Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 114. TEROR


Seorang wanita yang sudah lama menunggu Dita kini menunjukkan wajahnya. Sosok wanita berpakaian Jawa itu seolah sedang menanti sesuatu di sana. Sudah beberapa kali ia sering menampakkan dirinya. Namun, hanya Dita yang bisa melihat wajah sosok wanita tua tersebut.


"Apa aku memiliki koneksi dengan wanita itu?" gumam Dita dalam diamnya.


Dalam pandangan Dita, wanita itu masih terlihat cantik meskipun usianya tidak lagi muda. Bersama hembusan angin malam terdengar lagu Jawa yang mengalun indah. Menemani kesunyian malam, yang semakin lama terasa semakin mencekam. Apalagi diiringi dengan kicauan burung hantu yang tidak berhenti sepanjang malam.


Namun, rupanya Dita masih asyik berdiri di samping jendela kamar dan melihat ke arah gazebo itu. Ternyata kidung Jawa yang dinyanyikan wanita tua itu semakin membuat Dita bermimpi yang lebih dalam.


Padahal pada kenyataannya, saat ini Dita sedang berada di dalam mobil Fano dalam perjalanan pulang ke Kediaman Rumah Handoko. Namun, sepertinya Dita berada di dalam dimensi lain.


"Kira-kira di mana rumah Anindita, ya?" gumam Fano yang sedang mengantarkan Dita untuk kembali ke rumah.


Fano merasa kebingungan karena ia belum bisa menemukan rumah Dita, padahal ia sudah lama berkendara. Kedua karyawan Dita, Lusi dan Nurul juga belum pernah mendatangi rumah Dita, sehingga mereka tidak bisa memberikan infomasi apapun.


"Apa kalian mengetahui rumah Dita?" tanya Fano pada Lusi.


"Maaf, Kak aku belum pernah berkunjung ke rumah Mbak Dita."


Fano mendengus kesal. Akhirnya Fano hanya mengandalkan intuisi yang ia punya. Semakin lama Fano mengendari mobilnya, jalannya semakin masuk ke dalam sebuah hutan yang tidak berujung.


"Kenapa jalan di hutan ini tidak berujung?" ucap Fano sambil terus mengamati jalan di hadapannya yang semakin lama semakin gelap.


"Kayaknya, sedari tadi hanya berputar-putar di sini saja," ucap Nurul menambahkan.


Fano mulai jengah karena sudah satu jam yang lalu ia belum bisa keluar dari hutan yang di lewati barusan. Terpaksa ia menghentikan laju kendaraannya karena perasaannya tidak nyaman.


"Kita berhenti dulu di sini, nanti sambil nunggu kendaraan lain lewat, siapa tahu mereka bisa membimbing kita keluar dari sini."


"Iya, Kak."


Fano mengingat dengan jelas jika jalan yang ia ambil itu benar, hanya saja malam ini terasa sangat lain. Dari balik pohon ada sesuatu yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Bulu kuduk Fano meremang, ketika ia baru saja membuka pintu mobilnya. Memastikan penglihatannya tidak salah, Fano memicingkan kedua matanya, menyisir ke sekelilingnya. Hasilnya sama saja. Sejauh mata memandang hanya terlihat rimbunnya dedaunan dan ranting pohon.


Tidak lama, semilir angin yang dingin cukup keras berhembus, mempermainkan rambut dan wajahnya. Terdengar suara dedaunan yang saling bergesekan satu sama lain. Perasaan Fano semakin tidak tenang saat itu. Sesekali ia mengusap tengkuk dan lehernya secara berulang.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Nurul dan Lisa. Mereka pun hanya bisa berdoa dan membaca ayat kursi.


Merasa lokasi itu tidak aman, Fano ingin masuk mobil saja. Saat Fano memasuki mobil kembali, seolah dari belakangnya tadi ada sebuah mobil kencang yang hampir saja menyerempet tubuhnya.


"Awassss!" teriak Lusi spontan.


Bagaimana mereka tidak terkejut ketika melihat sebuah mobil yang melaju kencang dari arah belakang.


"Beruntung gue dah masuk, coba aja tadi masih di luar. Bisa-bisa malah gue yang koit duluan."


Fano mengelus dadanya untuk menormalkan deru nafasnya. Tiba-tiba saja dari kaca spion kursi kemudi, terlihat ada sosok yang sedang duduk di kursi belakang. Sontak saja Fano menoleh.


"Si-siapa kamu?" ucapnya dengan tergagap.


"Ini aku, hi hi hi ... Apa kau melupakanku, Nak?"


Tentu saja Nurul dan Lusi saling memandang satu sama lain. Mereka bingung dengan sosok yang dimaksud oleh Fano.


"Kak Fano lihat apa?" bisik Lusi pada Nurul.


Masih belum menjawab pertanyaan dari mereka, Fano justru melajukan mobilnya cepat.


Udara yang mengalir di dalam mobil terasa sangat dingin. Lebih dingin daripada AC yang biasa ia nyalakan ketika di dalam mobil. Niat hati ingin segera menyusul mobil yang hampir menabraknya tadi, kini ia justru terjebak bersama seorang nenek-nenek.


"Aku hanya ingin nyawamu, Nak. Apa kau bisa menerima penawaran dariku?"


Glek.


Fano menelan salinya dengan susah. Bagaimana bisa seorang nenek meminta nyawanya secara percuma.


"Kenapa aku harus menerima penawaran darimu, sedangkan kita sama sekali belum pernah bertemu satu sama lain," ucap Fano memberanikan diri."


Sosok wanita tidak berambut putih panjang semata kaki itu tampak sibuk menyisir rambutnya. Namun, wajahnya tertutup seluruh rambut hingga Fano tidak bisa mengenali sosok wanita tua itu.


"Apakah nenek punya dendam kepadaku? Tapi apa salahku?"


Bukannya menjawab, nenek itu justru tertawa dengan nada melengking tajam. Membuat siapapun yang mendengarnya akan lari tunggang langgang. Namun, hal itu tidak terjadi dengan Fano.


"Kamu anak muda tidak tahu apa-apa, tetapi bau da-rahmu sangat menggodaku. Apakah aku tidak bisa memintanya? Padahal aku sudah ingin merasakan kelezatannya?" ucapnya disertai nyawa yang melengking tajam.


Lagi dan lagi Fano tampak tidak gentar. Keinginan tahuannya membuat Fano tidak takut untuk berkomunikasi dengannya. Semakin lama Fano melanjutkan perdebatan mereka hasilnya sama saja.


Fisik Fano semakin melemah, rasanya aura yang berada di tubuhnya semakin tersedot oleh nenek tua itu. Sayang, Fano tidak menyadari hal itu.


"Sudahlah, Nek. Jangan berdebat denganku soal ini, lagi pula aku sedang buru-buru, apakah kau tidak bisa segera pergi meninggalkan aku?"


"Anak muda, memangnya kenapa kalau aku tidak mau pergi, kamu saja belum memenuhi permintaan dariku, hi hi hi ...."


"Astaga ...."


Kedua mata Fano sudah dipenuhi lingkaran hitam. Terlihat bola matanya semakin sayu. Sementara itu tubuh Fano seolah semakin terasa kaku untuk digerakkan.


"Bagaimana Fano, apakah kamu benar-benar tidak bisa memenuhi permintaan ringan dariku?"


Fano menggeleng.


"Apa kau tidak ingin melihat wajahku?"


Sekali lagi Fano menggeleng.


"Baiklah, kalau begitu maka aku yang akan berjalan ke depan agar kau bisa puas memandangiku."


Fano yang sudah kesulitan bernafas hanya bisa terdiam di kursi kemudi. Benar saja, sesaat kemudian sosok itu duduk dipangkuannya. Persis duduk berhadapan dengannya dengan jarak kurang dari satu jengkal tangan.


Hembusan nafasnya bisa Fano rasakan, namun wajahnya masih tertutup rambut putihnya. Entah angin datang dari mana, gelombang angin yang sangat kencang menghantam mobil Fano hingga membuat rambut yang semula menutupi wajahnya kini mulai bergeser ke samping dan terlihat sosok makhluk wanita tua tersebut tersenyum manis ke arahnya.


"Bagaimana ... Aku cantik, bukan?" ucapnya sambil cekikikan.


"Di-Ditaaaa ...." ucapnya dengan nafas tercekat.


Sementara itu wanita tua tertawa cekikikan dan semakin lama terdengar semakin melengking tajam. Lusi dan Nurul yang satu mobil dengan Fano kebingungan karena Fano tidak kunjung menjalankan mobilnya. Padahal ia tadi berniat untuk segera pergi.


Apakah yang sebenarnya terjadi? Kenapa hanya Fano yang bisa melihat penampakan nenek itu?


.


.


BERSAMBUNG