
Dendam tidak bisa terhapus kecuali ada keikhlasan di dalam hati. Bagaimana pun Rani berusaha, ternyata dendam yang ada di dalam tubuhnya terus mengalir ke dalam setiap nadi dan darahnya.
"Tanganku, tubuhku ... semuanya berubah seperti ini!"
Rani memperhatikan jari tangannya yang kini tidak seputih dulu bahkan saat ini penuh dengan bulu-bulu hitam. Kuku-kuku yang sangat panjang dan runcing menghiasi tangannya. Matanya yang merah menyala mampu menembus kegelapan malam.
"Apakah aku bisa kembali ke dalam wujudku?"
Rani tidak bisa membayangkan keadaan wajahnya saat ini seperti apa. Terlebih saat ia merasa berubah, Rani juga sangat membenci cermin.
"Kenapa semua ini terjadi padaku? Apakah aku tidak bisa kembali?"
"Arghhh!"
Raungan kekecewaan terdengar menakutkan dan memekakkan telinga. Saat ini Rani berada di depan sebuah gua yang sangat gelap dan penuh dengan sarang laba-laba.
"Aku benci semuanya!"
Tangan Rani mencakar-cakar dinding gua. Bekas cakarannya sangat dalam dan membuat bebatuan itu berderit kencang dan melengking. Suara burung hantu menambah orang mencekam di sekeliling gua beruntung tidak ada orang yang bisa mendengar suara Rani.
Jika tidak, bisa dipastikan saat ini orang yang melihatnya akan lari terbirit-birit. Terlebih sosoknya sangat menyeramkan,bukan lagi seorang manusia, melainkan menjadi manusia setengah setan.
Dulu jiwanya bersih namun karena kedengkian yang mendalam, menjerumuskannya ke jalan yang salah. Rani rela menempuh jalan kelam untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesaat. Mengabaikan segala resiko yang ada demi memenuhi hasrat yang salah.
Ketika semua itu menjadi sia-sia, tidak ada yang ia dapatkan selain kesengsaraan. Justru
kematian ibu terjadi ketika ia menjadi setengah setan.
Tidak ada yang tahu jalan hidup seseorang. Namun Rani telah memilih jalan yang salah demi bisa meneruskan dendam di dalam hatinya.
Entah kematian seperti apa yang akan ia dapatkan setelah ini, karena hidup pun tak bisa mati pun juga tak bisa. Alam menentang perbuatan Rani.
Sang raja genderuwo yang mengaku bernama Jaka ketika menjelma menjadi manusia itu tersenyum ketika melihat Rani semakin tersiksa dengan wujudnya saat ini. Apalagi Rani sama sekali tidak pernah kembali ke dalam kerajaan miliknya.
"Andai saja kau mau kembali, sudah pasti aku akan membantumu untuk membalas dendam, Sayang."
"Apakah aku perlu membawa dia ke hadapan, Tuanku?"
"Tidak perlu, biarkan saja ia di sana dan berbuat sesuka hatinya. Aku tidak akan memaksa, tetapi aku setia menunggunya kembali."
"Baik, Tuanku."
"Awasi saja dia sama seperti biasanya, kalau ada apa-apa, katakanlah padaku!"
"Baik, Tuanku. Saya permisi."
Kekuatan yang ia miliki bisa digunakan untuk membantu mengubah wujud Rani menjadi manusia. Namun, ternyata Rani tidak kembali.
"Sampai kapanpun aku selalu menunggumu, istriku, ha ha ha ...."
Suara menggelegar itu memenuhi aula kerajaan. Beberapa bawahannya memberikan penghormatan sebelum sang raja kembali ke peraduan. Sampai saat ini, ia masih menunggu kedatangan istrinya itu.
Rani yang masih diliputi amarah segera menyelinap untuk mendatangi rumah Dita.
"Mulai malam ini aku akan mendatangi rumahmu, Dita."
Bayangan hitam itu menghilang di semak belukar dan pepohonan liar yang tumbuh di halaman belakang rumah Dita. Sesekali ia mengintip ke arah kamar Dita.
Pandangan Rani masih menyisir keseliling rumah Dita. Memastikan jika semuanya aman, baru ia akan menyelinap masuk ke kamar Dita. Rani tidak perlu melompat pagar karena ia bisa menembus dinding kamar Dita.
Sayangnya Dita hanya bisa melihat sekelebat bayangan yang tiba-tiba melintas dengan sangat cepat.
Untuk sejenak Dita terpaku di tempatnya. Meski takut, sesekali ia mengamati pergerakan bayangan yang tadi melintas hingga bayangan tadi sudah menghilang entah kemana.
Sesaat kemudian Dita bisa mencium bau busuk dan lebus, seperti bau umbi-umbian yang direbus. Dita bisa memastikan jika keadaan di sekelilingnya tidak aman.
"Heeemmm ... aneh, tapi membuat aku merinding."
"Sebenarnya siapa yang mengincarku? Kenapa bau-bau ini selalu muncul di malam hari? Hingga menghilang ketika pagi. Apa mereka terus berjaga di sekitar kamarku atau justru mereka sudah masuk ke dalam?"
Mata Dita menyisir ke sekelilingnya. Seketika bulu kuduknya meremang ketika bau itu semakin menyengat. Dita paham jika itu adalah bukti jika di sampingnya saat ini ada makhluk halus.
"Ya Allah, lindungilah hamba."
Dita hanya bisa berdoa agar makhluk itu segera pergi dari kamarnya dan tidak menyakiti. Namun, sepertinya doa yang dipanjatkan Dita tidak mampu mengusir kebencian di dalam hati Rani. Sehingga ia sama sekali tidak merasa panas ataupun terusik.
Srak ... Srak ... Srak ....
Suara dedaunan yang dipijak dengan sengaja membuat nyali Dita semakin menciut. Entah kenapa suasana hati Dita semakin tidak karuan. Ia memundurkan langkahnya hingga membentur sudut meja.
"Aduh!" pekik Dita memegangi punggungnya.
Selepas itu Dita semakin tersentak karena tiba-tiba saja jendela kamarnya membuka dan menutup sendiri seperti tertiup angin yang sangat kencang. Padahal jelas-jelas tidak ada angin yang masuk.
Dita semakin berjalan mundur, hingga tangannya memegang pinggiran tempat tidur. Namun, pandangan tetap mengarah ke jendela. Pandangannya menyapu seluruh ruangan.
Sejenak tidak ada yang aneh dengan kondisi ruangan itu. Hingga sorot matanya tertuju pada pintu yang seolah digedor-gedor dari luar.
Dug duh dug!
"Suara apa lagi ini?"
Sekelebat banyangan hitam dan mengeluarkan asap gelap semakin memenuhi ruangan kamar.
"Ya, Allah kenapa lagi ini?"
Tiba-tiba saja, mulut Dita seolah dibekap dari belakang. Ia kesusahan untuk berbicara ataupun bernafas.
Aroma anyir bercampur kotoran tercium dan sangat menyengat. Dita hampir mual karena menciumnya.
Hingga sebuah teriakan terdengar ditelinga Dita dengan sangat jelas.
"Bertahanlah, istriku. Aku akan tetap melindungimu."
"Apakah ini suara, Mas Bisma. Kalau iya, tolong aku, hiks."
Tubuh Dita semakin terangkat ke atas. Mengetahui hal itu Dita ketakutan, lalu dalam sekejap tubuh Dita dihempaskan ke atas ranjang.
"Arghhhh!"
Sebuah cairan kental berwarna merah keluar dari mulut Dita. Ia terbatuk-batuk untuk beberapa saat. Dita mengusap bibirnya lalu menatap ke atas. Sebuah erangan terdengar dari langit-langit di kamarnya.
Lalu beberapa saat kemudian terdengar suara benda terjatuh dengan sangat keras. Berulang kali hingga membuat Dita tidak habis pikir dengan kejadian yang terjadi saat ini.
Saat hendak melangkah, kaki Dita dipegang sosok tidak terlihat. Dita menoleh tetapi tidak ada seorang pun di sana. Dengan mengucap bismillah, Dita melanjutkan langkahnya hingga pintu yang semula terbuka, kini tertutup secara tiba-tiba.
"Kamu tidak akan bisa lolos dariku, Dita. Kamu harus membayar semua perbuatanmu kepadaku dengan nyawaku!"
"Tidak, aku tidak tahu kenapa kau menginginkan nyawaku, katakan kamu siapa?"
"Ha ha ha, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa melihatku, Anindita!"