Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 73. DANU DAN DITA


FLASH BACK ON


"Hei jangan lari-lari," ucap seorang anak laki-laki mengejar anak perempuan dengan memakai rok princess berwarna merah maroon.


Anak perempuan itu menoleh ke arahnya.


"Cantik!" gumam anak laki-laki itu.


Sementara itu anak perempuan berwajah manis dan imut itu tersenyum manis ke arah anak laki-laki di hadapannya.


"Hai, aku Danu," ucap anak laki-laki itu.


"Aku Dita."


Dita kecil tersenyum senang ketika ia mendapatkan teman baru di desa. Sebuah tempat baru yang sebenarnya ia tidak suka tinggal di sana karena Dita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru lagi. Akan tetapi kedatangan Danu membuat Dita seolah memiliki nafas baru.


"Kamu tinggal di mana?"


"Tinggal di depan gang sana dekat perkebunan teh."


"Yeay, kita sejalan. Rumah kita dekat."


Sejak pertemuan itu Dita dan Danu sudah menjadi teman. Mereka bagaikan sepasang kakak adik. Saat itu Nyonya Sekar belum seperti saat ini, begitu pula dengan Tuan Handoko.


"Bagaimana kalau kita membuat janji," ucap Danu sambil memandang Dita kecil.


"Janji apa?"


"Bagaimana jika besar nanti kita akan tetap berteman dan hidup bersama."


"Boleh," ucap Dita tanpa ragu.


Bulu mata Dita yang lentik bergerak naik turun terkena hembusan angin sore. Membuat Danu terkikik akan hal itu.


"Terima kasih."


Dita dan Danu bahkan membuat gelang persahabatan. Saat mereka hendak berjalan menuruni bukit, kedua mata Tuan Handoko terlihat sangat tidak bersahabat.


Ia mendatangi Dita dengan langkah besar lalu menarik tangannya dan menggendong paksa Dita.


"Kamu jangan pernah sekali-kali berniat untuk berdekatan dengan Dita, paham!"


Kesedihan Dita semakin berlanjut ketika pagi harinya, Keluarga Handoko pindah rumah. Perselisihan dengan keluarga Pak Raden berimbas pada hubungan Dita dan Danu.


Belum lagi, tender yang berhasil direbut oleh Keluarga Raden semakin membuat kebencian di dalam hati Tuan Handoko semakin bertambah.


"Pak, apa kita nggak sebaiknya pamit sama Keluarga Pak Raden?" tanya Nyonya Sekar pada suaminya.


"Memangnya kenapa kalau Bapak nggak mau pamit! Ada masalah denganmu!"


Nyonya Sekar yang hendak membuat ketegangan di dalam mobil akhirnya malah membuat mereka bertiga semakin dalam keadaan tegang.


Sejak saat itu Danu dan Dita terpisah.


FLASH BACK OFF


.


.


Danu yang mulai pulih entah kenapa tiba-tiba teringat sahabat masa kecilnya setelah memegang gelang yang ia temukan di kolong tempat tidurnya. Matanya menerawang jauh ke depan sana, mengamati indahnya hamparan perkebunan teh.


"Apakah aku harus memastikan jika Dita yang aku temui kemarin adalah Dita yang saat kecil berteman denganku?"


Lamunan Danu ambyar ketika Nenek Romlah datang menghampirinya dengan sebuah nampan berisi dua cangkir teh hangat beserta singkong rebus sebagai camilannya.


"Sedang melamunkan apa?"


"Nenek, ada deh mau tau aja!" canda Danu menanggapi ucapan neneknya.


"Ya sudah kalau tidak mau memberi tahu juga tidak apa-apa!" ucap Nenek seolah marah.


Sementara itu Danu mengalihkan pembicaraan agar neneknya semakin tidak curiga kepadanya. Meskipun pada kenyataannya Nenek Romlah bisa mengetahui hal tersebut.


"Bagaimana luka Nenek, sudah sembuh?"


"Halah, luka begini saja apa yang perlu dikhawatirkan, yang penting kamu selamat itu jauh lebih penting dari segalanya."


"Terima kasih, Nenek sayang," ucap Danu sambil memeluk erat neneknya.