Bisma secara langsung pada istrinya.


"Ih, kata siapa, Mas. Yang lebih cantik dan mempesona juga banyak lo, apalagi nasib kisah cinta mereka jauh lebih beruntung."


"Jangan bilang begitu, tidak baik menyia-nyiakan kesempatan hidup. Jangan menjudge sesuatu dengan hal lain, agar hidup kita bisa lebih baik. Akan tetapi lakukanlah versi terbaikmu dalam setiap waktu."


Tidak bisa dipungkiri, Dita sangat cantik hingga membuat Bisma nyaman berdekatan dengan dirinya. Begitu pula dengan Dita yang nyaman karena pembawaan Bisma yang bisa membuat suasana nyaman.


Padahal Dita seorang wanita yang sangat jarang bisa akrab dengan lawan jenis, tetapi Bisma bisa mencuri hati Dita.


"Ternyata pemikiranku salah, berdekatan dengan Mas Bisma bisa mengusir semua kegundahan hati ini," gumamnya.


Entah kenapa Bisma terlihat sangat lain dan "ngemong" pada Dita. Oleh sebab itu Dita sangat nyaman padanya.


.


.


Danu masih terlihat tidak rela meninggalkan desa tempat tinggal Nenek Romlah dan Dita. Entah kenapa ia sangat ingin cepat kembali ke desa itu. Firasatnya mengatakan jika akan ada sesuatu hal besar yang terjadi di sana. Meskipun begitu Danu tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang ini.


Saat bus yang dinaiki Danu melewati hutan, terlihat seorang wanita dengan wajah pucat memandang dirinya. Sejauh apa bus melaju, bayangan wanita itu selalu muncul.


"Kenapa dia seolah mengikutiku, ya?"


Danu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa bulu kuduknya meremang. Lalu sesaat kemudian Danu kembali menoleh ke arah jendela dan sosok itu sudah menghilang. Danu mengelus dadanya yang berdetak kencang.


"Mbak ongkos!' seru kernet bus meminta ongkos pada penumpang di samping Danu.


"Perasan aku duduk sendiri, lalu siapa yang duduk di sebelahku?"


Meski takut, Danu menoleh ke sebelahnya dan ternyata wanita berwajah pucat yang berdiri dipinggir jalan tadi sudah duduk di samping Danu.


"Nyariin saya ya, Mas?" seru penumpang di samping Danu.


Dengan ketakutan Danu menoleh dan benar saja wanita itu sudah duduk di sampingnya. Pandangan dia yang semula mengarah ke depan kini beralih dan menoleh ke arah Danu. Ternyata wajahnya rata sama sekali tidak ada mukanya. Tentu saja hal itu membuat Danu terkejut.


"Astaghfirullah, Mbak, wa-wajahnya kemana?"


"Hihihi ... wajah saya ada di sini, Mas. Tolong pasangkan dong!" ucapnya sambil membawa kulit wajah yang mengelupas serta penuh darah.


"Tidaaaak!"


.


.


BERSAMBUNG