
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Dita keluar dari dalam kamarnya. Wajahnya tetap cantik seperti biasa, hanya saja yang berbeda adalah riasan pengantin yang kini ia kenakan.
Sesuai dengan permintaan dari Dita, pernikahan kali ini hanya disaksikan oleh keluarga dekat saja. Pihak keluarga Tito dan juga kerabat dekat Dita menjadi saksi pernikahan Dita yang ke-empat ini.
Bayangan tentang ke-ma-ti-an ketiga suaminya terdahulu membuat Dita terlihat pucat. Keringat dingin mengalir di sela-sela punggungnya. Membuat Dita merasa sangat tidak nyaman.
"Nak, persiapkan dirimu, sebentar lagi kamu akan menikah dengan lelaki pilihanmu, Ibu berharap jika nanti kalian bahagia."
"Aamiin."
Tangan Nyonya Sekar dipegang erat-erat oleh Dita, ditatapnya sang ibu dengan perasaan yang bercampur aduk. Satu tahun sudah ia menjadi janda kini sebentar lagi status tersebut akan berganti sebagai istri Hastito Setiawan.
"Tenanglah, Ibu akan selalu mendoakan semua kebaikanmu."
"Terima kasih, Ibu."
Nyonya Sekar mengecup kening putrinya lalu menggandengnya keluar untuk menuju meja tempat berlangsungnya acar ijab kabul.
Dengan berbalut pakaian pengantin berwarna senada, putih susu, Dita dan Tito tampak serasi. Keduanya kini sudah duduk di hadapan penghulu untuk mengucap janji sehidup semati.
Meskipun ini merupakan pernikahan ke empat, tetapi rasa grogi tetap menghantui Dita. Perasaan bahagia terlihat jelas di wajah Tito. Ia sama sekali tidak takut akan ke-ma-ti-an, karena meskipun ia ma-ti setidaknya ia sudah menikah dengan Dita.
"Bagaimana Saudara Tito? Apakah sudah siap?"
Tito mengangguk. Kini Tito sudah berjabat tangan dengan Tuan Handoko.
"Saudara Hastito Setiawan bin Abimanyu Alexander saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Anindita Puspa Ayu Batari dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat dan cincin seberat lima gram dibayar tunai.
Hastito langsung mengucap lafal kabul dengan satu kali tarikan nafas.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Anindita Puspa Ayu Batari binti Handoko dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Sah, sah, sah!"
"Alhamdulillah."
Kini semuanya larut dalam kebahagian akan tetapi hal itu tidak bisa dirasakan oleh Fano yang hadir di antara beberapa tamu undangan.
"Dita, aku pastikan kamu setelah ini akan menikah denganku setelah aku pastikan suamimu ma-ti!" ucap Fano penuh amarah.
Jika bukan karena Nyonya Kirana berhasil memadamkan api cemburu yang berada di dalam tubuh Fano, sudah pasti hari ini di tempat pernikahan Dita dan Tito akan terjadi kerusuhan.
Kini kedua mempelai sedang mendapatkan semua ucapan dan doa dari para keluarga. Tatapan Dita terhenti ketika Fano semakin mendekatinya.
"Selamat untuk pernikahan kalian," ucap Fano dengan nada datar.
"Terima kasih," ucap Tito dengan sangat bahagia.
Salah satu tangannya mengait tangan Dita, sehingga terlihat mereka tidak terpisahkan satu sama lain.
"Apa kamu bahagia?" tanya Tito pada Dita.
"Alhamdulilah bahagia."
"Bolehkan aku mengecup keningmu?"
Meski malu-malu Dita mengangguk. Setelah berhasil mengecup kening Dita, Tito membisikkan sesuatu.
"Jika nanti aku menunjukkan kebenaran tentangku aku harap kamu tidak akan menyesal telah menikah denganku."
"Apa itu?"
"Nanti malam aku akan memberi tahumu sebuah rahasia besar, akan tetapi aku akan selalu berada di sisimu, aku berjanji."
Dita mengangguk, apapun ucapan suaminya ia menerima dengan lapang dada. Cinta terhadap Tito begitu besar karena ternyata ia adalah cinta pertama dari seorang Anindita.
BERSAMBUNG
......................
sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini
Antonie adalah pemulung yang mati akibat ulah Sonya, putri pemilik Rumah Sakit Harapan Kita.
Setelah kematiannya, Antoni bertemu dengan seseorang pria tua yang ramah. Awalnya Antonie tidak tahu jika dirinya telah mati, namun setelah obrolan dengan pria tua itu, Antonie tahu jika telah mati.
Pria tua itu bisa menghidupkan si Antoni, asal ada syaratnya, yaitu, merubah dunia kedokteran yang sudah rusak karena keserakahan....