
Seberapa keras Nyonya Kirana menasehati Fano, hasilnya sama saja. Iya tetap berkeinginan untuk memperi istri Dita. Begitu pula dengan Yuli. Dia hanya bisa membantu dengan membentengi diri Fano. Itu pun harus melalui sebuah ritual. Namun, Yuli enggan untuk mengatakan secara langsung kepada Nyonya Kirana Kirana karena takut menyinggung perasaan kakaknya yang sedang sensitif tersebut.
"Apapun yang kalian katakan kepadaku, tidak akan pernah merubah keputusanku. Jauh sebelum kalian mengetahui hal ini, aku sudah mempelajari semuanya. Aku yakin keputusanku kali ini sudah bulat."
Fano berkonsentrasi penuh dengan situasi jalanan di depannya, ia sama sekali tidak sadar jika waktu itu sudah memasuki waktu senja. Sebuah waktu yang rawan untuk keluar rumah dan juga sangat berbahaya ketika Fano harus mendatangi rumah Dita.
Sementara itu di rumah Dita kondisinya belum juga membaik. Serangan yang dilakukan oleh Rani tadi malam rupanya benar-benar melukai Dita. Meskipun Rani terluka ia sangat bahagia karena berhasil menyerang Dita.
"Bagaimana rasanya kesakitan dan berada diantara dua alam, hidup tidak bisa mati pun enggan, ha ha ha ...."
Raja Genderuwo itu tersenyum karena ia masih bisa menyelamatkan Rani meskipun ia harus mengorbankan beberapa prajuritnya. Namun, itu sudah cukup membuat senyuman Rani mengembang.
"Tidak berapa lama lagi kamu akan kembali kepadaku, wahai istriku!" ucapnya sambil menyeringai.
Harum tubuh Rani sangat menggoda baginya, terlebih Rani belum pernah tersentuh oleh lelaki, sehingga sekali saja penyatuan dengannya maka akan lahir calon penerus yang sangat kuat di alam jin.
"Aku sangat ingin segera menyatu denganmu, tetapi untuk itu aku akan bersabar dengan hal ini."
Kebahagiaan dari sang raja membawa efek yang baik untuk dirinya dan para kaumnya. Bagaimana pun ia sangat menantikan hari itu tiba.
Flash Back On
Semalam, Danu sudah bertemu dengan teman-temannya. Ia sangat bersyukur karena mereka memberikan support yang penuh pada Danu. Agar tetap berjuang mendapatkan cinta sejati.
"Ingat Danu kita hanyalah seorang manusia biasa. Tidak ada yang salah jika kita mencintai seseorang, tetapi kita harus mempersiapkan masa depan yang matang untuk berjaga-jaga akan hal yang tidak pernah kita dapat prediksi."
"Kamu 'kan tahu kalau wanita yang kamu cintai itu istimewa seharusnya kamu mempersiapkan segalanya sebelum kamu benar-benar mendekatinya."
"Apalagi hidup tidak ada yang tahu, kita bisa saja mati setiap saat, tetapi apakah kita bisa menjamin jika istri kita akan bisa hidup bahagia tanpa kita."
"Masa iya kita meninggalkan kehidupan yang susah padanya. Jangan sampai kita menyesal pada saat kita sudah meninggal kita belum bisa membahagiakannya, betul nggak?"
"Betul banget, Bro."
Takdir adalah sebuah misteri sebagai manusia biasa kita tidak dapat memprediksi Apa yang akan terjadi kedepannya sehingga kita harus mempersiapkan diri dan materi agar kedepannya berjalan lancar setidaknya jika kita pergi terlebih dahulu istri atau keluarga kita tidak akan kesusahan pada akhirnya.
Beberapa pesan yang disampaikan teman-teman Danu kepadanya setidaknya mereka tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap Danu.
"Makasih ya, Bro. kalian sudah ngebantu aku banget malam ini."
Danu sesak nafas. Bahkan, selama perjalanan pulang ke rumah harum bunga kamboja itu sama sekali tidak berkurang justru hal itu membuat tengkuk Danu seketika meremang.
"Makhluk jenis apa yang sebenarnya sedang mengikutiku saat ini?"
"Jangan sampai ada sosok makhluk lain yang mengikutiku, aku belum sepenuhnya pulih, bagaimana ini?"
Terlihat jika Danu sangat khawatir. Hal itu bisa terbaca oleh makhluk yang duduk di sampingnya. Sesekali makhluk itu tertawa menyeringai, namun Danu tidak bisa merasakan kehadirannya yang begitu dekat.
Sosok genderuwo wanita itu tetap mengikuti Danu bermula ketika pertemuannya dari lereng gunung. Saat itu Danu kecelakaan dan masuk jurang. Ketika bersama Danu, sosok itu mewujudkan dirinya menyerupai wanita tua.
"Sampai kapanpun, kamu tidak akan bisa lepas dariku, wahai manusia," ucap makhluk itu menyeringai.
Sejak awal bertemu Danu, makhluk itu sudah mengenali bau tubuhnya. Ada sebuah rasa yang tidak bisa digambarkan dengan logika. Meskipun tubuhnya telah ditutupi dengan minyak wangi, makhluk itu tidak akan pernah bisa dibohongi dan selalu bisa menemukan keberadaan Danu.
"Sesuatu yang bisa memutus mata rantai itu adalah dengan melakukan pembersihan jiwa atau ruqyah."
Lama kelamaan aroma makhluk ini terasa sangat lain, aroma yang menguar dari makhluk tersebut menyerupai wangi bunga Kamboja bercampur bau lebus seperti sayuran yang direbus.
Seketika Danu menoleh ke arah sampingnya. Samar-samar terlihat bayangan hitam itu semakin terlihat jelas dan menatap dirinya. Sontak saja Danu menginjak rem mobilnya.
"Astaghfirullah."
Danu lalu membaca Ayat Kursi dan Surat An-Nas. Suasana yang tadinya menyeramkan kini telah berubah menjadi lebih nyaman.
"Alhamdulillah."
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Danu bergegas menginjak gas mobilnya sehingga mobil itu segera melaju kembali ke Rumah kedua orang tua Danu. Tepat pukul jam 12.00 malam Danu tiba di rumahnya.
Suasana rumah Danu juga terasa sangat lain ketika ia tiba. Merasa jika rumahnya terasa singup membuat Danu beroda kembali. Setelah merasa tenang, Danu membuka mata dan mengusap salam ketika masuk rumah.
"Assalamu'alaikum."
Meskipun samar, Danu masih bisa mendengar jika ada orang yang menjawab salamnya.
"Wa'alaikumsalam, masuklah, Nak."