
Terdengar sebuah suara yang membuat Dita bergirik ngeri. Entah mengapa ia merasa jika ada sesuatu hal yang sangat menakutkan kali ini.
Kedua matanya terus menyisir ke atas, sesekali ia bersiap untuk berlari. Namun, sebuah bisikan memberinya keberanian.
"Apakah kamu takut, wahai istriku?"
"Ini aku, janganlah kamu takut kepada kami?"
"Mas Wisnu, Mas Yudis, Mas Bisma, Mas Tito?"
Ke empat cahaya itu mendekati tubuh Dita. Dita bisa merasakan sentuhan lembut dari tangan Bisma. Ia menampakkan wujudnya terlebih dahulu. Memang dari keempat suaminya yang telah meninggal, hanya Bisma yang selalu datang dan melindungi Dita.
"Kamu kenapa? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Dek?"
Tidak berlangsung lama, aroma yang semula wangi kini berganti menjadi aroma lebus. Seketika Dita melihat pantulan dirinya di cermin rias.
Sosok hitam berbulu lebat itu memegang kedua tangan Dita. Sontak saja Dita langsung menghempaskan tangan Bisma.
"Kamu bukan Mas Bisma, katakan siapa kamu! Untuk apa kamu datang ke kamarku?"
Sosok hitam itu tersenyum menyeringai, masih dalam wujud Bisma ia justru semakin mendekati Dita. Dengan suara yang serak dan menggelegar, ia mulai berbicara.
"Kenapa kamu yakin jika aku bukan Bisma, aku adalah suami kamu, Dita. Percayalah kepadaku."
"Tidaaaak! Menjauhlah dariku!"
Dita semakin meronta ketika kedua tangan yang semula berwarna putih dan kekar itu berubah menjadi penuh bulu. Kedua matanya memerah, tatapan yang semula penuh kasih sayang telah berubah menjadi sebuah tatapan penuh na**u.
Sekuat apapun Dita meronta, kekuatannya tidak sebanding dengan apa yang dimiliki oleh makhluk tersebut. Dalam sekejap mata, Dita sudah berhasil diculik dari dalam Kediaman Handoko tanpa ada seorangpun yang curiga dengan hilangnya Dita.
Bahkan Mbok Nem yang biasanya selalu waspada, malam itu ia seolah terkena sirep. Hanya saja tidur Nyonya Sekar terlihat gelisah. Beberapa kali ia berguling ke kiri dan kanan dan meracau tidak jelas.
Dari keningnya mengalir buliran keringat dingin. Wajahnya melukiskan kegelisahan dan ketakutan di sana. Mungkin saja makhluk itu kembali mengganggunya di dalam mimpi.
Sementara itu Tuan Handoko sedang pergi ke luar kota. Dalam perjalanan bisnis kali ini ia tidak didampingi sang istri karena Nyonya Sekar beralasan ingin menemani putrinya.
"Kenapa perasaanku tidak tenang sama sekali? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
Tuan Handoko menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu lalang kendaraan di sisinya sama sekali tidak mengusiknya. Pikirannya berkecamuk, ada sebuah rasa yang menyuruhnya untuk pergi ke rumah teman lamanya, yaitu rumah Pak Kyai Saleh.
"Ada apa ini? Biasanya yang menyuruhku ke sana adalah Sekar, tetapi saat ini jika aku datang ke sana, apakah tidak apa-apa?"
Tuan Handoko memandangi suasana jalan. Ia melihat jika jalan yang ia lalui ini adalah jalan menuju kediaman beliau.
"Apakah ini bukanlah sebuah kebetulan? Daripada menerka-nerka, sebaiknya aku memang datang bersilaturahmi ke sana."
Dengan segera Tuan Handoko menginjak gas mobilnya dan meneruskan perjalannya ke Kediaman Pak Kyai Saleh.
"Bismillah, semoga kedatangan ke sana sedikit membuka celah untuk kegelapan yang sedang melingkupi keluargaku! Aamiin."
Perjalanan panjang kini ia lalui sendirian, tetapi ia tidak menyadari jika memang sedang terjadi sesuatu di kediaman miliknya. Dita diculik ke alam ghaib. Ia sengaja dipertemukan dengan sahabat lamanya yang telah menjadi sekutu baginya.
Sosok berbulu lebat berjenis perempuan itu tersenyum ketika suaminya benar-benar mengabulkan permintaannya.
"Wahai istriku, sesuai dengan permintaan darimu kini sudah aku bawakan sosok yang selama ini dekat denganmu, apakah kamu bahagia?"
"Ya, aku sangat bahagia, suamiku."
Tubuh tinggi besar itu mendekati Dita. Saat dibawa ke alam ghaib, tubuh Dita dibuat melemah hingga ia tertidur sehingga ia tidak akan bisa keluar dari alama ghaib dengan mudah.
Tubuhnya kini tergeletak di atas batu panjang, bagaikan sebuah hidangan yang siap untuk disantap. Sesekali jiwa manusianya mendominasi. Dengan tangan yang penuh bulu dan tubuh yang sangat susah dikenali ia berjongkok di dekat Dita.
"Hai, sahabat ... bagaimana kabarmu saat ini? Apakah kehidupanmu sudah sangat membaik?"
Sosok itu tersenyum menyeringai.
Namun, senyuman yang tadinya hangat kini berubah menjadi sebuah kebencian.
"Jahat! Wanita jahat! Itulah penggambaran yang cocok untukmu! Aku membencimu Anindita! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan kesalahanmu kepadaku!"
"Arghhhh! Aku sungguh membecimu!"
KRAK
Beberapa pohon di sekeliling Dita sampai patah ketika mendengar suara makhluk yang mengeleegar itu. Beberapa kaum dari kerajaan suaminya semakin menunduk patuh. Bersiap untuk menunggu perintah dari raja mereka.
Sosok menyeramkan yang berjenis laki-laki itu dan merupakan raja dari bangsa lelembut mendekati istrinya. Menepuk bahunya secara perlahan.
"Luapkanlah segala kebencianmu, setidaknya kesempatan itu tidak akan datang dua kali."
Ia menoleh lalu mengangguk. Mereka tidak menyadari jika Dita sudah siuman.
"Di-dimana aku?"
Kedua mata Dita hanya menyipit, agar mereka tidak menyadari jika ia sudah siuman. Dita sempat mendengar beberapa kali ucapan dari kedua makhluk menyeramkan tersebut.
Belum lagi suara-suara aneh yang mengelilinginya, membuat Dita sadar jika ini bukanlah kamar miliknya. Tangannya meraba alas tidurnya.
"Ba-batu?"
"Ya, Allah lindungilah hambamu ini ...." doa Dita di dalam hati.
"Ha ha ha ... rasakanlah amarahku, Dita!"
SRASH
Dita berkelit, ia berhasil menghindari serangan dari makhluk menyeramkan itu. Amarah sosok menyeramkan itu semakin bangkit.
"Rupanya kamu sudah siuman, baiklah maka aku tidak akan segan lagi menyerangmu, ha ha ha ...."
Gerakan secepat kilat itu berhasil membuat Dita tidak bisa mengimbanginya. Beberapa kali gerakannya tidak sepadan dengan gerakan makhluk itu.
Semakin lama menghindar, hal itu semakin menguras tenaga Dita. Hingga akhirnya ia pun terluka karena seragangannya.
SRASH
Kuku-kuku tajam nan panjang itu berhasil menggores beberapa bagian tubuh Dita. Cairan berwarna merah dan kental itu mengucur deras dari lengan Dita. Hal itu sukses membuat Dita meringis karena kesakitan.
"Bagaimana rasanya, nikmat sekali bukan?"
Tidak memberikan Dita waktu untuk istirahat. Sekali lagi ia menyerangnya kembali. Ia semakin membabi buta dalam menyerang Dita.
Langkah kaki Dita terseok-seok ketika ia dipaksa untuk menghadapi makhluk itu. Bagaimana ia bisa bergerak cepat sementara tubuhnya terluka.
Hingga sebuah serangan terakhir itu membuat Dita jatuh tersungkur. Punggungnya penuh cairan dari makhluk menyeramkan itu.
Bajunya sempat terkoya* karena serangan membabi buta tadi. Tubuh Dita sempoyongan ketika mencoba bangkit.
"Apakah ini akhir dari kehidupanku?"
Cairan kental berwarna merah itu kini mulai berubah menjadi hitam. Sepertinya cakaran makhluk tersebut bera-cun, hingga membuat Dita semakin banyak kehilangan kesadaran.
Di detik-detik terakhir kesadarannya, Dita melihat sosok yang menyerangnya tadi dalam wujud manusia.
"Ra-rani, benarkah itu kamu ...."
Tidak berlangsung lama, Dita kembali pingsan dengan tubuh penuh luka.