
Sesungguhnya tidak ada makhluk halus yang lebih hebat ditimbang manusia, karena kedudukan manusia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jin maupun iblis.
Setelah berhasil menyelesaikan pertarungan dirinya dengan sosok makhluk tersebut, kini Danu bisa bernafas lega.
"Jika aku sudah bisa menghabisi makhluk tersebut, setidaknya aku sudah siap untuk melindungi Dita. Namun saat ini aku tidak sedang dekat dengannya, kenapa makhluk itu mengincarku atau jangan-jangan ...."
Danu tampak menggantung kalimatnya sesaat kemudian ia sangat khawatir terhadap keadaan Dita. Danu teringat jika pelatihannya masih belum selesai.
Masih membutuhkan beberapa hari lagi untuk menyempurnakan ilmu kanuragan yang ia miliki saat ini. Setidaknya ia lebih kuat untuk menghadapi makhluk tersebut.
"Ada banyak hal yang harus aku pikirkan. Namun, Kakek juga belum juga kembali, aku tidak bisa meninggalkan tempat ini."
Angin berhembus dengan kencang, membuat dedaunan itu menyibak. Sesekali harum bunga melati harum semerbak memenuhi indera penciuman milik Danu.
"Assalamualaikum ...."
"Wa'alaikumsalam ...."
"Sedang menunggu siapa, Nak?"
Danu tersenyum ke arah leluhurnya.
"Tentu saja untuk menunggu kedatangan Mbah."
"Oh, jadi begitu? Kebetulan Mbah ingin menguji ilmu kanuragan yang kamu miliki?"
"Boleh, kok!"
"Baiklah ikutlah denganku untuk kembali ke gubuk!"
Tanpa bertanya lebih banyak, Danu segera mengikuti langkah kaki leluhurnya tersebut.
Gemericik air beradu dengan bebatuan sungai terdengar indah di telinga Danu. Sosok leluhur Danu memintanya untuk mendekat.
"Kemarilah!"
"Ba-baik, Mbah."
"Masuklah ke dalam air sungai itu, lalu setelah beberapa saat barulah kamu keluar dari sana. Apa kamu sanggup?"
Danu terdiam untuk sesaat. Seolah sedang memikirkan sesuatu. Dilema antara dua pilihan, apakah ia akan mengambil penawaran itu atau tidak.
Sementara itu Nyonya Sekar sedang ingin mengunjungi suaminya di ruang baca. Matahari sudah tenggelam di ufuk barat.
Suasana sore itu terlihat lain dari biasanya. Rona merah yang terlihat di ufuk barat mengisyaratkan jika senja itu memang sedikit mencekam.
Saat Nyonya Sekar lewat sebuah kamar, sorot matanya sekilas melihat sekelebat bayangan hitam bergerak-gerak. Letak kamar itu sangat dekat dengan kamar Dita.
Rasa penasaran membuatnya mengintip dari balik celah pintu yang sedikit terbuka. Bulu hitam itu bergerak-gerak di sana. Merasa jika indera penciuman miliknya mencium bau ketela rebus membuat langkah kaki Nyonya Sekar beringsut mundur.
"Ma-makhluk apa itu?"
Mbok Nem kebetulan ingin mengantarkan teh jahe ke ruang baca melihat Nyonya Sekar ketakutan.
"Ada apa Nyonya? Kenapa Anda berdiam diri di situ?"
Nyonya Sekar yang merasa jika dirinya dipanggil segera menoleh, "I-itu Mbok, ada sesuatu di sana!"
Jari telunjuknya mengarah ke sebuah kamar di samping kamar Dita. Tentu saja Mbok Nem penasaran dengan hal itu.
"Memangnya ada apa, Nyonya?"
"A-ada setan di sana! Aku melihatnya sendiri, Mbok!"
Suara Nyonya Sekar sampai bergetar diikuti dengan tubuhnya yang gemetaran.
"Biar, Mbok lihat ke sana!"
Mbok Nem yang mempunyai indera keenam segera mendekati kamar itu. Perasaannya mengatakan jika di sana ada sosok genderuwo.
"Mau apa dia di sana?"
Sayang sekali, saat Mbok Nem mendekati kamar itu, sosok yang tadi berada di sana sudah menghilang.
"Sialan, untuk apa makhluk itu datang kemari, kenapa firasatku mengatakan ada hal yang tidak baik?"
Seketika Mbok Nem mendekati kamar Dita untuk melihat keadaannya. Sayang, sudah tidak ada apapun di sana.
"Sebenarnya sosok makhluk apa yang sering menganggu Den Ayu? Kenapa ia tidak pernah pergi dan justru membuat kehidupan keluarga ini tidak tenang."
"Aku harus menyelidiki hal ini secepatnya, apalagi hari pernikahan Den Ayu semakin cepat."